
Sepanjang jalan Fatir melintas, dia dapat melihat banyak hal yang menyesatkan mata.
Lampu berkedip di bar sangat mendukung pasangan mesum. Di sudut ada pasangan yang duduk berhadap - hadapan, berpelukan erat, membuat tawa menggoda dan membangkitkan gairah.
Sungguh membuat iri kaum jomblo.
Hanya beberapa langkah, Fatir didekati seorang gadis yang cantik seperti lukisan. Dia mengenakan gaun merah berpotongan rendah, memegang segelas anggur di tangannya, dan langkahnya sedikit goyah.
"Hei tampan, ingin minum denganku?..." Wanita itu memiliki suara yang cukup manis untuk melelehkan siapa pun yang mendengarnya.
Wanita itu tentunya tidak tahu jika sedang berbicara dengan siapa, karena dia mabuk, dia hanya secara acak menemukan pria asing.
Secara kebetulan dia melihat Fatir yang memiliki penampilan yang sangat menyenangkan mata, belum lagi tubuh wanita itu memanas sehingga langsung mendekatinya.
Fatir tidak dibutakan alkohol seperti wanita itu, sehingga dia dapat mengenali wanita itu dengan sangat jelas. Selain cantik, penampilannya terlihat tidak asing bagi Fatir karena wanita itu memiliki penampilan yang sama dengan istrinya.
Tidak mungkin istrinya memiliki saudara kembar, jelas - jelas dia satu wanita yang sama. Itu berarti wanita mabuk ini Mayangsari yang tidak menganggap Fatir sebagai suaminya.
Maya, Mengapa dia disini?
Tunggu dulu, mengapa dia tidak mengenalku?
Fatir segera menilai jika istrinya tersebut sedang dalam pengaruh alkohol dan yang terburuk obat afrodisiak.
Fatir mengerutkan kening dengan curiga, Dia dengan cepat meraih tangan Maya untuk memastikan dugaannya.
Tetapi Maya tertawa dengan cara mengejeknya, "Hey, kamu sangat menjengkelkan! Kami baru saja bertemu dan kamu sudah meraih tanganku begitu saja. Jika sesuatu terjadi padaku, kamu harus memberikan kompensasi yang sangat besar..."
Fatir tidak peduli dengan ocehan istrinya tersebut, dia dengan cepat memeriksa kondisi Maya, dan hasilnya seperti dugaannya.
Maya tidak hanya mabuk, tetapi afrodisiak sudah membuatnya kehilangan pikirannya sehingga dia tidak dapat mengenali siapapun yang ada di depannya.
Situasi ini cukup berbahaya, Pasti seseorang memiliki niat jahat terhadapnya, dan jika Fatir tidak bertemu dengannya. Maka istrinya akan berakhir tidur dengan pria lain.
Mengetahui ini tentunya Fatir sangat kesal, dia sudah menikah selama tiga tahun tetapi tanpa mendapatkan, apa yang biasanya para suami dapatkan dari istri mereka.
Walaupun Maya tidak menganggap dirinya layaknya suami sungguhan, Namun Fatir tidak akan membiarkan istrinya jatuh ke tangan pria lain.
Hal mengejutkan benar - benar terjadi, Maya melilitkan tangannya ke leher Fatir tanpa peringatan dan tanpa sadar menjatuhkan gelas anggur yang ada di tangannya.
Maya tersenyum miring. Sepertinya karena afrodisiak membuatnya kurang lebih tertarik pada Fatir. Bahkan jika dia memiliki trauma tertentu terhadap hubungan seksual, tetapi pikirannya benar - benar tidak terkontrol lagi.
Dengan lembut dan terampil, dia memeluk Fatir, "Kamu pasti ingin ngesek denganku kan? dasar penjahat kelamin..."
Diam!
Fatir tidak bisa berkata - kata, sejak kapan dirinya menyandang gelar yang begitu terhormat.
"Tolong jangan lakukan itu kepadaku..." Mungkin dia masih sedikit berpikiran jernih, Maya dengan marah mendorong Tubuh Fatir kebelakang, tetapi seberapa kuat dia mendorong, Fatir tidak berpindah sama sekali.
Fatir sekali lagi terdiam. Yang pertama kali memeluk adalah istrinya, dan bukan Fatir. Mengapa terkesan jika Fatir yang memaksanya.
Tubuh Maya sedikit bergetar, trauma ketakutan dan keinginan berhubungan seksual, saling tumpang tindih. "Berhenti, apa kamu sudah bosan hidup? Tunggu saja di sana! bagaimana aku akan membuatmu menyesal..."
