
Lestari yang melihat sikap Fatir dan segala tindakannya, hanya bisa tersenyum dan mendukungnya.
Di bandingkan dengan di masa lalu, semuanya benar - benar berbanding terbalik. Lestari Tidak pernah menyangka jika sosok adik ipar yang dulu tidak dia pedulikan telah menjadi begitu luar biasa.
Ini membuatnya semakin tertarik terhadap Fatir. Terkadang hati kecilnya merasakan iri dan berkecil hati, ketika kebenaran Fatir sudah menikah dengan adiknya sendiri.
Andaikan Fatir menikah dengan dirinya, mungkin akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Karena tipe pria yang selalu dia inginkan telah tergambar dengan jelas pada sosok Fatir.
Berbeda dengan Lestari yang memikirkan seseorang yang tidak jelas, Tentunya Silfi memiliki pemikiran yang berbeda. Itu karena Fatir telah mencuri hatinya tanpa dirinya sadari. Tidak ada yang tahu pemikiran gadis nakal itu, yang jelas ada keinginan untuk mendapatkan Fatir sebagai kekasihnya.
Fatir tidak memahami pola pikir kedua keindahan itu, dia memberikan penjelasan tambahan kepada semua orang, "Mari kita membahas jenis penyakit yang dimiliki tuan Sasongko..."
"Pertama, aku ingin bertanya sesuatu! Apakah tuan Sasongko pernah mengalami kecelakaan?..." Tanya Fatir dengan percaya diri.
Seno, Silfi dan Pak tua sasongko terdiam ketika mendengar pertanyaan tersebut. Menurut mereka, sosok Fatir lebih layak di sebut Dukun dari pada para penipu sebelumnya. Itu karena pertanyaan Fatir begitu tepat dan Pak tua sasongko benar - benar mengalami kecelakaan sekitar satu tahun yang lalu.
"Itu benar, Sebenarnya aku mengalami jatuh dari anak tangga pada tahun lalu. Dan sejak saat itu aku mengalami sakit kepala yang luar biasa. Setidaknya aku merasa sakit dalam tiga sampai lima kali sehari, dan tidak pernah menghilang sampai sekarang ini..." Jawab Pak tua sasongko secara pribadi.
Fatir mengangguk dan menjelaskan, "Ya, dari sanalah saraf tuan Sasongko terjepit sehingga mengalami penyempitan pembuluh darah. Tentunya tidak ada teknologi yang dapat mendeteksi hal tersebut sehingga tidak ada penanganan yang tepat untuk kasus ini..."
Bukan hanya terdengar mengagumkan setiap penjelasan dari Fatir? tetapi membuat pemahaman mereka terhadap penyakit Pak tua sasongko semakin tercerahkan.
"Baiklah, kita aku akan langsung menyembuhkannya!..." Fatir menyuruh Pak tua sasongko melepaskan pakaian yang dia kenakan, sehingga memperlihatkan tubuhnya yang kurus dan berkerut.
"Metode ini hanyalah sebuah pijatan saja, jadi tolong di tahan rasa sakit yang akan kamu rasakan!..." Fatir memberikan penjelasan terakhir sambil menyentuh bahu pria tua yang ada di depannya.
Tentunya tidak mungkin Fatir menjelaskan lebih lanjut tentang teknik pijat yang akan dia lakukan. Karena tidak mungkin ada yang bisa melakukan teknik tersebut selain dirinya.
Segera Fatir memijat Pak tua sasongko dengan mengirimkan energi Qi miliknya, untuk membuat tubuh pria yang ada di depannya mengalami rasa sakit yang tak terbayangkan.
"Aaaahhhh!..."
Pak tua sasongko menjerit kesakitan dan tubuhnya yang tua dengan perlahan berkeringat. Pijatan Fatir tidak hanya membuat beberapa bagian organ tubuhnya kembali ke posisi awal. Namun juga memberikan kebugaran yang tak terbayangkan.
"Ahhh!..."
Seno, Silfi dan Lestari hanya melihat Fatir memijat pria tua itu dengan lembut. Namun tidak mereka tidak berani menghentikannya, walaupun pria tua itu terus menerus berteriak.
Waktu berlalu dangan tidak terasa dan Fatir telah memberikan pijatan selama kurang dari tiga puluh menit, namun dia seperti menghabiskan semua energi Qi yang dimilikinya.
Mendapatkan warisan pertapa agung, bukan berarti Fatir tak terkalahkan. Dia juga memiliki jumlah energi Qi yang terbatas dan jika dia memiliki lawan yang sebanding atau lebih kuat darinya, mungkin akan kerepotan dan yang terburuk adalah kalah.
Di masa depan, sudah seharusnya dia melatih keterampilannya lagi dan meningkatkan kultivasinya. Tentunya dia membutuhkan sumber daya yang besar, jika tidak. Fatir akan kesulitan untuk menjadi lebih kuat dari dirinya yang sekarang.
