Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
107. Memilih Pergi



Bertanya tentang perginya semua makan itu, Lestari hanya bisa tersenyum kecut. Dia tidak pernah tahu jika Fatir memiliki nafsu makan yang begitu gila. Bahkan tidak menyisakan satupun masakan di atas meja.


"Gruaaaahhh!..."


Fatir bersendawa setelah menyelesaikan semua makanan yang ada di depannya. Dia tidak merasa malu sama sekali, dengan semua tindakannya.


Akhirnya, mereka selesai makan malam bersama. Berkat Fatir yang memiliki nafsu makan besar, Sugeng harus menyiapkan 10 porsi steak sebelum Fatir puas. Untuk harga steak yang tidak murah, tentunya Sugeng harus mengeluarkan banyak uang untuk tagihan makanan tersebut.


Sugeng hanya bisa merasakan sakit hati yang begitu meluap. Di depan matanya, ada pria yang datang entah dari mana dan telah merusak semua rencana miliknya. Sejak kehadirannya, Sugeng telah menanamkan kebencian sepanjang waktu.


Baginya, kehilangan uang ekstra ini tidak berarti apa - apa, tapi penampilan dan kepiawaian Fatir telah membuat Sugeng kehilangan kekuatan untuk melawan. Setiap serangan kata - kata pedas hanya terasa seperti meninju angin, dan membuang - buang kekuatan waktunya.


Itu karena sandiwara Fatir lebih baik darinya dari segi apapun!


Hanya saja, yang membuat Sugeng bingung, obat tertentu yang dia letaknya pada masakan penutup. Tidak mempengaruhi Fatir sama sekali. Apakah tubuhnya masih manusia?


"Terima kasih atas keramahtamahannya, Saudara Sugeng, sepertinya kita harus pergi sekarang....'' Kata Fatir saat dia menyeka mulutnya, dan berdiri.


Lestari yang akhirnya tersadar mulai berdiri dan berkata, "Itu benar. Kita tidak bisa larut malam di tempat ini..."


Mendengar ini, Sugeng, yang sudah kelelahan, tersenyum dan berkata, "Nona Tari, sudah selarut ini, Mengemudi di malam hari tidak aman, bukankah lebih baik bagimu untuk tinggal di hotel ini!..."


"Tidak perlu..."Fatir menjawab.


Begitu Lestari berdiri di dekatnya, Fatir mengambil kesempatan untuk menyentuh pinggang lembutnya dia memeluknya, dan tersenyum saat berkata, "Kami adalah suami istri? Setelah makan begitu banyak, kekuatanku berada di puncaknya. Itu membuatku begitu yakin aku bisa bertahan sepanjang malam! Jika kami melakukannya di hotel ini, aku takut kamu akan mencari sabun dan melubanginya..."


"....." Sugeng yang marah, hanya bisa diam.


Kemudian Fatir menata wanita cantik yang ada dipelukanya, "Sayangku, malam ini aku ingin kita bergadang sampai pagi, Setidaknya tahun depan aku ingin punya Sebelas anak!..."


"....." Lestari memerah, dan diam - diam mencubit lengan Fatir. Dia merasa terlalu malu karena kehilangan muka! Belum lagi Fatir memeluknya dengan erat sehingga dia tidak dapat melepaskan diri.


Tidak menunggu untuk tinggal di tempat itu lagi, Lestari menyeret tangan Fatir dan cepat - cepat pergi dari sana. Kemudian mengemudikan mobil dan menghilang di kejauhan.


_


_


_


Tepat setelah mobil Fatir menghilang di kejauhan, pengikut yang sebelumnya mengantarkan keduanya sampai di depan hotel, memilih untuk kembali kedalam ruangan sebelumnya.


"Duuaarrr!..."


Ledakan terjadi, meja yang sebelumnya digunakan untuk makan telah terbalik dan menumpahkan semua yang ada di atasnya. Tentunya Sugeng tidak dapat mengendalikan dirinya ketika kemarahannya memuncak.


Hanya ketika pengikut itu melihat tindakan Sugeng, dia memiliki penampilan yang ketakutan dan berjalan mendekatinya sambil menunduk.


Sugeng merilekskan tubuhnya dan sedang duduk di sofa besar membiarkan pelayan hotel memijat bahunya. Ada tatapan mengerikan diwajahnya sehingga para pelayan hotel meminjamnya dengan gugup.


Mereka takut jika melakukan kesalahan, maka Sugeng akan memukulnya dan yang terburuk manajer hotel akan memecatnya.


Sugeng sendiri cukup terkenal di kota Malang dan tidak ada yang berani menyinggungnya. Jadi Fatir orang yang tidak memahami seberapa mengerikannya konsekuensi ketika menyinggungnya, dan akan berakhir dengan menyedihkan.


Sugeng mendengus dingin, "Hmph! Lestari ini bodoh, dia terlalu meremehkanku. Apakah dia berpikir bisa melarikan diri dariku, hanya karena dia membawa seorang pria untuk menghalangiku?..."


