Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
82. Terusir



Semua tamu undangan langsung terdiam setelah mendengar perkataan Ningsih.


Apakah mereka salah melihat sesuatu?


Ataukah sedang berhalusinasi?


Seorang Ratu keajaiban bisnis sedang berbicara kepada Maya dengan begitu sopan. Bahkan para tokoh penting tidak memenuhi syarat untuk berbicara dengan Ningsih. Jadi bagaimana dia bisa memperlakukan Maya dengan begitu sopan.


Identitas apa yang di miliki Maya!


Sayangnya, seberapa banyak semua orang memikirkannya. Mereka tidak mungkin menemukan jawabannya. Bahkan Maya sendiri kesulitan untuk memahami semuanya.


"Nyonya Ningsih, apakah anda salah mengenali seseorang?..." Tanya Maya dengan gugup. Hati kecilnya tidak sanggup menahan kejutan yang begitu luar biasa. Dia bahkan tidak menyangka jika dirinya dapat berbicara secara langsung dengan Ratu Keajaiban Bisnis.


"Hehe, mengapa kamu bertanya seperti itu? Aku sedang berbicara dengan Maya! Apakah kamu bukan Maya?..." Ningsih terkekeh lembut dan begitu mempesona ketika bertanya.


Karena malu, Maya menundukkan kepala kemudian berkata, "Maaf Nyonya Ningsih. Hanya saja aku tidak tahu mengapa kamu menyuruhku untuk pindah..."


"Oh! Apakah kamu tidak ingin duduk di kelas VVIP?..." Tanya Ningsih dengan bingung.


"Tidak seperti itu..." Maya kesulitan untuk melanjutkan perkataannya. Dia akan berbohong jika tidak gugup. Wanita cantik di depannya adalah seseorang yang telah dirinya idolakan di bidang bisnis, tentunya suasana hatinya tidak menentu ketika berbicara dengan idolanya.


Samon dan Santika hanya bisa berdiri di sana dengan malu. Sangat jelas jika Ningsih dengan sengaja mengabaikannya dan memilih untuk berbicara dan mengundang Maya. Hal ini menunjukkan jika Maya lebih spesial dibandingkan dengan keduanya.


Tidak mungkin keduanya menerima begitu saja ketika diperlukan seperti itu. Santika bergerak lebih dulu dan berkata, "Nyonya Ningsih, anda mungkin salah mengenali seseorang. Mereka ini tamu tidak penting dan telah membuat masalah..."


Samon menyetujui perkataan Santika, dia kembali tenang dan berkata, "Itu benar, tolong lihat lagi dengan baik. Keduanya lebih buruk dari kami Nyonya Ningsih..."


Tatapan Ningsih berangsur - angsur menjadi dingin. Dia sudah begitu baik tidak langsung mengusir Samon dan Santika. Siapa sangka keduanya berani berkata seperti itu terhadap dirinya.


"Jadi, kalian pikir aku buta! Iya seperti itu?..." Tanya Ningsih dengan dingin.


"Tidak, tidak nyonya Ningsih kami tidak bermaksud seperti itu..." Keduanya langsung berkata secara serentak.


Ningsih mengangkat tangannya untuk menghentikan tindakan keduanya. Kemudian berkata, "Apakah kalian pikir aku tidak tahu, tentang rencana kalian yang ingin mengusirnya. Aku memiliki mata untuk melihat semuanya dan kalian akan menerima konsekuensinya..."


Segera suasana aula pertemuan menjadi begitu menegangkan. Ini pertama kalinya mereka melihat Ningsih yang begitu mendominasi. Bahkan Samon dan Santika hanya bisa diam dan ketakutan.


Ningsih dengan datar melihat sekelilingnya. Dia memelihara ratusan tamu undangan yang memiliki status yang tidak biasa. Segera dia berkata dengan aura mengagumkan, "Untuk semua tamu undangan yang ada di sini. Siapapun yang masih memiliki kerja sama dengan dengan perusahaannya, maka Angkasa Grup akan membatalkan kontrak kerja sama dengan kalian...."


Kata - kata Ningsih begitu lembut dan menyejukkan namun menyimpan maksud tersembunyi. Dia memberikan pilihan terhadap mereka untuk memilih antara kerjasama dengan Angksa Grup ataukah ingin ikut dengan Samon untuk meninggalkan acara pertemuan akbar.


Sayangnya tidak ada dari mereka yang bodoh. Jika harus memilih, maka mereka tidak akan segan untuk lepas dari perusahaan yang ada di belakang Sanon dan lebih memilih untuk melakukan kerja sama dengan Angkasa Grup.


Segera semua tokoh penting yang sebelumnya memiliki kerjasama dengan perusahaan di belakang Samon langsung mengeluarkan ponsel mereka masing - masing.


"Tolong, batalkan semua kontrak yang sudah di sepakati..."


"Aku tidak ingin tahu, yang jelas batalkan semuanya..."


"Ya, batalkan semuanya. Jika tidak, dan masih ada kontrak yang tersisa. Kalian akan mendapatkan pemotongan gaji..."


Melihat Semua koneksinya langsung meninggalkan dirinya. Membuat Samon memiliki firasat buruk. Segera dia melihat layar ponsel miliknya sendiri.


