
Mendengar perkataan Mary, membuat Fatir senang. Akhirnya ada juga aktivitas pekerjaan untuk dirinya.
Menjadi Ketua perusahaan, sangatlah membosankan. Selain memberikan tanda tangannya. Fatir hanya menunggu dengan bosan.
"Nona Mary, Apa yang harus aku lakukan?!..." Tanya Fatir.
"Ketua, Jika kamu tidak keberatan. Mengapa kita tidak melakukan makan malam bersama..." Kata Mary dengan tersenyum menggoda.
Tawaran Mary bukanlah hal buruk, Namun ada sesuatu yang salah. Bukannya Fatir membutuhkan aktivitas pekerjaan! Mengapa harus di makan malam berdua?!
Sepertinya, Otak Mary. Isinya hanya menyenangkan Ketua baru tanpa harus memikirkan konsekuensinya.
Fatir sangat yakin, jika dirinya menerima penawaran dari Mary. Maka malam ini keduanya akan berakhir tidur di hotel. Untuk pria yang memiliki sedikit pengalaman, tentunya Fatir tidak boleh melewatkan kesempatan ini.
Sayangnya, sebelum Fatir memberikan jawaban, Ponselnya berbunyi.
Sial, siapa sih yang menelpon di saat situasi sakral?
"Mary, Tunggu sebentar..." Kata Fatir dengan cepat mengeluarkan ponselnya.
Melihat ponsel murah Fatir, membuat Mary terheran - heran. Mengapa Ketua baru yang begitu kaya raya masih menggunakan ponsel murah?
Tentunya, Fatir belum sempat untuk mengganti ponsel lamanya tersebut. Dia tidak memiliki waktu membeli yang baru dan dengan terpaksa masih menggunakan ponsel lamanya.
Fatir tidak mengetahui tentang pemikiran Mary, dia membuka ponselnya dan menemukan. Jika yang menghubunginya adalah Istri yang tidak menganggapnya.
Benar juga, aku masih memiliki istri! Fatir langsung menerima panggilan telepon tersebut tanpa penundaan.
"Halo!..."
"Di mana kamu, Temani aku untuk pergi keluar..." Maya berbicara dengan datar melalui panggil tersebut.
Apa!
Fatir terdiam, Ini pertama kalinya Dia mendengarkan istrinya untuk memintanya keluar bersama. Apakah Fatir salah dengar?!
Keduanya berada di dalam pernikahan palsu selama lebih dari Tiga tahun. Selain menghabiskan beberapa kata pembicaraan. Keduanya bagaikan dua orang asing yang tinggal satu rumah.
Yang pasti, Fatir dan istrinya tidak pernah menjadi pasangan pernikahan pada umumnya.
"Mengapa aku harus menemanimu keluar?..." Fatir merasa ingin tertawa.
Fatir cepat atau lambat akan menceraikan istrinya. Mengapa Dia harus menyenangkan istrinya. Dia hanya perlu memberikan uang sebanyak 100 juta untuk kompensasi atas perceraian.
Semuanya bisa Fatir lakukan dengan mudah. Karena istrinya menelponnya lebih awal, Fatir hanya perlu bertemu dengannya dan mengatakan perceraiannya secepat mungkin.
Bagus, ide yang cemerlang!
"Siapa juga yang menginginkanmu! Aku menghubungimu karena tidak memiliki pilihan lain. Katakan di mana kamu aku akan menjemputmu..."
Mendengar tanggapan istrinya, Fatir langsung menyanggupi.
"Baik..." Fatir langsung mengirimkan lokasi dirinya saat ini berada, kemudian mematikan ponselnya.
"Maaf membuatmu menunggu!..." Kata Fatir dengan nada bersalah kepada Mary.
"Bukan masalah..." Jawab Mary dengan tersenyum.
"Mary, ada sesuatu yang mendesak. Jadi aku harus pergi..." Fatir menjelaskan dengan tulus.
Walaupun dia enggan menolak tawaran Mary, namun perceraian dirinya adalah yang pertama dan harus di selesaikan lebih cepat.
"Ketua, tidak perlu merasa bersalah..." Walaupun di wajahnya, Mary tersenyum. Namun di hatinya, dia hanya bisa bersedih.
"Baiklah aku pergi..." Fatir meninggalkan sosok Mary dengan begitu baik dan indah lalu menghilang di kejauhan.
Sungguh pria yang bodoh, di saat ada yang pasti di depannya. Mengapa harus memilih yang tidak jelas?!
Fatir keluar dari perusahaan Angkasa Grup cabang jakarta. Dia tidak mengemudikan mobil Bugatti miliknya melainkan menunggu Maya di depan gerbang masuk perusahaan.
Di dalam mobil, Maya sedikit bingung. Dia mulai mengingat, jika tempat yang dirinya menjemput Fatir adalah Perusahaan besar. Angkasa Grup.