"Tuan muda, haruskah aku menemukan orang ini dan menyingkirkannya? Begitu pria ini menyadari siapa yang dia hadapi, dia tidak akan berani bertindak sesombong lagi..." Pengawal itu berkata, mengayunkan tangannya dengan gerakan mengiris pada lehernya.


Sugeng melihat pengikutnya sambil menggeleng, "Tentu saja aku harus menghabisinya, namun bertindak sekarang adalah pilihan bodoh. Dia baru saja bertemu denganku, jika dia menghilang setelahnya, siapapun akan berpikir jika aku menjadi pelakunya!..."


"Tapi tuan muda, aku memiliki keyakinan untuk melemyapkanya tanpa meninggalkan jejak..." Pengikut itu telah geram cukup lama. Dia telah membenci Fatir sampai ketulang, sehingga dia begitu berambisi untuk menyingkirkan Fatir.


“Kamu tidak perlu melakukan apa pun untuk saat ini. Selain itu, bukan dia yang kamu singkirkan, tetapi kamu yang akan disingkirkannya!..." Kata Sugeng dengan kesal. Untuk bisa lolos dari kepolisian sampai sekarang, tentunya membutuhkan perhitungan yang akurat.


Sejak lama, Sugeng memiliki insting yang lebih tajam dari kebanyakan manusia pada umumnya. Dab karena kemampuan ini, dia dapat melarikan diri dari bahaya yang mendekatinya.


"....." Pengikutnya kesulitan menerimanya, dan dia tanpa berbicara.


Melihat pengikutnya yang diam, Sugeng menambahkan, "Jangan berpikir jika aku menilai begitu tinggi. Namun pria ini tidak biasa, itu terbukti dengan dia menghabiskan semua hidangan barat yang telah di taburi obat afrodisiak!..."


Obat afrodisiak yang telah digunakannya sedikit khusus, selain begitu kuat namun akan membuat siapapun yang mengkonsumsinya akan menjadi gila! Tetapi, Fatir tidak memiliki gejala apapun, sehingga membuat Sugeng menjadi bungung.


Sugeng dengan datar menambahkan, "Aku hanya perlu meminta orang - orang itu untuk menyingkirkannya..."


"Orang - orang itu?! Tuan muda, jangan bilang itu mereka?!..." Pengikut itu menjadi sangat panik hanya karena Sugeng ingin meminta bantuan dari orang - orang yang tidak biasa.


"Gulp!..." Pengikut itu tanpa sadar menelan seteguk ludah. Di masa lalu dia dan kelompoknya juga Sugeng secara tidak sengaja memasuki sebuah gunung dan menemukan peradapan yang cukup primitif.


Namun orang - orang di sana tidak biasa karena terlalu kuat. Bahkan dapat menghancurkan batu besar hanya dengan tangan kosong. Sugeng begitu yakin jika semuanya bukan setingan atau trik sulap tertentu, karena orang - orang super kuat itu benar - benar ada.


Jika saat itu mereka tidak meminta maaf langsung, mungkin semua pengikutnya akan di lenyapkan tanpa menyisakan satu yang bisa kembali.


"Besok, kita harus pergi ke pegunungan dan menemukan orang - orang yang memiliki kekuatan super ini. Bahkan jika Fatir ini akhirnya mati, dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri..." Kata Sugeng dengan seringai kejam.


Pengikut itu lalu menggaruk kepalanya dan bertanya, "Tuan muda, mengapa kamu begitu menginginkan wanita ini? Nona Tari benar - benar cantik, tetapi di Kota Malang, ada banyak sekali keindahan yang bisa menyenangkanmu tanpa di minta..."


Mendengar ini Sugeng tersenyum, kemudian berkata, "Kamu tidak mungkin memahaminya, Kecantikan seorang wanita hanya sekunder. Penampilan Lestari mungkin ada banyak yang bisa menandinginya di kota Malang..."


"Lalu mengapa tuan muda begitu keras mengejar Nona Tari?..." Pengikut itu bertanya dengan tidak mengerti.


Sugeng dengan tenang mengatakan, "Alasan mengapa aku ingin mendapatkannya, selain fakta bahwa dia cukup layak untuk ditaklukkan. Alasan lainnya, karena aku tidak akan melepaskan apapun ada siapapun yang aku inginkan..."


Pengikut itu mengangguk, walaupun dia masih tidak memahaminya dengan jelas, namun dia tetap mendukung keputusan Sugeng.


_


_


_


Pada saat yang sama, Fatir yang mengemudikam mobilnya, mulai merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.


"Fatir, kamu baik - baik saja?..." Tanya Lestari yang duduk di sampingnya. Dia melihat Fatir yang begitu berkeringat sehingga bertanya dengan khawatir.


"Aku sangat baik kakak ipar, Mungkin dengan istirahat akan mengembalikan kondisi tubuhku!..." Jawab Fatir sambil menurunkan suhu AC mobil, entah mengapa dia merasakan panas di sekujur tubuhnya.


Bersambung...