Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
98. Pembersihan Rumah



Kata - kata Seno begitu mengejutkan, terutama bagi Silfi yang tidak mungkin menerimanya begitu saja. Dia tahu jika Anjas menjadi salah satu pengejarnya, dan dia cukup mengenal kebusukan yang Anjas miliki. Yang pasti tidak mungkin bagi Silfi menerima perjodohan sepihak begitu saja.


"Ayah, aku tidak mungkin menerimanya sebagai suami masa depanku!..." Silfi langsung menolaknya tanpa penundaan.


Seno yang memahami sikap putrinya yang labil, hanya bisa menggeleng. Kemudian dia berkata, "Keputusan ayah sudah bulat..."


Silfi hanya menggigit bibirnya dengan kesal, namun dia tidak dapat berbuat apapun atau menentang keputusan tersebut, dan tidak bisa berbicara lagi.


Tanpa sadar Silfi menatap Fatir, dan tidak ada yang tahu apa yang dipikirkannya saat ini.


Fatir dan Lestari tidak dapat melakukan apapun. Masalah keluarga sasongko bukanlah urusannya, dan tidak baik ikut campur dalam masalah orang lain. Saat ini, Fatir hanya penasaran dengan apa yang ada di dalam rumah utama kediaman keluarga sasongko.


Sedangkan pria mana yang akan menjadi suami Silfi di masa depan, Fatir tidak peduli sama sekali. Begitu juga dengan Lestari, dia hanya bisa diam karena tidak ingin menentang keputusan dari Seno terhadap masa depan putrinya.


Anjas mengangguk puas, dia kemudian berkata dengan sopan, "Paman Seno, Aku tidak keberatan jika Silfi menolak perjodohan seperti ini. Dia juga masih muda dan masih harus menyelesaikan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pasti dia belum siap menerima keputusan ini..."


Seno mengangguk dengan puas setelah mendengar perkataan Anjas. Kemudian dia menatap putrinya lagi dan berkata, "Silfi, kamu seharusnya senang karena Nak Anjas memiliki pemikiran dewasa di usianya yang tergolong muda. Tidak banyak pria diusianya yang memiliki pemikiran bijak seperti dia!..."


"Terimakasih Paman Seno!..." Seringai tidak dapat di sembunyikan di wajah Anjas yang sedikit tampan.


Segera Seno memimpin jalan untuk masuk kedalam, di ikuti Anja, Silfi, Lestari dan juga Fatir.


Fatir masih diam dan tidak banyak berbicara. Dia layaknya padi yang semakin berisi maka akan semakin menunduk. Tentunya belum saatnya Fatir berbicara besar, karena tanpa adanya pembuktian nyata. Siapapun tidak akan mempercayainya.


Tepat ketika mereka semua melihat apa yang ada di dalam, Silfi dan Lestari tidak bisa berkata - kata. Hanya Fatir yang masih tetap tenang, dia sudah menduga jika ada Dukun tertentu berada di dalam rumah utama kediaman keluarga sasongko.


"Ayah, Jadi ini yang di maksud pembersihan rumah? Ternyata ayah menggunakan jasa seorang Dukun?..." Kata Silfi yang tidak bisa diam. Ada banyak kasus tentang Penipuan berkedok dukun dan cukup sulit jika Seno mempercayai hal gaib yang berada di luar nalar manusia.


Di depan mereka, ada Ki Belung yang duduk bersila dengan keris di tangannya. Sedangkan Pak tua sasongko duduk di tidak jauh di depannya dengan kain putih menutupi kepalanya.


Ki Belung mengerutkan keningnya dengan tidak puas ketika mendengar perkataan Silfi. Dia menatap gadis muda itu dengan tidak senang. Kemudian melirik kearah Seno seolah memberikan dia isyarat.


Seno yang memahaminya langsung berkata, "Tolong maafkan putriku Ki Belung, dia masih muda sehingga tidak memahami Dukun Sakti seperti anda..."


Kemudian Seno berbalik dan berkata, "Silfi, kakekmu terkena santet sehingga dia harus melakukan ritual tertentu untuk menghilangkan santet yang ada di dalam tubuhnya..."


"Santet?!..." Tatapan Silfi langsung ketakutan.


Siapa yang tidak memahami jenis keahlian mistis yang satu ini. Di mana sebuah benda yang tidak lazim dapat berada di dalam tubuh seseorang, tanpa orang tersebut sadari.


Lestari yang dari awal diam langsung berbicara, "Tuan Seno, dalam ilmu kedokteran. Santet itu hanya mitos dan tidak ada bukti keberadaan Santet sampai sekarang..."


"Dokter Tari, aku mengerti apa yang kamu katakan. Hanya saja, peralatan medis tidak dapat mendeteksi jenis penyakit yang dimiliki ayahku, jika bukan Santet lalu apa? Bisakah kamu menjelaskannya?..."


