Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
59. Suami Dan Istri



Keesokan harinya.


Sinar matahari pagi perlahan masuk melalui jendela kaca di kamar hotel, Fatir meregangkan tubuhnya dan bersiap untuk berdiri dan bangun dari ranjang tempat tidur. Tiba - tiba dia merasakan hal yang lembut terjerat pada tubuhnya.


Dia pikir ada sesuatu yang salah, sehingga mengulurkan tangannya untuk menyentuhnya. Sambil kedua mata belum terbuka sepenuhnya, tangan Fatir menyentuh sesuatu yang begitu lembut.


"Boing!..."


Merasakan sesuatu yang begitu lembut, Fatir segera sadar jika yang dia sentuh bukanlah bantal bulu angsa, Fatir membuka penuh pupil matanya dan menunduk untuk melihat benda lembut itu. Sayangnya itu bukan benda atau apapun, selain wanita cantik dan apa yang dia sentuh saat ini adalah payudara.


Diam!


"Sial, Semalam aku benar - benar melakukannya dengan istriku?..." Fatir begitu panik di pagi hari. Dia rupanya membawa istrinya yang mabuk itu ke hotel terdekat tadi malam.


Biasanya, seseorang suami akan begitu bahagia jika melakukan hubungan seksual dengan istrinya. Namun tidak bagi Fatir. Dia benar - benar merasa bersalah.


Maya tidak menginginkan dirinya sebagai sosok suami sepenuhnya, itu karena dia memiliki alasan tersendiri yang tidak akan pernah terpikirkan oleh Fatir.


Memikirkan tentang kemarin malam, tentunya Fatir menikmati tubuh lembut istrinya. Begitu juga dengan Maya yang merasa kenikmatan ketika berhubungan seksual dengan Fatir.


Kapten Joni agung benar - benar melakukan tugasnya dengan benar. Dia begitu bijaksana dan dapat di andalkan. Selain mengarungi lautan lepas, badai dan ombak besar. Kapten Joni agung mengeksplorasi pulau baru secara penuh.


Selamat berlabuh kapten Joni agung, semua jasa dan kerja kerasmu akan kami kenang untuk selamanya.


Fatir berfikir, jika semuanya hanya mimpi dan semuanya akan berakhir ketika dia bangun. Namun semuanya bukan mimpi, dan ketika Fatir bangun, istrinya ada di sampingnya.


Apa yang selanjutnya terjadi?


Fatir hanya perlu menjelaskan semuanya, jika keduanya dalam kondisi mabuk.


Pada saat ini Maya terlihat seperti bunga teratai putih yang terlentang di sampingnya. Ketika selimut perlahan - lahan jatuh ke lantai, itu mengungkapkan pemandangan indah, seperti pahanya dan tubuh yang lembut merangkul bagian bawah tubuh Fatir.


Masih dapat terlihat, jika di tubuh Maya, ada jejak aktivitas intens tadi malam.


Melihat istrinya baik - baik saja ketika tidur nyenyak dengan ekspresi polos di wajahnya, membuat Fatir terpesona. Dari semua wanita yang dia temui, kecantikan istrinya ini pasti mampu memasuki tiga yang terbaik.


Sementara Fatir masih mengagumi sosok Maya seperti karya seni di hadapannya, tatapannya tiba - tiba berhenti pada noda darah merah di atas seprai putih.


"Noda ini, Darah perawan!..." Awalnya Fatir bahagia karena bisa mendapatkan yang pertama bagi istrinya.


Layaknya malam - malam pengantin yang tertunda selama tiga tahun. Akhirnya Fatir dapat melakukan apa yang di mimpikannya selama ini. Pada saat yang sama dia menjadi panik.


Fatir mulai panik ketika dia mengerutkan kening, dan melihat istrinya lagi. Jelas bahwa ini bukan noda darah orang lain, tetapi dia tidak bisa percaya istrinya tadi malam masih perawan.


Keraguan jika istrinya memiliki pria lain di belakangnya, benar - benar sirna, di gantikan dengan penyesalan mendalam. Mungkin selama ini istrinya memiliki alasan tersendiri karena tidak ingin melakukan hubungan seksual.


Setelah memikirkan semua kejadian semalam, Fatir mengambil pemikiran. Malam sebelumnya, istrinya yang berani dan menggoda ini dibius oleh kelompok yang ada di bar. Jika bukan karena Fatir mencegah dengan mematahkan kaki dan tangan mereka, maka istrinya akan jatuh di tangan orang lain.


Mungkin saja Fatir tidak dapat melakukan hubungan seksual dengan istrinya jika bukan karena kelompok tersebut. Hal ini membuat Fatir berterimakasih kepada kelompok tersebut sekaligus frustasi.


Alasan apa untuk menjelaskan tentang situasi ini?