Mary mengangguk dan langsung mengeluarkan ponselnya untuk memberikan perintah kepada banyaknya manajer bisnis yang melakukan kerja sama dengan Samon.


Hari ini akan tercatat dalam sejara, perusahaan yang ada di belakang Samon, Telah benar - benar ditakdirkan untuk bangkrut.


"Kling!... Kling!... Kling!... Kling!..."


Tepat ketika Samon melihat pesan masuk di ponselnya, ratusan pesan dari banyaknya pebisnis telan membatalkannya kontrak kerja sama mereka. Semakin dia melihatnya, makin membuatnya berkeringat dingin.


"Sayang! Kamu baik - baik saja?..." Santika bertanya dengan cemas. Dia begitu khawatir ketika melihat tatapan kosong dari Samon.


"Berakhir, semuanya berakhir, perusahaanku bangkrut..." Samon tertekan dan marah. Dia memiliki aset perusahaan hingga puluhan miliyar. Namun sekarang, hanya dalam beberapa menit saja, harga saham perusahaan miliknya menurun secara signifikan.


"Tidak mungkin, sayang kamu jangan bercanda seperti itu kepadaku..." Santika masih tidak percaya, namun Samon tidak terlihat bercanda sama sekali.


Hanya saja, jika kekasihnya benar - benar menjadi bangkrut, maka Santika harus siap menjalani kehidupan yang di penuhi kemiskinan dan keterpurukan. Dia menjadi panik dan ketakutan, dia bertanya - tanya mengapa semuanya menjadi seperti ini.


Mengapa Ratu keajaiban bisnis membuat kekasihnya bangkrut hanya karena dirinya ingin mengusir Maya dan Fatir. Santika tanpa sadar menatap Fatir yang diam, kemudian dia masih mengingat perkataannya yang dapat membuat perusahaan kekasihnya mengalami kebangkrutan.


Segera Santika menjadi sangat cemburu dan kesal. Jelas identitas Fatir lebih baik dari kekasihnya, mungkin Fatir memiliki hubungan dengan Ratu keajaiban bisnis.


Melihat jika Maya sekali lagi menang dan lebih unggul dari dirinya, Santika hanya bisa malu dan frustasi di hatinya. Sayangnya tidak ada obat penyesalan di dunia ini.


Suara Samon yang marah membuat Santika ketakutan, "Sialan, ini semuanya karena kamu. Andaikan aku tidak mengikuti saran darimu. Perusahaan milikku tidak akan bangkrut seperti ini..."


"Aku..." Santika hanya tergagap.


Samon langsung berlutut sambil menarik Santika. Segera keduanya kini berlutut di depan Ningsih dengan tatapan memohon. Setidaknya mereka harus melakukan apapun agar perusahaan miliknya tidak mengalami kebangkrutan.


"Nyonya Ningsih, tolong berbelas kasihan kepada kami, kami tidak akan melakukan kesalahan yang kedua kalinya..." Seolah kehilangan rasa malu dan ingin perusahaan miliknya kembali ke kondisi lama, Samon berniat untuk mencium sepatu milik Ningsih.


Namun Ningsih melangkah kebelakang, seolah tidak peduli dengan keduanya. Dia dengan datar mencoba menjelaskan, "Hmph! Tidak, bahkan jika kalian mengemis, semuanya sudah terlambat..."


Ningsih kemudian mantap penjaga keamanan yang berada di kejauhan sambil berkata, "Usir keduanya, aku tidak ingin melihat mereka ada di sini..."


"Baik, Nyonya..." Kata penjaga itu dengan tegas. Mereka tidak ingin mengecewakan Ningsih. Segera penjaga keamanan itu langsung menghampiri Samon dan menyeretnya keluar bersama dengan Santika.


Dengan kepergian keduanya, segera suasana aula pertemuan kembali normal seperti sebelumnya.


Fatir masih diam sambil menggelengkan kepala ketika melihat kepergian keduanya. Sebelumnya dia berkata akan membuat perusahaan di belakang Samon bangkrut dengan cepat. Dan siapa sangka jika semuanya benar - benar terjadi tanpa mengharuskan dirinya bergerak secara langsung.


Apa yang baru saja terjadi, telah meninggalkan kesan mendalam bagi Maya, dia tanpa sadar melepaskan tangan suaminya kemudian menatap Ningsih dengan penuh kekaguman.


"Maya, apakah kamu menolak undangan dariku?..." Tanya Ningsih sekali lagi.


Maya tentunya ingin pergi, tapi dia menatap kearah Fatir yang masih duduk tanpa membuat suara sedikitpun. "Nyonya Ningsih, bagaimana dengan suamiku. Apakah dia akan di undangan juga?..."


Pertanyaan Maya entah mengapa terdengar lucu. Dan kata - kata tersebut membuat Fatir tersenyum dengan sendirinya, dia sangat puas ketika Maya mengakui dirinya sebagai suaminya.


"Tentu saja, kalian berdua bisa datang ke kelas VVIP bersamaku..." Ningsih tidak bisa menahan tawa. Dia berjalan lebih awal di bawah tatapan kagum semua tamu undangan.


Sebenarnya dia bisa saja mengatakan identitas Fatir secara langsung, namun dia tidak mengatakannya sampai Fatir benar - benar mengatakannya sendiri kepada istrinya.


Bersambung...