"ini..." Lestari langsung terdiam, dokter terkenal saja tidak dapat memahaminya, apa lagi dirinya!


"Jika kalian membuat masalah lagi, lebih baik kalian meninggalkan ruangan ini..." Kata Seno dengan datar.


Saat Lestari hendak pergi, tangan Fatir meraihnya dan menghentikannya. Dia kemudian berbisik, "Kakak ipar, kita berada di tempat orang, dan kita hanyalah seorang tamu. Lebih baik kita mendengarkannya karena kebenaran akan terungkap dengan sendirinya..."


"Ki Belung, Tolong lanjutkan..." Kata Seno.


Ki Belung mengangguk kemudian berkata, "Pertama, Aku akan membuktikan jika tuan Sasongko benar - benar mengalami gangguan santet..."


Dengan keris di tangannya, Ki Belung mulai mengucapkan mantra yang berulang - ulang. Kemudian dia mengarahkan keris itu ke tubuh Pak tua Sasongko.


"Ah!..." Hal yang mengejutkan terjadi, Pak tua sasongko tersentak ketika merasakan sebuah sengatan yang datang dari keris yang ada di tangan Ki Belung.


"Tuan Sasongko, bisa katakan apa yang kamu rasakan?..." Tanya Ki Belung dengan penuh percaya diri.


Pak tua sasongko masih tidak nyaman dengan sengatan yang baru saja dia rasakan. Kemudian dia berkata, "Tubuhku merasakan sebuah sengatan..."


"Sengatan! Bagaimana mungkin?..." Tanya Silfi dengan tatap tidak percaya.


"Haha... Itu karena santet benar - benar ada di dalam tubuh Tuan Sasongko dan itu terbukti ketika beliau merasakan sebuah sengatan seperti sebelumnya..." Ki Belung menjelaskan dengan tersenyum.


Walaupun sangat sulit di percaya, namun semua orang hanya bisa mengangguk. Hanya Fatir yang tidak mungkin mempercayainya.


Dengan warisan pertapa agung yang dimilikinya, Fatir memahami banyak hal tentang hal mistis dalam dan juga memahami tentang hal gaib dalam arti yang sebenarnya. Dan dia tidak merasakan kekuatan atau energi apapun dari Ki Belung.


Itu berarti, kunci dari sengatan listrik sebelumnya berada pada alat peraga yang berupa keris yang terlihat aneh di mata Fatir. Kemudian dia mengangguk setelah memahami apa yang terjadi, tetapi tetap diam karena belum saatnya mengatakannya.


"Baik, Karena Tuan Sasongko benar - benar menderita santet, maka kita harus menghilangkan santet tersebut dengan menelusuri rumah besar ini untuk menemukan di mana santet itu di letakan..." Ki Belung dengan bangga berdiri dan berjalan tanpa alas kaki.


Tangan kanannya menjulur ke depan seolah sedang menerawang sesuatu. Dia terus berjalan dari pintu ke pintu sambil membaca mantra tertentu.


Semua orang termasuk Fatir mengikutinya dari belakang, kemudian langkah kaki Ki Belung berhenti di depan sebuah pintu. Dia sekali lagi membaca mantra dengan mata tertutup.


"Hmmm! Kamar ini milik siapa?..." Tanya Ki Belung dengan datar, Dia seolah merasakan sesuatu dari kamar tersebut.


"Itu kamar Kakek!..." Silfi langsung menjawab, walaupun dia tidak mempercayai hal mistis, namun segala sesuatu yang Ki Belung lakukan membuat dirinya sedikit ketakutan.


Ki Belung mengangguk kemudian berkata, "Tolong di buka, aku ingin memastikan sesuatu!..."


"Baik..." Seno langsung membuka pintu kamar tersebut dan membiarkan Ki Belung memasukinya lebih awal.


Dari sini, Ki Belung melarang siapapun untuk masuk kedalam. Dan ketika dia di dalam sana seorang diri, dia tersenyum sambil mengeluarkan sesuatu dari saku pakaian hitamnya.


Kemudian dia melemparkannya ke bawah ranjang tempat tidur dan berkata, "Kalian bisa masuk..."


Seno memimpin untuk masuk lebih awal dan di ikuti oleh yang lainnya, Dia kemudian bertanya, "Ki Belung, apakah sudah ketemu di mana santet itu di letakan?..."


"Tuan Seno, tolong lihat di bawah ranjang tempat tidur, aku merasakan energi negatif yang sangat kuat datang dari sana!..." Kata Ki Belung dengan yakin.


Fatir sekali lagi tidak merasakan adanya energi apapun dan dia semakin yakin jika semuanya tidak benar, namun dia masih diam.


Seno membungkuk dan tangannya terulur ke bawah ranjang tempat tidur dan tanpa sengaja mengambil sesuatu. Kemudian dia meraihnya dan menunjukkan kepada Ki Belung sambil berkata dengan bingung, "Ki Belung, ini hanya tisu biasa!..."


Bersambung...