Sementara Fatir masih duduk di tempat tidur sambil berpikir tentang bagaimana menghadapi situasi ini, istrinya yang tidur di sampingnya mulai bergerak dan bangun.


Maya yang mengantuk mengucek matanya dan membuka matanya, dengan lembut mendongak dan melihat Fatir dengan bingung di sampingnya.


Lelaki di depannya itu tampak nampak familiar. Bukannya dia Fatir yang sudah menjadi suami kontraknya. Potongan - potongan dari apa yang terjadi kemarin malam perlahan muncul dalam ingatannya, namun sedikit kurang jelas.


"Ah!..." Ketika Maya mencoba mencari melalui ingatannya, Dia merasa sakit sambil menyentuh pelipisnya.


"Jangan menyentuhku..." Maya mendorong kembali lengan Fatir yang terulur kearahnya.


Kemudian tatapannya jatuh pada noda darah merah pada seprei yang ada di dekatnya. Segera dia memahami jika keduanya melakukan hubungan seksual semalam.


Tunggu dulu, Bukannya Fatir impoten?


Hal yang mengejutkan adalah dia melakukannya dengan Fatir yang selama ini dia anggap sebagai pria impoten.


Mengapa miliknya bisa berdiri?


Hal baru lainnya adalah, setelah kehilangan keperawanannya, Maya secara alami kehilangan trauma masa lalunya. Karena dia bukan lagi perawan. Mengapa dia ketakutan kehilangan keperawanannya.


Kehilangan trauma lamanya tentunya membuat Maya jauh lebih baik. Tetapi dia tetap tidak bisa memaafkan jika dia melakukan hubungan seksual dengan Fatir.


Hal terakhir yang dirinya bisa ingat adalah, mengunjungi bar seorang diri. Dia biasanya akan secara diam - diam pergi ke bar. Dan yang semalam setelah Maya mabuk menerima minuman orang lain, dia tidak dapat mengingat apapun lagi.


Sekarang bagaimana dia bisa berakhir di hotel bersama dengan Fatir. Dia tidak mengingatnya sama sekali.


"Maaf, aku tidak sengaja?!..." Kata Fatir dengan nada begitu menyesal.


"Apa! Tidak sengaja! Temanmu memaksa masuk, kemudian keluar masuk berulang kali, bahkan keluar di dalam, juga kamu melakukannya hingga pagi. Apakah itu yang di katakan tidak sengaja?..." Tanya Maya dengan dingin. Dia masih merasakan jika bagian bawahnya terasa membengkak.


Lagian, mengapa milik suaminya besar sekali?


Maya masih meragukan jika milik suaminya yang sebesar itu bisa keluar masuk kedalam tubuhnya. Belum lagi dia masih merasakan cairan hangat di dalam tubuhnya, yang keluar mengalir di paha bagian dalam.


Suaminya benar - benar binatang buas karena dapat melakukannya hingga menjelang pagi.


Walaupun Maya tidak sepenuhnya mengingatnya. Setidaknya dia memiliki ingatan samar di malam dia melakukan hubungan seksual dengan Fatir.


Mengabaikan Fatir yang merasa bersalah, Maya yang telanjang melihat sekelilingnya untuk menemukan pakaiannya yang semalam.


Setelah Fatir tahu jika istrinya marah. dia ketakutan tentang reaksi yang akan istrinya lakukan.


Berteriak dengan keras?


Kalahkan dan memberikan tamparan?


Telepon polisi?


Mungkin memanggil media massa?


Hanya memikirkan jika dirinya akan muncul di koran, internet dan televisi, Dalam kasus suami memperkosa istrinya, membuat Fatir tidak bisa tenang.


Melihat maya perlahan bangkit dan berdiri dengan lancar. Fatir melihat istrinya mengenakan pakaiannya dan dia memperhatikan tubuh yang seperti mutiara yang cerah.


Di tubuhnya, pada beberapa tempat masih membawa tanda kecupan dan hisapan merah dari Fatir. Dengan perlahan istrinya mengenakan hak tinggi dan berniat untuk pergi.


Melihat ketenangan Maya dan dingin membuat Fatir tiba - tiba merasakan tekanan. Dia menarik napas dalam - dalam dan berkata, "Tolong, tolong jangan memanggil media massa, aku akan bertanggung jawab..."


Maya sedikit berdandan ketika dia mendengar kata - kata dari Fatir. Dia berhenti sejenak, lalu dia melihat Fatir dengan dingin, "Siapa yang ingin memanggil media massa, aku juga tidak mungkin memanggil polisi..."


Menyipitkan matanya, Maya menambahkan. "Kita sudah menjadi suami istri. Selama kamu tidak melakukan kekerasan rumah tangga, tidak ada polisi yang akan menerima kasus hubungan seksual suami istri..."


Walaupun kesal terhadap Fatir, tetapi tidak ada yang dapat Maya lakukan terhadap suaminya tersebut.


Bersambung...