
Suara teriakan Yeni cukup keras, sehingga dapat di dengar sampai ke kamar Pak Jamono dan istrinya.
Keduanya terbangun dan melihat sekeliling dengan seksama. Walaupun teriakan itu hanya sekali, namun keduanya begitu yakin jika teriakan tersebut milik Yeni.
"Buu, Yeni berteriak sepertinya dia berada di dalam masalah..." Kata Pak Jamono dengan khawatir terhadap putrinya itu.
"Yah, menurutmu mengapa putri kita berteriak?..." Tentunya keduanya tidak tahu tentang alasan mengapa putri mereka berteriak. Namun kebanyakan wanita berteriak karena ketakutan atau keterkejutan yang berlebihan.
"Ini tidak bisa di biarkan, Seseorang pasti ingin mencelakai putri kita..." Pak Jamono hendak turun dari ranjang tempat tidur tetapi istrinya menghentikannya.
"Buu, Mengapa kamu menghentikanku? Putri kita dalam bahaya, mengapa kamu tidak membiarkan Ayah melihatnya untuk memastikan kondisinya..." Kata Pak Jamono dengan mendesak.
"Ayah ini bagaimana sih, sudah jelas di rumah tidak ada orang lain selain Nak Fatir. Jadi menurut Ayah siapa yang melakukannya?..." Tanya istrinya dengan tersenyum. Jika itu sebelumnya maka dia menjadi orang pertama untuk menghampiri Fatir dan memarahinya alat pemukulan di tangannya.
Sayangnya Fatir benar - benar kaya raya sehingga wanita gemuk itu bukan hanya tidak marah tetapi merasa sangat bahagia. Jika perlu dia mengharapkan agar Fatir memperkosa putri dengan brutal sehingga Dia bisa menyuruh Fatir untuk tanggung jawab.
"Buu, Ayah tidak percaya jika Nak Fatir akan begitu cabul terhadap putri kita, aku sangat mengenalnya dia itu sangat polos..." Pak Jamono menggeleng dengan ketidakpercayaan di wajahnya.
"Ayah, jangan berpura - pura tidak pernah menjadi muda di masa lalu. Putri kita sangat cantik, bahkan jika Nak Fatir begitu baik dan poloa. Dia tidak mungkin bisa menahan nafsu masa mudanya..." Wanita gemuk itu begitu yakin dengan penilaiannya.
Pak Jamono terdiam, apa yang istrinya katakan cukup masuk akal. Tapi tetap saja dia khawatir, "Mungkin Fatir baru saja membantu kita, Namun tetap saja aku tidak ingin keduanya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya..."
Melihat suaminya tidak dapat di hentikan lagi, Istrinya bertanya. "Yah, Apa yang kamu lakukan?!..."
"Ayah harus mencegah keduanya melakukan yang tidak baik. Setidaknya harus meminta ijin dulu agar kita tahu jika Fatir menjadi pria bertanggung jawab..." Pak Jamono menambahkan. Walaupun dia tidak marah namun dia kesal jika keduanya melakukan hubungan seksual tanpa meminta izin terhadap dirinya.
Segera Pak Jamono dan istrinya langsung berjalan kebelakang untuk melihat apa yang keduanya lakukan.
_
_
_
Fatir tidak tahu jika Pak Jamono dan istrinya akan mengunjungi tempat mereka saat ini berada. Karena dia sekarang masih tercengang ketika melihat tubuh wanita telanjang di depannya tanpa berkedip.
Setelah melihat payudara panas yang tidak dapat tertutupi oleh tangannya, Tatapan Fatir turun kebawah. Sedikit di bawah payudara adalah garis pinggang mulus tanpa daging berlebih.
Tangan Yeni lainnya menutupi hutan hujan lebat di bawahnya, dengan sepasang paha lembut yang menjepit erat - erat zona celah sempit itu. Sayang sekali, Fatir tidak dapat melihatnya karena terhalangi tangan Yeni.
Yeni tidak tahu bahwa tindakannya sangat meningkatkan daya pikatnya sebagai seorang wanita dengan tubuh menggoda, dan membuat Fatir sesak nafas ketika melihatnya.
Fatir, yang awalnya merasa perutnya sakit karena terlalu banyak makan, secara bertahap menghilang dan merasa didorong oleh hormon - hormon karena melihat tubuh telanjang Yeni yang belum matang namun memikat.
Fatir kamu harus tahan, kamu tidak boleh merusak wanita muda yang ada di depanmu. Batin Fatir untuk dirinya sendiri.
