
Maya tentunya sangat bahagia ketika mendapatkan ratusan kontak baru dari para tokoh pebisnis penting yang menghadiri acara pertemuan akbar.
Tentunya dia masih bingung dengan tindakan mereka semua. Bahkan dia tidak tahu jika harus bertanya kepada siapa. Selain itu Ratu keajaiban bisnis sendiri langsung membantunya untuk mengusir Santika dan Samon.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Mengabaikan perubahan pada semua orang, Kini Maya berjalan menuju kelas VVIP. Tetapi seorang pria paruh baya menghentikannya dan berkata, "Nona Maya, saya ingin bertemu dengan suami anda!..."
Maya menatap pria paruh baya itu dengan seksama. Dia tentunya tidak mengenalnya dan berpikir jika dia menjadi salah satu tamu undangan yang ingin membuat koneksi juga.
"Suamiku ada di kelas VVIP, jika kamu ingin bertemu dengannya. Ayo pergi bersama!..." Jawab Maya dengan sopan.
"Benarkah! senang sekali mendengarnya..." Pria paruh baya itu menyeringai, kemudian mengikuti Maya dari belakang.
Fatir melihat kedatangan istrinya dengan tersenyum, dia sudah menguatkan hatinya untuk mengatakan jati dirinya yang sekarang. Tetapi di sedikit bingung ketika melihat pria paruh baya yang berjalan di belakang istrinya.
"Sayang, siapa dia?..." Tatapan Fatir berangsur - angsur menjadi dingin. Itu bakan karena dia cemburu, tetapi karena dia merasakan sesuatu yang tidak bisa di jelaskan yang datang dari tubuh pria paruh baya itu.
Sejak mendapatkan warisan dari pertapa agung, Fatir memiliki kemampuan untuk merasakan kepekaan terhadap datangnya bahaya. Walaupun dia tidak merasakan niat membunuh, namun dia tidak bisa tenang ketika melihat pria paruh baya itu datang mendekat.
"Dia ingin bertemu denganmu!..." Maya langsung menjelaskan katika dia berdiri di dekat Fatir.
"Tuan Fatir, senang bertemu denganmu. Nyonya Ningsih juga Asisten Mary..." Pria itu tidak memperkenalkan dirinya dan hanya menyapa sambil tersenyum tanpa makna.
"Mary, apakah dia tamu undangan juga?..." Ningsih yang sekarang adalah seorang kultivator, sehingga dia memiliki kewaspadaan yang cukup tinggi.
"Tidak, dia tidak terdaftar sebagai tamu undangan..." Mary menjawab dengan pelan, dia hanya bisa menyalahkan petugas keamanan yang lalai dalam melakukan pemeriksaan ketat terhadap setiap tamu yang datang.
Penjelasan pelan dari Mary semakin memperburuk dugaan Fatir. Dia menarik lengan Maya agar berada di sisinya, kemudian Fatir bertanya dengan dingin kearah pria paruh baya itu. "Katakan siapa kamu dan tujuanmu?..."
"Fatir ada apa denganmu?..." Berada di belakang suaminya, Maya bertanya dengan gugup.
Fatir berdiri untuk berhadapan dengan pria paruh baya itu sambil menjawab, "Sayang, Ada yang salah dengannya!..."
Ningsih dan Mary berdiri dari tempat duduk mereka, segera semua tamu undangan melihat kearah mereka semua dan sekali lagi menjadi pusat perhatian.
"Apa yang terjadi?..."
"Entahlah, sepertinya pria paruh baya itu membuat masalah..."
"Aku pikir juga seperti itu, dia pasti memiliki masalah yang tidak sederhana..."
Beberapa tamu undangan mulai berdiskusi untuk mengungkapkan rasa ingin tahu mereka.
Mengabaikan sekelilingnya, Fatir menemukan keanehan pada penampilan pria paruh baya itu. Walaupun jenis setelan yang dikenakannya tidak jauh berbeda dengan tamu undangan lainnya. Dapat terlihat jika pria paruh baya itu mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya.
Pakainya sedikit lebih besar dari tubuhnya, sehingga terlihat cukup gemuk. Tetapi pria gemuk tidak memiliki leher seperti itu, rasanya dia menggunakan penyamaran atau dengan sengaja menyembunyikan sesuatu.
Dengan pendengarannya yang tajam, Fatir dapat mendengarkan sebuah suara yang cukup samar, itu seperti timer waktu atau suara jam dinding berdetak.
"Mengapa kamu tidak menjawab? Apa yang kamu sembunyikan di balik setelah jas yang kamu kenakan?..." Tanpa sadar Fatir memikirkan sesuatu yang terburuk, itu adalah keberadaan Bom.
