
Bertamu ke rumah Pak Jamono, Fatir duduk di ruang tamu dengan sopan. Walaupun istri Pak Jamono tidak menyukainya, namun Fatir tidak memperdulikannya.
"Pak Jamono, tidak perlu repot - repot, aku hanya mampir sebentar saja..." Jawab Fatir sekali lagi. Karena wanita gemuk itu tidak ingin membuatkan minuman apapun, Fatir hanya bisa menerimanya.
"Biarkan aku yang membuatkan Kak Fatir minuman..." Kata Yeni dengan tidak puas kepada ibunya. Dia segera berlari kebelakang untuk membuatkan sesuatu.
Yeni sedikit malu dengan sifat ibunya yang pemilih. Hanya karena Fatir pengangguran dan tidak memiliki masa depan ibunya langsung menunjukkan ketidaksenangannya kepada Fatir.
Di masa lalu, Fatir beberapa kali memberikan bimbingan belajar dan itu meningkatnya nilai studi yang Yeni miliki. Kepintaran yang Fatir membuat dirinya benar - benar terpukau. Walaupun Fatir memiliki kekurangan, namun Yeni tidak memperdulikannya.
Ibunya hanya bisa diam cemberut ketika putrinya begitu bersemangat pergi ke dapur. Bagaimanapun putrinya masih terlalu muda sehingga tidak mengetahui seberapa sulit kehidupan orang dewasa.
Tak lama kemudian Yeni kembali dengan teh hangat di atas nampan dan meletakkannya di depan Fatir.
"Ayo di minum Kak Fatir..." Kata Yeni dengan malu.
"Maaf merepotkan..." Jawab Fatir.
Di bawah cahaya redup, suasana suram sedikit mencair setidaknya dengan beberapa obrolan singkat, Fatir mulai melupakan permusuhan yang muncul dari istri Pak Jamono.
Dari luar angin sepoi - sepoi bertiup melalui koridor, dan semuanya tampak sangat damai. Berbanding terbalik dengan kehidupan di kota pusat yang di penuhi dengan jalan raya yang penuh kemacetan, di tempat tersebut cukup santai dan nyaman.
Fatir meminum teh yang dibawakan oleh Yeni untuknya, dia tiba - tiba merasakan kepuasan yang tidak pernah dia alami sebelumnya. Teh buatan Yeni memang harus diakui karena manisnya pas dan aroma teh yang menghangatkan.
"Nak Fatir, apa yang kamu lakukan sekarang? Jika kamu tidak lagi tinggal di tempat mertuamu, bagaimana dengan istrimu? Seharusnya kehidupan di kota cukup sulit..." Kata Pak Jamono dengan rasa ingin tahu.
"Cukup baik, sekarang hanya menjalankan perusahaan kecil dan tinggal mandiri. Sedangkan istriku, kami masih memiliki hubungan yang baik..." Jawab Fatir sambil menyeruput teh yang ada di depannya.
Fatir tidak menjelaskan apapun tentang Maya dan bagaimana hubungan rumit yang dirinya miliki.
"Haha... Itu peningkatan yang luar biasa. Tidak banyak pemuda sepertimu menjalankan perusahaan..." Walaupun tidak tahu benar atau tidak, Pak Jamono merasa ikut senang mendengarnya.
"Hmph... Palingan hanya OB mana ada orang yang tidak memiliki apapun bisa menjalankan perusahaan?..." Istri Pak Jamono menjawab dengan geram. Dia menjadi sedikit kesal ketika Fatir menciptakan kebohongan.
"Bu, hargailah Kak Fatir, mungkin saja dia memang menjalankan perusahaan, dia kan Pintar, mungkin saja Kak Fatir bertemu dengan bos tertentu lalu mendapatkan pekerjaan sebagai manajer perusahaan..." Kata Yeni dengan membenarkan perkataan Fatir. Walaupun kedengarannya cukup sulit namun apa salahnya mempercayai perkataan Fatir.
"Yeni, kamu jangan terlalu dekat dengannya. Biasanya kamu sangat penurut dengan ibumu, mengapa sekarang kamu melawan?..." Kata wanita gemuk dengan tatapan permusuhan kepada Fatir.
"Yeni, jangan seperti itu. Tidak baik melawan perkataan orang tua..." Fatir memberikan nasehat. Walaupun Yeni berkata untuk dirinya, namun tidak baik bagi Yeni menyangkal perkataan Ibunya.
Yeni hanya mengangguk sedangkan Pak Jamono hanya menggeleng di buatnya.