Mengapa suaminya ada di sana?
Mungkinkah suaminya ingin melamar pekerjaan di sana?
Benar, pasti seperti itu.
Demi membayar denda kontrak pernikahan. Tentunya Fatir harus mendapatkan uang. Dan pilihan pertama adalah dengan menemukan pekerjaan tetap.
Perusahaan Angkasa grup, adalah tempat terbaik untuk mendapatkan uang. Namun memiliki pemilihan ketat. Jika seseorang tidak memenuhi syarat, maka hanya akan berakhir dengan kegagalan.
Maya keluar dari mobil dan berjalan kearah Fatir. Dia sedikit terkejut dengan penampilan suaminya yang sekarang. Lebih tepatnya, sulit untuk mempercayainya jika pria tampan ini adalah suami yang tidak dia anggap.
Maya tahu jika suaminya memiliki penampilan yang enak di pandang. Namun dia miskin dan banyak kekurangan yang di miliknya.
Pastinya, dia harus berpenampilan seperti ini hanya untuk melamar pekerjaan. Pikir Maya untuk menenangkan pemikiran liarnya.
"Ayo pergi..." Kata Maya dengan niatan membuka pintu.
"Tunggu... Aku ingin melakukan perceraian sekarang juga..." Kata Fatir dengan datar.
Seketika tangan putih salju Maya berhenti sebelum menyentuh gagang pintu mobil. Dia sekali lagi melihat suaminya dengan terkejut.
Ingin bercerai?! Jelas suaminya belum di Terima sebagian karyawan magang. Pastinya belum mendapatkan gaji pertama. Hal ini membuat Maya sedikit kesal dengan suaminya.
"Berhentilah bersikap seperti itu. Bisakah kamu tidak bercanda lagi denganku. Aku tahu ini mendadak, namun kamu harus ikut denganku sekarang juga..." Kata Maya dengan nada kesal.
Fatir mulai berpikir, mungkin akan lebih baik melakukan perceraian ketika dia membayar denda 100 juta. Sekarang dia hanya perlu mengikuti Maya.
"Baik, Tapi. Bisakah aku yang mengemudi?..." Kata Fatir dengan berjalan mendekati Maya. Karena dia memiliki badan yang lebih tinggi. Fatir menatap Maya sedikit condong kebawah.
Maya sedikit terkejut, dia menatap Fatir dengan curiga.
Sejak kapan suaminya dapat mengemudikan mobil?
Dalam tiga tahun menikah, Dia tidak pernah melihat Fatir mengemudikan mobil. Paling banyak menggunakan sepeda gayung.
Fatir tersenyum kecil, di bawah tatapan istrinya, dia membuka pintu mobil dan duduk di tempat pengemudi sambil mengencangkan sabuk pengaman.
"Ayo masuk, mengapa bengong!..." Kata Fatir saat dia melihat istrinya yang terdiam.
Maya masih memiliki ketidak percayaan di hatinya, Namun dia masih memutuskan untuk duduk di penumpang depan.
Fatir sedikit tersenyum, dia memutar kunci mobil dan menghidupkan mesinnya lalu melajukan mobil tersebut di jalan raya kota jakarta.
Sebenarnya, sosok Maya tidak terlalu buruk di lihat dari manapun. Dia salah satu keindahan, yang cukup sulit di temukan secara acak.
Seharusnya, Fatir cukup beruntung ketika menikahinya secara sah. Sayangnya, istrinya tidak mencintainya sama sekali.
Melhat istrinya yang cantik, Fatir bertanya dengan rasa ingin tahu. "Kemana tujuan kita..."
Maya yang terkejut dan termenung, akhirnya tersadar, karena perkataan Fatir.
"Gedung Graha..." Jawab Maya.
Gedung Graha, jakarta selatan. Salah satu gedung terbaik yang biasanya di pesan untuk melakukan pertemuan, pesta pernikahan, dan lain sebagainya.
Fatir tidak bertanya lebih lanjut, dia hanya memutuskan untuk mengemudikan mobilnya agar sampai lebih cepat.
"Apakah kamu sudah mendapatkan pekerjaan di Perusahaan Angkasa grup?!..." Entah mengapa Maya bertanya untuk mencairkan suasana di dalam mobil yang begitu canggung.
"Begitulah..." Fatir mengangguk. Untuk pertama kalinya keduanya memiliki topik pembicaraan yang sama.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan selain duduk - duduk saja, Ini hanya pekerjaan yang membosankan..." Jawab Fatir dengan jujur. Namun dia tidak mengungkapkan dirinya yang menjadi Ketua baru perusahaan Angkasa grup.
Melalui penjelasan Fatir, Maya hanya menduga jika Fatir berkerja di bidang keamanan perusahaan Angkasa grup.
Bersambung...