Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
38. Tamparan



Fatir menjelaskan jika dia harus kembali ke perusahaan malam ini juga. Padahal, dia hanya tidak ingin kembali ke rumah kediaman mertuanya.


Maya tidak peduli dengannya dia menghargai keputusan Fatir dan memilih pergi begitu saja. Memiliki pekerjaan adalah keputusan Fatir sendiri, dan biarkan Fatir melakukan apa yang ingin dia lakukan.


"Butuh tumpangan?!..." Tanya Miranda dengan tenang. "Tapi, aku yang mengemudi..."


Tidak mungkin dia duduk di kursi penumpang lagi, sedangkan Fatir mengemudikan mobil seperti orang gila.


"Tidak masalah..." Fatir tidak memiliki pilihan lain, tidak mungkin dia berjalan kaki di malam hari sendirian.


"Vrooommm..."


Miranda menghidupkan mesin kemudian, Mobil Avanza melaju di jalan raya kota jakarta.


Karena Miranda yang mengemudikannya, Mobil tersebut melaju tidak kencang juga tidak lambat.


"Mengapa kamu berbohong dan tidak mengatakannya secara langsung?!..." Miranda benar - benar tidak mengerti tentang Fatir yang sudah menjadi ketua baru Angkasa Grup.


"Setidaknya, untuk sekarang aku tidak bisa mengatakannya..." Fatir melihat kaca jendela mobil lalu menurunkannya.


Melihat keluar jendela, Dia dapat merasakan angin luar yang sangat menyejukkan, perlahan masuk ke dalam mobil.


"Apa yang kamu pikirkan, jika seseorang yang cukup lama bersamamu, yang dulunya miskin tidak memiliki apapun, juga tidak memiliki pekerjaan. Secara tiba - tiba menjadi kaya?..." Penjelasan Fatir membuat Miranda terdiam.


Miranda tipe orang yang membenci adanya sebuah kebohongan. Dia pikir Fatir hanya bermain - main dengannya dengan berpura - pura miskin dan tidak memiliki apapun.


"Aku adalah seorang anak haram dari pemilik Angkasa Grup... Hanya dalam semalam aku menjadi kaya raya..." Fatir menjelaskan dengan tersenyum kecut.


"Kekayaan yang seharusnya aku inginkan sejak lama, secara instan aku dapatkan. Dengan menjadi kaya aku bisa memiliki segalanya..."


"Aku pikir, segalanya akan lebih baik jika aku menjadi kaya raya..." Fatir menghela nafas panjang.


Miranda yang mengemudikan mobil hanya bisa termenung sambil mendengarkan setiap penjelasan Fatir.


"Semua kekayaan ini, hanya milik ayahku. Aku bukan siapa - siapa tanpa kekayaan ayahku... Orang lain akan mendekatiku karena pengaruh dan kekayaan ayahku. Tanpa melihat diriku yang sebenarnya..."


Perkataan Fatir adalah kebenaran mutlak.


Fatir tanpa kekayaan ayahnya, hanya seorang pria biasa dengan sedikit kemampuan.


"Ini bukan berarti, aku tidak menginginkan kekayaan ayahku. Aku hanya ingin orang lain melihat diriku, dan bukan pengaruh dan kekayaan ayahku..."


"Aku bertanya - tanya?! Apakah masih ada seseorang yang masih menginginkan diriku yang dulu?!..." Fatir tertawa getir.


"Ketua, aku mengerti apa yang kamu katakan..." Miranda menjawab, dia mulai memahami pria seperti apa Fatir ini.


Setidaknya, Semua perkataan Fatir telah menjawab semua keraguan di hati Miranda.


"Miranda, yang aku katakan saat itu, bukan kebohongan. Aku benar - benar tidak memiliki apapun, Bahkan aku tidak tahu jika ayahku kaya raya. Aku bukan siapa - siapa, tanpa kekayaan ayahku..." Kali ini Fatir menatap wajah cantik Miranda dan keinginan dirinya mulai memuncak tak terkendali.


Kejujuran adalah hal paling penting dalam setiap hubungan, dia berbohong dan menyembunyikan identitasnya kepada Maya, karena Fatir menginginkan istrinya melihat dirinya dan bukan yang dia miliki sekarang.


Miranda sedikit tersentuh dengan kejujuran Fatir. Dia menghargai keputusan Fatir. Tidak banyak orang akan melakukan, seperti apa yang Fatir lakukan.


Kebanyakan orang, akan menyombongkan kekayaan hasil orang tua mereka. Seperti Justin dan Farhan contohnya. Padahal, jika tanpa kekayaan keluarganya, keduanya hanyalah pria biasa dan tidak jauh berbeda dengan yang lainnya.


Mereka yang memiliki keluarga kaya raya sejak dilahirkan, hanyalah seseorang yang lahir dengan keberuntungan lebih di sisinya.


