Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
106. Ciuman Intens



Berniat mempermalukan Fatir dengan hidangan barat dan minuman anggur mahal, namun berarti dengan mempermalukan dirinya sendiri. Sugeng merasa sial untuk kali pertama dalam hidupnya.


Baik, dia mengaku kalah dalam urusan minuman anggur mahal. Namun bagaimana dengan yang selanjutnya? Karena rencana miliknya belum berakhir.


"Itu benar, sepertinya Saudara Fatir benar - benar tidak biasa, tidak heran Nona Tari menjadikanmu suaminya..." Sugeng secara palsu tersenyum di wajahnya tetapi tidak dengan hatinya.


"Haha... Semua orang mengatakan hal yang sama, padahal karena aku begitu tampan sehingga banyak keindahan sangat ingin menjadi istriku..." Fatir tidak tertarik menemani pria munafik ini untuk berbincang. Dia dengan sengaja menambahkan kebohongan.


Lestari yang mendengarkannya ingin muntah di tempat. Namun dia tidak bisa membantahnya karena keduanya berpura - pura menjadi suami istri. Dia bertanya - tanya sejak kapan Saudara iparnya akan begitu narsis?


Sugeng sudah mencapai batas kesabaran, dia semakin membenci Fatir dan berharap jika rencananya berhasil, dia akan menyiksanya dan jika perlu mengulitinya hidup - hidup.


"Saudara Fatir bisa saja!..." Sugeng tidak tahu lagi harus mengekspresikan apa lagi dalam kemarahannya.


Fatir semakin menjadi - jadi. Dengan lugas mengatakan, "Tanpa keahlian di atas ranjang, bagaimana aku bisa menjadi suami Tari dan memiliki keluarga kecil? Bukankah itu benar, sayangku?..." Dengan mengatakan itu, Fatir melihat ke arah Lestari dengan ekspresi bertanya.


Lesung pipi Lestari tiba - tiba memerah. Meskipun dia tahu Fatir melakukan ini untuk membantunya menghentikan upaya Sugeng. Tetapi ketika dipanggil sayangku oleh Fatir, dalam situasi ini, hatinya hampir tidak tahan dan meleleh.


"Umm!..." Hati Lestari yang tidak siap hampir melompat ke luar, dia dengan kaku menganggukkan kepalanya, memberikan suara tipis persetujuan, dengan cepat menundukkan kepalanya dan kakinya bergerak untuk menginjak kaki Fatir yang ada di bawah meja, untuk menutupi rasa malunya dan sekaligus pembalasan.


Tentunya sakit, namun Fatir tidak merasakan apapun sehingga dia masih tenang seperti tidak terjadi apapun terhadapnya. Dia hanya melihat Lestari dengan senyuman di wajahnya. Fatir tidak lupa mengulurkan tangannya dan menyentuh tangan Lestari yang lembut dengan tatapan penuh cinta.


Melihat keduanya saling menatap dengan penuh cinta, Sugeng tidak bisa percaya bahwa pria entah dari mana ini benar - benar berani untuk menggoda langsung didepannya, dan bersama - sama bermain mesra dengan Lestari untuk mengabaikan dirinya sendiri.


Dengan satu tangan mencengkeram erat ke gelas anggur yang jernih, bahkan nadinya terlihat, kulitnya agak hijau karena marah ketika dia memaksakan tawa dan berkata: "Haha... Jadi kalian berdua sudah mengikat satu sama lain, aku benar - benar sulit mempercayainya..."


"Sulit percaya?!..." Fatir semakin tersenyum cerah, kemudian berkata, "Memang sulit bagi pria jomblo yang berpikiran sempit sepertimu..."


Apa! Jomblo berpikiran sempit?! Pikir Sugeng dengan tidak tahan lagi. Dia dengan datar berkata, "Pertama aku tidak percaya jika kalian pasangan, dan kedua aku yakin kalian hanya bersandiwara agar aku menyerah!..."


Perkataan Sugeng benar - benar tepat. Hal itu membuat Lestari panik dan tangannya bergetar sehingga membuat Fatir memahami kegelisahan di hati kakak iparnya tersebut.


"Haha... Jadi kamu tidak percaya?!..." Tanya Fatir, kemudian dia menarik Lestari agar lebih dekat sehingga mereka hampir bersentuhan. "Sayangku, apa yang harus kita lakukan agar pria ini mempercayai hubungan kita!..."