"Selesai!..." Kata Fatir dengan senyuman melelahkan. Dia langsung duduk bersandar pada sofa dan mengambil minuman yang ada di atas meja.
"Apakah sudah selesai?!..." Silfi bertanya dengan bingung, di matanya sosok Fatir hanya menyentuh punggung, bahu, tengkuk leher dan yang terakhir berada pada area betis.
Bukankah itu hanya pijatan biasa?
"Ayah, bagaimana kondisimu?..." Tanya Seno.
Fatir adalah orang terakhir yang menjadi harapannya, dan jika ini juga sia - sia. Maka tidak ada lagi harapan untuk sembuh.
Semua orang tentunya mengharapkan kesembuhan yang sama. Dan tidak ingin mendengar jawaban seperti yang terakhir kalinya.
Pak tua sasongko masih diam, dia melihat sekelilingnya kemudian senyum cerah menghiasi wajahnya yang tua.
"Whooossss!..." Dia tidak hanya disembuhkan tapi melompat kebelakang beberapa kali seperti atraksi pertunjukan.
"....." Semua orang yang melihatnya terdiam.
Tindakan akrobatik yang pak tua sasongko lakukan, tidak cocok untuk usianya yang tua. Namun itulah faktanya, jika mereka tidak melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri, Maka mereka tidak akan pernah mempercayai selain menganggapnya sebuah kebohongan belaka.
Kedua mata Seno menyala. Dia sangat yakin jika kondisi ayahnya sangat baik. Mungkin yang terbaik sebelum jatuh dari anak tangga. Jika dia ingat dengan benar, ayahnya memiliki cedera ketika yang cukup lama, dan itu terlihat baik - baik saja.
"Luar biasa!... Ini keajaiban. Tidak hanya sakit kepalaku menghilang. Namun tubuhku seperti berusia dua puluh tahun lebih muda... Haha..." Pak tua sasongko tertawa terbahak - bahak.
"Tidak dak hanya itu, bahkan cedera lamaku juga telah menghilang. Ini sebuah keajaiban!..." Pak tua sasongko menambahkan.
Jika semuanya hanya mimpi, itu hanya pemanis kehidupan. Namun kesembuhannya adalah nyata, sehingga dia begitu bersyukur dan bahagia.
Pak tua sasongko berjalan kearah Fatir dan langsung berlutut di depannya. Jika bukan karena Fatir, dia tidak akan pernah sembuh dari kondisi yang begitu menyiksanya. Kemudian dia berkata, "Tuan terimalah aku jadi muridmu..."
"....." Fatir tidak bisa berkata - kata.
Mereka yang ada di sana juga terkejut dengan perkataan pak tua sasongko. Namun, Jika mereka melihat tindakan Fatir maka tidak ada yang di salahkan jika menjadi murid dari pria yang memiliki kekuatan nyata.
"Jika ayah menjadi muridnya, maka aku akan menjadi muridnya juga..." Seno langsung berlutut di dekat ayahnya. Mereka sangat yakin jika kemampuan Fatir tidak hanya baik dalam pengobatan saja, mereka juga yakin jika Fatir menjadi Seniman bela diri juga.
Silfi yang melihat kelakuan bodoh keduanya hanya tersenyum kecut. Itu karena dia tidak tahu apakah harus menjadi muridnya juga atau tidak. Selain itu ada ekspresi rumit diwajahnya yang mungil.
Di masa lalu, dia memiliki perselisihan dengan Fatir. Namun siapa yang berharap jika Fatir akan menjadi dermawan keluarga sasongko. Setidaknya dia lebih baik dari Anjas yang membawa seorang penipu berkedok Dukun.
Fatir yang melihat keduanya hanya bisa menggeleng, kemudian berkata, "Kalian berdua, tolong kembali duduk dengan benar. Aku bukan guru kalian dan juga tidak ingin memiliki murid. Setidaknya aku memenuhi tugasku atas permintaan Nona Silfi..."
Ketika keduanya melihat kearah Silfi mereka menjadi tidak bisa berkata - kata. Di masa lalu gadis ini selalu membuat masalah keluarga sasongko. Bahkan dapat membuat mereka kesulitan mengendalikan sifatnya yang liar.
Namun siapa sangka jika suatu saat nanti, Silfi akan memberikan bantuan besar. Seno dan ayahnya sangat menyadari, Tanpa Silfi meminta bantuan Fatir langsung, semuanya tidak akan terjadi dan pria tua sasongko akan tetap sakit - sakitan sampai akhir hidupnya.
"Putriku, kamu luar biasa terimakasih!..."
"Cucuku! terimakasih banyak!..."
Kata keduanya dengan tulus. Untuk beberapa lama, mereka berdua tidak pernah berterimakasih kepada Silfi yang selama ini melanjutkan jenjang pendidikannya di kota jakarta.
"Hmm! tentu saja!..." Jawab Silfi dengan malu.
Bersambung...