
Tindakan Fatir tentunya mengejutkan semua orang, tidak terkecuali keluarga Pak Jamono. Mereka tidak berharap jika Fatir yang pendiam akan berbicara untuk mereka.
Segera pimpinan tersebut dan orang - orangnya tidak puas dengan tindakan yang Fatir lakukan. Mereka lebih senang jika Fatir tidak ikut campur, dengan begitu mereka bisa membawa Yeni untuk dikerjakan sebagai wanita penghibur.
"Kamu!..." Kata pimpinan tersebut dengan dingin. Dia tidak menyukai Fatir yang berusaha ikut campur.
"Jika tidak memilih keduanya, maka kami akan menggunakan kekerasan..." Kata salah satu diantara mereka dengan menyeringai. Jumlah mereka sekitar lima pria dewasa, dan jika untuk berurusan dengan Fatir. Itu tidak akan banyak usaha.
Satu orang dari mereka mulai tertawa, "Apakah bocah ini berpikir ingin menjadi pahlawan kesiangan?..."
"Haha... Bro ini sudah malam. Jadi bukan pahlawan kesiangan lagi..." Yang lainnya menambahkan.
Pimpinan kelompok tersebut seperti sedang menonton lelucon terlucu di dunia, kemudian tersenyum jahat, "Semuanya beri dia pelajaran..."
Mata mereka menunjukkan sekilas kekejaman saat mereka melihat kearah Fatir.
Sedangkan Fatir mulai kehilangan ketenangannya dan berkata sambil menatap mereka. "Datanglah!..."
"Aaahhhh!..."
Suara teriakan menggema di depan kediaman keluarga Pak Jamono. Itu menggambarkan rasa sakit dan seberapa kuat pukul Fatir.
Antek - antek pimpinan itu benar - benar dihancurkan oleh Fatir yang hanya seorang diri tanpa kesulitan apapun.
Pimpinan mereka dibuat terdiam membeku ketika melihat apa yang terjadi di depannya. Dia tidak pernah mengira akan seperti ini hasilnya.
Ketika pimpinan kelompok tersebut akan bergerak. Tapi Fatir sudah berada begitu dekat dan langsung memberikan pukulan pada perutnya.
"Ahhhh!..."
Pimpinan kelompok tersebut merintih kesakitan. Dia hanya bisa menyimpan kebencian kepada Fatir sambil memikirkan pembalasan.
"Kamu... Lihat saja nanti, kalian semua akan berakhir malam ini juga..." Pimpinan itu berteriak. Dia membantu bawahannya untuk berjalan pergi dari kediaman keluarga Pak Jamono.
_
_
_
Setelah kepergian mereka, Pak Jamono dan keluarganya mulai terbangun dari ketermenungan. Mereka seharusnya bahagia karena Fatir membantunya, namun tidak ada jejak kebahagiaan selain jejak kekhawatiran.
"Kamu!... Apa yang kamu lakukan?..." Wanita gemuk itu berkata dengan marah.
Pemilik komplek perumahan adalah seorang Bos besar yang memiliki bawahan preman yang cukup tangguh. Dan jika menyinggung mereka, akan memiliki akhir yang buruk.
"Bibi, aku hanya membantu..." Kata Fatir dengan berterus - terang.
"Apa membantu? Kamu tahu siapa mereka? Tidak ada akhir yang baik jika menyinggung Bos pemilik komplek ini. Kamu bukan membantu kami, melainkan membuat masalah untuk keluarga kami..." Wanita gemuk itu berkata dengan tubuh bergetar.
"Bu, Kak Fatir hanya membantu kita. Dia hanya membela diri, karena mereka dulu yang ingin memukul Kak Fatir..." Yeni tentunya berkata untuk Fatir. Dia sangat ketakutan sebelumnya ketika para pengganggu ingin dirinya bekerja sebagai wanita penghibur. Namun Fatir membantunya sehingga dia merasa hangat di hati.
"Sudahlah, jangan salahkan Fatir. Dia hanya membantu keluarga kita..." Pak Jamono akhirnya angkat bicara. Bagaimanapun dirinya tidak punya uang untuk membayar uang kontrakan.
Pak Jamono juga tidak ingin jika putrinya menjadi wanita penghibur. Namun situasinya sudah cukup rumit. Dan tidak ada kata baik jika berurusan dengan Bos di belakang kelompok sebelumnya.
"Yah, apa yang harus kita lakukan. Minta maaf saja tidak akan cukup, pasti mereka akan datang lagi dengan membuat kita membayar harga besar..." Kata Wanita gemuk itu dengan ketakutan. Dia masih marah terhadap Fatir namun marah saja tidak akan menyelesaikan masalah.