Lestari hanya memikirkan satu hal untuk membuat Sugeng mempercayai hubungan mereka. Itu adalah ciuman seperti yang Fatir katakan saat didepan hotel. Jika keduanya berciuman sekarang juga, maka tidak ada alasan bagi Sugeng untuk meragukan hubungan diantara keduanya.


Walaupun enggan memberikan ciuman pertamanya kepada suami dari adiknya sendiri. Namun Lestari tidak memiliki pilihan lain, jika kepalsuan mereka terbongkar. Maka Sugeng akan mengejarnya sampai ke ujung dunia sekalipun.


Menahan amarahnya, Sugeng mengerutkan bibirnya dan menyesap anggur merah. Akhirnya berbicara, dia tersenyum. "Sudahlah, akui saja jika tebakanku benar!..."


"Cusss!..."


Fatir menerima bibir merah lembut kakak iparnya itu dengan penuh kemenangan. Dia tentu saja memahaminya jika Lestari tidak memiliki pilihan lain selain melakukan ciuman langsung di depan Sugeng.


Tepat ketika keduanya hendak berpisah, Fatir mengulurkan tangan lainnya untuk menyentuh wajah Lestari dan menciumnya semakin intens. Fatir memainkan lidahnya untuk menghisap bibir harum kakak iparnya dengan lebih dalam.


Lebih dari lima menit berlalu, Fatir dan Lestari akhirnya berpisah dengan mulut mereka yang belepotan karena air liur. Bahkan lipstik di bibirnya telah menghilang dan digantikan dengan warna aslinya, namun Lestari tetap cantik setelah ciuman sebelumnya.


Dia benar - benar malu dan berpikir jika Fatir adalah pria bajingan karena menciumnya dengan begitu intens. Namun ketika berpikir jika ciuman hanya untuk menyakinkan hubungan mereka, membuat Lestari tidak berdaya.


Fatir yang tersenyum melihat Sugeng yang menjadi patung di tempat dengan mulut terbuka. Dia seperti tugu selamat datang di setiap jalan masuk ke kota besar. Sepertinya dia sedang kalah mental dan mendapatkan tekanan batin yang begitu besar.


"Sayangku, tidak seharusnya. kita berciuman di depan pria jomblo. Itu akan melukai perasaannya. Saudara Sugeng, kami benar - benar minta maaf..." Kata Fatir dengan sopan. Dia tidak dapat menyembunyikan perasaan atas kemenangan di hatinya.


Kata - kata Fatir membangunkan Sugeng dari keterkejutan di hatinya, Kemarahan tidak dapat di sembunyikan lagi, sehingga dia membuat suasana tegang di tempat tersebut. Dia dengan dingin berkata, "Hebat, Kalian benar - benar pasangan sejati. Jika begitu, habiskan makanan penutupnya..."


"Um!..." Lestari mengangguk dan hendak memakannya. Namun tangan Fatir menghentikannya.


"Ada apa?!..." Tanya Lestari dengan bingung.


"Sayangku! Kamu kan sedang diet. Makanan barat memiliki karbohidrat tinggi. Itu tidak baik untuk tubuhmu, Jadi biarkan aku saja menghabiskannya..." Fatir mengingatkan.


Tentunya dia memahami jika masakan barat di depannya telah tercampur dengan obat bius. Dan jika Lestari memakannya, itu akan membuatnya pingsan di tempat.


Sugeng ini benar - benar kejam, dia ingin membuat Fatir dan Lestari memakannya sehingga keduanya pingsan dan dia bisa menangkap keduanya dengan mudah.


Fatir tahu jika keduanya memasuki kandang buaya, sehingga memahami skema licik dari Sugeng. Jika sampai keduanya tertangkap maka tidak hanya Lestari di rugikan, namun Fatir bisa kehilangan hidupnya.


Segera Fatir mengambil garpu dan pisau tanpa kesulitan memakan menu masakan barat dan menghabiskannya, dia tidak lupa meminum tiga botol Champagne tahun 1989 yang ada di atas meja.


Melalui pemahamannya, Fatir sangat yakin jika tubuhnya mampu menahan obat bius dengan dosis tinggi. Sehingga memakan semua hidangan barat didepannya, bukan masalah sama sekali.


"....." Sugeng yang melihatnya hanya bisa terdiam. Apakah pria ini monster?


Lestari juga memikirkan hal yang sama, dia tanpa sadar melihat perut Fatir. Apakah semua makanan berada di perutnya? Tapi mengapa tidak besar sama sekali.


Bersambung...


*Belum revisi