Miranda tanpa sadar, mulai menerima keberadaan Fatir di hatinya. Dari pada kebanyakan pria yang menyombongkan kekayaan keluarganya, Miranda lebih suka dengan pria seperti Fatir.


"Miranda, kamu tidak salah tempatkan?!..." Fatir tentunya sangat terkejut, dia hanya ingin pergi ke perusahaan dan mengambil mobil Miliknya dan kembali ke apartemennya.


Tetapi, tempat pemberhentian keduanya bukan perusahaan angkasa grup. Melainkan sebuah hotel yang memiliki pencahayaan warna - warni di bagian depan.


"Ingin minum sesuatu?!..." Tanya Miranda dengan malu.


"Tidak masalah..." Jawab Fatir.


Mereka saling berciuman, merangkul, melepaskan pakaian mereka satu sama lain dan pertempuran ranjang yang cukup intens terus berlanjut hingga menjelang pagi.


_


_


_


Keesokan paginya, Rumah sakit terkenal di kota Jakarta.


Farhan dan Justin berada di ranjang rumah sakit dengan kondisi tubuh yang mulai stabil. Mereka memiliki kain perban hampir di sekujur tubuhnya.


Benar - benar nasib tragis untuk keduanya. Mereka tidak menyangka jika Fatir akan sekuat itu. Tentunya keduanya ingin melakukan balas dendam.


Fatir harus merasakan, apa yang keduanya kini rasakan.


"Sialan..." Farhan meraung dengan ganas.


Tidak bisa menggerakkan kedua tangannya, juga tidak bisa berjalan. Jika keduanya ingin bepergian, Mereka berdua hanya bisa menggunakan kursi roda dengan bantuan orang lain.


Saat mencoba menggerakkan tubuhnya, itu langsung menyebabkan rasa sakit, dan membuat kemarahan di hati keduanya semakin tinggi.


"Hanya menantu sampah, mampu bertindak sejauh ini. Menyinggung kita sama dengan mencari kematian..." Kata Justin dengan frustasi. "Aku akan membuat ayahku bertindak..."


"Itu benar, Aku tidak percaya Fatir akan selamat jika keluarga kita bertindak..." Farhan mengangguk dengan kebencian yang sama di wajahnya.


Pintu bangsal rumah sakit terbuka, Dua sosok pria paruh baya memasuki ruangan. Keduanya mengenai pakaian berjas dan berdasi. Mereka adalah orang tua dari Justin dan Farhan.


"Ayah, kamu harus menegakkan keadilan untukku..." Farhan sangat senang dengan kedatangan ayahnya. Begitu juga dengan Justin.


"Benar, Fatir ini terlalu merajalela, kita berdua baru saja pulang dari Gedung Graha. Tetapi, harus di hadang dan mendapatkan situasi yang dirugikan..." Justin menambahkan bahan bakar ke api.


Dengan membuat orang tuanya membenci Fatir, maka Fatir akan berakhir cepat atau lambat.


"Apakah dia, orang yang membuat kalian berdua menjadi seperti ini?..."


Suara ayah Farhan terdengar begitu berat seolah - olah dia sangat marah. Dia menunjukkan sebuah foto tertentu kepada putranya.


Foto tersebut memiliki penampilan Fatir yang terlihat polos, dan keduanya sangat yakin jika di foto tersebut, adalah orang yang sama dengan Fatir yang melumpuhkan mereka.


Bagaimana ayahnya bisa memiliki foto Fatir?!


Mungkinkah, ayahnya sudah melakukan penyelidikan terhadap Fatir?!


Pikiran Farhan nampak bingung, namun dia tidak memperdulikannya. Dia nampak senang, melihat jejak kemarahan di wajah ayahnya.


Ayah Justin juga menunjukkan hal yang sama, dia Mendengus dingin ketika melihat putranya.


Melihat kemarahan mereka, membuat Justin dan Farhan sangat bahagia, inilah kepedulian orang tua yang seharusnya.


"Benar, dia adalah Fatir yang membuat kita seperti ini..." Kata Farhan dengan mengakuinya.


"Ayah, Aku hampir mati. Kamu harus membalaskan dendam untukku..." Kata Justin dengan putus asa kepada ayahnya.


"Jadi, benar - benar orang yang ada di foto ini pelakunya?!..." Suara ayah Justin lebih dingin dari ayah Farhan.


"Benar ayah... Fatir ini harus mati, kamu harus membunuhnya..." Kata Justin dengan kebencian.


"Kamu benar - benar anak tidak tahu di untung..." Orang tua Farhan dan Justin berkata secara bersamaan.


"Plaakkk..."


"Plaakkk..."


Keduanya menampar putra mereka masing - masing.


Bersambung...