"Yah, kita akan pergi kemana malam - malam seperti ini. Apakah malam ini kita harus tidur di kolong jembatan?..." Kata wanita gemuk itu dengan enggan.
"Kita tidak memiliki pilihan lain. Tidur di bawah kolong jembatan juga tidak buruk..." Jawab Pak Jamono dengan tersenyum pahit.
"Tunggu, kalian tidak perlu pergi dan tidak harus tinggal di bawah kolong jembatan..." Kata Fatir dengan menghentikan keluarga Pak Jamono. "Aku akan membantu kalian melunasi uang sewa kontrakan, jadi kalian bisa tenang sekarang..."
"Apa kamu bilang?... Kamu pikir berapa uang yang kamu miliki? Jika tidak punya uang, lebih baik kamu diam saja..." Kata wanita gemuk itu dengan kebencian.
Semua ini adalah kesalahan Fatir yang bertamu ke rumah mereka. Jika tidak, pastinya tidak ada masalah yang menimpa mereka.
"Bibi, aku punya sedikit uang dan sangat yakin jika dapat melunasi uang sewa kontrakan kalian..." Jawab Fatir dengan tersenyum.
"Hmph, Siapa yang akan percaya. Jangan berbohong kepada kita. Bahkan jika kamu bisa melunasi uang sewa kontrakan kami. Tapi kamu sudah menyinggung mereka dan tidak mungkin kita lepas dari mereka..." Wanita gemuk itu benar - benar sedih.
"Bu, cukup jangan marahi Kak Fatir lagi..." Kata Yeni dengan menghentikan ibunya yang mengamuk.
Yeni juga tidak percaya jika Fatir dapat melunasi uang sewa kontrakan mereka, namun tidak seharusnya Ibunya memarahi Fatir yang berniat mengulurkan bantuan.
_
_
_
Di tempat lain.
Bos Tono sedang duduk di mobilnya yang begitu nyaman. Dia selaku pemilik komplek perumahan dan malam ini dia menunggu uang sewa dari bawahannya.
"Kalian mengapa terluka seperti ini?..." Bos Tono mendengus dingin.
Kelompok tersebut terluka karena mendapatkan pemukulan dari Fatir. Mereka ingin meminta bantuan Bos Tono untuk memberikan pelajaran kepala Fatir.
"Bos, kami melakukan tugas dengan baik. Namun harus gagal karena ada pria yang sok menjadi pahlawan dan memukuli kami..." Pimpinan kelompok itu menjelaskan sambil kesakitan.
"Apa! Kalian tidak berguna, Siapa yang memiliki keberanian sebanyak itu di wilayahku?..." Kata Bos Tono dengan marah.
Dia tidak akan membiarkan seorangpun yang begitu berani melawan bawahannya di wilayah miliknya begitu saja. Segera Bos Tono dan semua bawahannya berjalan pergi ke tempat kediaman Pak Jamono.
"Bos... Itu orangnya..." Pimpinan kelompok tersebut langsung mengarahkan jari telunjuknya kearah Fatir yang berdiri di kejauhan.
"Jadi Itu orangnya?..." Kata Tono dengan datar.
Keluarga Pak Jamono bergidik ketakutan ketika melihat kedatangan Bos Tono dan bawahannya. Dia hanya bisa pasrah karena tidak cepat - cepat meninggalkan tempat tersebut.
"Beraninya kamu memukuli bawahanku, Kamu mencapai mati..." Kata Bos Tono dengan kemarahan.
Fatir membalikkan tubuhnya. Dia akhirnya melihat Bos dari kelompok sebelumnya. Kemudian berkata, "Jadi, apakah kamu ingin menuntut balas?..."
Bos Tono yang awalnya begitu bringas langsung menjadi ketakutan seolah melihat leluhurnya secara langsung. Dia dengan gugup berkata "Tuan!... Maaf, aku tidak tahu jika itu kamu..."
"Kamu mengenalku?..." Fatir merasa begitu Familiar dengan Pria besar di depannya. Namun dia lupa di mana dirinya bertemu dengan Bos kelompok tersebut.
Semua orang hanya bisa tercengang ketika melihat Bos Tono yang terkenal galak akan begitu ramah terhadap seseorang yang jauh lebih muda darinya.
Semua orang hanya memiliki satu pemikiran yang sama, siapa Fatir dan mengapa Bos Tono begitu takut kepadanya?
Bersambung...