Tatapan Fatir semakin serius, dia berpaling untuk melihat Ningsih dan Mary. "Maa, tolong suruh semua orang untuk pergi dan kosongkan tempat ini secepat mungkin..."
Maya bingung ketika suaminya memanggil Ningsih dengan sebutan Maa, tetapi dia tidak langsung bertanya.
Fatir tidak ingin mengambil kesalahan, yang mengakibatkan adanya korban jiwa. Kemudian dia menatap Maya yang mulai panik, "Sayang, kamu juga harus pergi..."
"Apa yang kamu takutkan, bukannya dia ingin bertemu denganmu untuk membicarakan tentang bisnis?..." Kata Maya dengan menunjuk kearah pria paruh baya itu.
"Sayang, kedatangannya bukan untuk bisnis jadi cepat pergi dari sini..." Fatir sedikit tertekan, walaupun keberadaan bom pada tubuh pria paruh baya itu belum di konfirmasi, setidaknya dia tidak ingin sesuatu menimpa Maya atau orang lain yang ada di dalam aula pertemuan akbar.
Keberadaan Maya tentunya hanya menjadi beban bagi Fatir. Belum lagi dia belum mengkonfirmasi tentang seberapa banyak musuh dan jumlah bom yang ada di aula pertemuan akbar. Apa lagi Fatir tidak tahu sedang berhadapan dengan musuh yang mana dan apa alasan mereka.
"Maya dengarkan perkataan Fatir ayo pergi..." Ningsih akhirnya berkata dengan ekspresi serius. Dia menarik lengan kanan Maya. Sebelum pergi dia menatap sosok Fatir dari belakang. Dia tahu bahaya tidak mungkin sederhana, namun dia percaya jika putra suaminya dapat menyelesaikannya.
Kemudian Ningsih menatap Mary dan berkata, "Mary, cepat evakuasi yang lainnya, dan kosongkan secepat mungkin..."
"Baik!..." Walaupun tidak tahu tentang masalah yang terjadi, Mary tidak ingin membuat kesalahan. Segera dia memerintahkan beberapa karyawan yang kebetulan ada di sana untuk mengevakuasi semua orang.
Segera semua tamu undangan mendapatkan arahan untuk meninggalkan tempat mereka berada saat ini. "Benar, tolong ikuti arahan untuk meninggalkan aula pertemuan..."
"Apa yang terjadi, mengapa kita harus pergi. Padahal acara belum selesai..." Kata seorang tamu wanita.
"Sial, siapa yang tahu. Sepertinya ada masalah yang cukup serius..." Jawab seorang pria yang menjadi pasangan wanita itu.
Beberapa orang lebih memilih untuk tetap tinggal karena semuanya belum berakhir. Tetapi banyak kegaduhan diantara para tamu undangan lainnya.
"Klik!..."
Melihat kekacauan yang ada di sekelilingnya, Pria paruh baya itu mulai melepaskan jas dan kancing yang dia kenakan, kemudian dapat di lihat seperangkat bom dengan waktu yang terus berjalan mundur berada di tubuhnya.
"Aaahhh!..."
Tamu wanita yang melihat bom pada tubuh pria paruh baya itu menjerit dengan keras.
"Pria itu memiliki bom di tubuhnya, semuanya cepat pergi!..." Wanita itu akhirnya mengerti mengapa semua orang harus di evakuasi. Dia segera menarik lengan suaminya dan keduanya berlari untuk menyelamatkan diri.
Semua tamu undangan, akhirnya menyadari bahaya yang akan menunggu mereka semua jika tetap tinggal di dalam aula. Mereka tidak menyangka jika pria paruh baya itu memiliki bom di tubuhnya. Sepertinya target pelaku harus menjadi Ratu keajaiban bisnis atau ketua baru angkasa grup.
"Ahhhh!... Cepat selamatkan diri kalian..." Teriak dari salah satu tamu undangan.
Ratusan tamu undangan segera pergi menuju ke pintu utama. Tetapi ketika mereka berusaha untuk membuka pintu, mereka tidak dapat membukanya.
"Sial... Pintunya macet..." Pintu itu terbuat dari kaca tebal dan tahan akan peluruh. Sehingga sangat sulit untuk dihancurkan dengan benda tumpul. Selain itu hanya bisa di buka menggunakan mekanisme tertentu.
Sepertinya, pelaku pengeboman bunuh diri dengan sengaja menyabotase pintu masuk utama dan berniat mati dengan semua orang yang ada di dalamnya.
Hitungan mundur pada bom yang ada di tubuh pria paruh baya itu tersisa lima menit.
Bersambung...