"Yeni, apa yang kamu lakukan sekarang?..." Tanya Fatir dengan lembut.
"Itu bagus, Jika kamu masih menyimpan nomorku, kamu bisa menghubungiku ketika memiliki kesulitan..." Kata Fatir dengan senyuman lembut.
"Pasti Kak Fatir, aku akan melakukannya..." Jawab Yani dengan begitu senang.
Tetapi pada saat yang sama, sekelompok pria muncul dari kejauhan, dan seringai jahat terbentuk di wajah pemimpin kelompok itu ketika ia memperhatikan rumah Pak Jamono.
"Pak tua, uang yang pembayaran kontrakan sudah kamu siapkan?Kami membutuhkan uang tunai malam ini juga...'' Pimpinan itu menyeringai saat berbicara.
Pak Jamono dengan cemas melangkah keluar begitu juga dengan istri dan putrinya, sedangkan Fatir menjadi pria terakhir yang keluar dari dalam rumah itu.
"Tolong berikan kami waktu lagi, Malam ini kami benar - benar tidak memiliki uang sama sekali..." Kata Pak Jamono dengan cemas.
"Apa! tambahan waktu? Apa aku tidak salah dengar. Kemarin - kemarin meminta tambahan waktu, sekarang juga seperti itu. Pak Tua, Bos kami selaku pemilik komplek ini sudah tidak memiliki kesabaran lagi..." Kata pimpinan tersebut dengan kesal. Tetapi ketika melihat wanita muda dan cantik, dia langsung bersemangat.
"Tolonglah, bulan depan kami janji akan membayarnya dan semua tunggakan yang kami miliki..." Wanita gemuk itu menjadi begitu ketakutan. Dia tidak lagi memiliki sifat sombong seperti ketika ia menghadapi Fatir sebelumnya.
"Hmph... Kemarin bilang bulan depan sudah ada. Tetapi sekarang mengatakan hal yang sama. Maaf saja malam ini kalian harus pergi..." Pimpinan itu berkata dengan tegas.
Dia tahu kondisi ekonomi keluarga Pak Jamono cukup sulit, namun Bos mereka bukan badan amal yang menyediakan tempat tinggal secara gratis. Siapapun yang tinggal di komplek tersebut harus membayar uang sewa.
"Tapi uang sebanyak itu tidak bersama kami, kami tidak bisa meninggalkan tempat ini di malam hari..." Kata Yeni dengan merasa bersalah.
Andaikan uang itu tidak untuk membayar biaya universitas. Mungkin keluarganya tidak harus menunggak dalam melakukan pembayaran kontrakan.
"Kami cukup baik untuk datang dan secara pribadi melakukan penarikan! Alih - alih cara yang mudah, tapi kalian menginginkan cara yang sulit!..." Pimpinan itu menjilati bibir keringnya sambil menatap Tubuh Yeni.
"Bagaimana jika seperti ini, Bos kami memiliki tempat kerja yang membutuhkan karyawan wanita. Jika putrimu tidak keberatan, dia bisa bekerja di sana untuk membayar hutang kontrakan sampai lunas, Bagaimana?..." Pimpinan itu menambahkan.
"Kamu …" Saat Pimpinan itu menyelesaikan kalimatnya, Pak Jamono menyadari bahwa dia hampir menyinggung Bos pemilik komplek.
Pak Jamono dan istrinya memahami pekerjaan apa yang dimaksudkan. Itu seperti pekerjaan untuk wanita nakal yang harus menemani pria hidung belang di malam hari.
Semua orang terdiam, Keluarga Pak Jamono di bawah krisis yang cukup sulit. Mereka tidak mungkin meninggalkan komplek perumahan di malam hari. Dan yang lebih tidak mungkin membiarkan putri kesayangannya melakukan pekerjaan sebagai wanita nakal.
"Cepat putuskan, Memilih pergi malam ini juga, atau memilih membiarkan putri kalian ikut dengan kami untuk melunasi hutang kontrakan!..." Pimpinan itu menyeringai, begitu juga dengan orang - orang yang datang bersamanya.
Melihat semua yang terjadi di depannya, Tentunya Fatir dapat memahami semuanya secara kasar. Dia mengerutkan kening dan memijat kepalanya seolah - olah dia sakit kepala.
Kemudian Fatir melangkah ke depan dan membelakangi keluarga Pak Jamono, dia dengan acuh tak acuh berkata kepada Pimpinan itu dan orang - orang yang datang bersamanya, "Bagaimana jika tidak memilih keduanya?..."
Bersambung...