"Kak... Kak Fatir... silakan keluar dan tunggulah sebentar lagi..." Yeni berbalik. Dia hampir menangis karena takut pantat bulatnya terlihat. Sehingga dia menutupi pantatnya dengan tangan lainya.
Mendengarkan kata - kata wanita muda yang tidak memiliki sedikitpun pertahanan, membuat Fatir menenangkan keinginan dihatinya. Bagaimanapun wanita muda itu sudah dia anggap layaknya seorang adik.
Fatir menghela napas dalam - dalam, dan menekan keinginan untuk melanggarnya. Tetapi ketika dia hendak menutup pintu kayu itu, terdengar suara langkah kaki dari kejauhan. Jika itu orang normal seperti Yeni tentunya akan sulit mendengarkan dari jarak ia berdiri. Namun tidak bagi Fatir yang memiliki pendengaran super.
Fatir yang ingin menunggu di luar segera membatalkannya. Pemilik langkah kaki itu tentunya milik Pak Jamono dan istrinya. Dengan suara teriakan Yeni sebelumnya mungkin telah membangunkan keduanya. Dan jika Fatir menunggu di luar kamar mandi, dia akan di tuduh sebagai pria cabul.
"Kak Fatir apa yang kamu lakukan!..." Yeni bertanya dengan gugup. Dia berfikir jika Fatir akan menutup pintu, tetapi siapa sangka jika Fatir telah masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam. Ini sudah menjadi tindakan yang melewati batas.
"Yeni, aku minta maaf jika aku melakukan tindakan ini. Tapi ayah dan ibumu sebentar lagi datang. Aku tidak memiliki tempat lain selain bersembunyi di sini..." Fatir memberikan penjelasan yang membingungkan tetapi Yeni hanya bisa mempercayainya.
Tapi tetap saja, Yeni berada dalam kondisi telanjang bulat. Sedangkan Fatir telah berdiri di belakangnya dengan begitu dekat. Belum lagi kamar mandi itu begitu sempit sehingga akan sulit untuk keduanya berjauhan.
Yeni hanya bisa menyadarkan tubuh telanjangnya kebelakang dan bersentuhan langsung dengan tubuh bagian depan milik Fatir. Ketika dia ingin berbicara lagi, tangan Fatir yang besar menutupi mulut kecilnya.
"Ummm!..." Yeni kesulitan berbicara, dia inginkan melawan, tetapi tangan Fatir lainya memilih untuk memeluk tubuh telanjangnya seperti gurita.
"Maaf, Tapi jangan berbicara jika aku ada di dalam..." Tepat kata - kata Fatir yang pelan selesai, Pak Jamono dan istrinya sudah berdiri di dekat pintu kamar mandi.
"Yeni, Apakah kamu di dalam?..." Pertanyaan datang dari Pak Jamono yang penuh dengan kekhawatiran.
Fatir dengan perlahan melepaskan tangan miliknya yang menutupi mulut kecil Yeni. Di berharap jika Yeni dapat berbohong untuk tindakan dirinya.
"Iya, Ayah... Aku di dalam..." Jawab Yeni dengan suara lembut.
"Apakah kamu di dalam sendirian?..." Pak Jamono sekali lagi bertanya.
"Ayah ini bagaimana sih, tentu saja putri kita di dalam sendirian. Tidak mungkin dia bersama Fatir di dalam sana..." Suara ibunya yang lantang membuat Yeni semakin gugup. Tentu saja dia kata - kata ibunya sangat benar namun semuanya belum terbukti.
"Ayah, aku sendiri di dalam. Aku tidak melihat Kak Fatir dan tidak mungkin dia di dalam..." Jawab Yeni dengan begitu baik, setidaknya Fatir terselamatkan karena tindakannya tersebut.
"Benarkah! Tapi mengapa kamu berteriak sebelumnya. Buka pintunya sebentar, agar ayah lebih tenang dan mempercayainya..." Pak Jamono tidak percaya begitu saja.
Bahkan jika putrinya benar - benar berada di dalam seorang diri, Pak Jamono ingin memastikan keamanan putrinya secara langsung. dia tidak ingin putrinya melakukan hal mesum dengan seorang pria. Bahkan jika pria itu Fatir yang dirinya kenal baik.
Menghadapi sikap Pak Jamono yang tidak menyerah membuat Fatir berkeringat dingin. Entah mengapa dia begitu kesal terhadap pria tua yang satu ini.
Bersambung...