Begitu kata - kata itu keluar dari mulutnya, dia dengan kasar berjalan ke arah sekelompok orang yang minum di sudut.
Fatir merasakan kenikmatan ketika Maya memeluknya, Tetapi segera bingung karena Maya memiliki tubuh bergetar hebat. Dia belum pernah begitu dekat dengan istrinya tersebut, apa lagi lebih mengenal lebih dalam tentang Maya.
Mengetahui kondisi Maya yang tidak terkendali lagi. Fatir kemudian berjalan ke meja dan mengosongkan beberapa cangkir minuman beralkohol. Setelahnya Fatir mengikuti kepergian istrinya.
"Haha... Bos, wanita cantik ini datang dengan sendirinya..."
"Benar, kita baru saja akan menyusulnya..."
"Sepertinya dia sudah kehilangan akal sehatnya dan tidak dapat berfikir dengan normal..."
Kelompok tersebut menyeringai dengan kejam, seolah harimau melihat mangsanya datang mendekat.
Maya yang tidak mengingat apapun, segera memeluk lengan seorang lelaki besar yang menjadi pimpinan kelompok tersebut dan berseru dengan keras sambil menunjuk kearah Fatir yang mendekat, "Dia sangat jahat, tolong bantu aku memukulnya sampai mati!..."
Inilah mengapa minuman beralkohol sangat tidak bersahabat untuk sebagian orang. Itu karena akan mempengaruhi seseorang untuk bertindak di luar keinginannya.
Pimpinan kelompok tersebut menyeringai, dia memperhatikan kedatangan Fatir, lalu dengan jijik ia memberi isyarat kepada dua bawahan untuk maju dan memberikan Fatir sebuah pemukulan.
"Nona, kamu bisa tenang... Kamu aman bersama kami..." Pimpinan tersebut tertawa dan menyarankan Maya untuk berlindung di dalam sebuah ruangan yang di pesan olehnya.
Karena tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, Maya menurut begitu saja. Tanpa mengetahui jika dia masuk ke kandang serigala.
Kedua bawahan itu dengan jahatnya mendekati Fatir dan tanpa menunggu Fatir untuk merespons, mereka memberikan pukulan keras kearah Fatir.
"Whooss..."
Fatir bahkan tidak peduli apa lagi memperhatikan serangan mereka berdua. Ekspresinya sangat tenang saat dia mengangkat tangan kanannya dan dengan lembut menyentuh dua tinju yang datang kearahnya.
"Arrghh!..."
Kedua bawahan itu berteriak kesakitan sebelum jatuh di tanah sambil memegang tangan mereka dan berguling tanpa henti.
Tangan kedua bawahan itu nampak terbalik, padahal keduanya memiliki kemampuan bertarung di atas rata - rata, tetapi tidak cocok sama sekali dengan Fatir.
Adegan yang baru saja terjadi di bar itu tampaknya luar biasa. Terlepas dari kenyataan bahwa perkelahian sering terjadi, tidak ada yang pernah melihat kelompok tersebut menyinggung orang yang kuat seperti Fatir.
Segera banyak orang mulai melihat Fatir karena penasaran dan terpukau dengan gerakan sebelumnya.
"Sial, dia melukai saudara kita..."
"Dia mencari mati, ayo habisi dia..."
"Benar... Sepertinya dia Tidak tahu siapa kita..."
"Semuanya, bergerak, dan jangan mengecewakan bos kita..."
Semua pengikut kelompok tersebut mengelilingi Fatir dan langsung menghujaninya dengan tinju mereka. Tetapi mereka harus menyesali tindakan mereka karena tidak tahu dengan siapa mereka berhadapan.
"Baaaang!..."
"Kraaakkk!..."
"Arrrggghhh!..."
Satu persatu diantara mereka di lumpuhkan hanya dengan satu pukulan. Sosok Fatir benar - benar tak terkalahkan.
"Sayang sekali aku lupa memberikan nasihat kepada kalian semua untuk menyingkir..." Fatir menggeleng dan terus berjalan ke sebuah pintu yang tertutup. Di dalam terdapat istri dan pimpinan kelompok tersebut.
Beberapa pengunjung bar yang melihat tindakan Fatir hanya bisa ketakutan. Siapapun yang pintar tidak ada yang berani menjadikan Fatir sebagai musuh mereka, apa lagi menyinggungnya.
Bersambung...