Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
67. Mulai Menerima



Segera pelayan datang dengan masing - masing minuman di letakkan di depan keduanya.


Fatir menatap segelas air putih dengan seksama. Sebagai orang kaya dia benar - benar memesan air putih.


Apakah Fatir kurang uang?


Tentu saja tidak, hanya saja minuman sudah datang, dan Fatir terlalu malas untuk memesan minuman yang lain. Bagaimanapun juga, itu hanya minuman. Yang terpenting adalah maksud dari tujuan Maya saat ini.


"Sayang, aku tidak keberatan untuk melakukan malam yang panas lagi..." Fatir tidak membiarkan kesempatan berlalu begitu saja.


"Apakah aku mengatakan seperti itu..." Maya mengerutkan alisnya yang tipis, ketidaksabaran muncul dalam perkataannya.


"Sayang, kamu pasti bercanda jika kita keluar tidak berakhir di hotel. Rasanya kurang afdol sebagai pasangan, kita juga sudah melakukannya sekali. Jika melakukannya untuk kedua kalinya, aku rasa kamu akan baik - baik saja..." Kata Fatir dengan menggoda.


"Hmph! Pemikiranmu terlalu jauh. Aku tidak mengundangmu karena malam yang panas ataupun tentang tidur di hotel…" Jawab Maya dengan datar.


Maya tampak kesal karena dia telah mengajak Fatir melakukan pertemuan. Dia hanya ingin berbicara beberapa hal saja, mengapa dia harus membahas sesuatu yang ingin dia lupakan.


Tapi ekspresi Fatir terlihat sangat serius "Sayang, jika kita tidak berbicara untuk membahas itu, lalu untuk apa?..."


"Cukup..." Maya langsung memotong perkataan Fatir.


Bahkan berdiri dengan meletakkan tangannya di atas meja dan menatap dengan ganas, dadanya yang besar berayun naik turun, "Apakah kamu sudah selesai? Aku tidak punya waktu luang untuk mendengarkan omong kosong darimu!..."


Maya benar - benar bingung kenapa kepribadian suaminya telah berubah terlalu banyak. Di mana sosok Fatir yang dulu selalu diam ketika bertemu dengannya?


Sebanyak apapun Maya melihat, bahkan jika Fatir tampaknya telah berubah menjadi orang lain, pria di depannya tetaplah suaminya yang dia nikahi tiga tahun lalu.


Dengan ekspresi tidak puas di wajahnya, Fatir berkata, "Ok! apa tujuanmu mengundangku, ini tidak seperti dirimu yang biasa yang selalu mengabaikan diriku..."


Maya kembali duduk, namun tatapan matanya masih menyipit seperti sebelumnya, "Saat ini aku punya beberapa hal untuk dibicarakan denganmu, Jadi jangan membicarakan yang tidak - tidak..."


"Bicara tentang apa?..." Balas Fatir langsung sambil memperbaiki posisi duduknya.


Maya berhenti menatapnya, memalingkan wajahnya ke arah lain, dan berkata, "Sebelumnya kamu mengatakan jika ingin bercerai denganku..."


"Aku lakukan, jika kamu ingin aku membayar denda seratus juta sekarang. Aku bisa melakukannya..." Jawab Fatir dengan jujur. Dia berniat mengungkapkan identitasnya sebagai anak orang kaya kepada Maya.


Sedangkan untuk masalah bercerai, itu adalah ketentuan lain. Walaupun Fatir enggan melakukannya. Namun dia juga seorang pria yang memiliki garis bawah. Jika pernikahan diantara kedua palsu mengapa tidak mengakhirinya saja.


Pernikahan macam apa tanpa berhubungan seksual?


Sekarang Maya begitu tertekan. Dia tidak meragukan perkataan suaminya jika memiliki uang seratus juta. Hanya saja Fatir sudah mencuri keperawanannya, sehingga sangat sulit bagi Maya untuk bercerai dengannya.


Entah mengapa Maya begitu gugup sambil berkata, "Bisakah kita tidak bercerai dan kamu bisa tetap menjadi suamiku?!..."


Diam!


Fatir terdiam, dia merasa seperti salah mendengar sesuatu, sehingga dia bertanya, "Katakan apa?..."


"Tetap menjadi suamiku!..." Wajah Maya menjadi merah cerah. Suara dia mengulangi kalimat itu sebanding dengan suara nyamuk yang terbang di sekitar ruangan.


Entah mengapa seperti ada yang tidak beres, Walaupun selama ini Fatir hanyalah suami palsu, namun melihat Maya yang mengatakan sedemikian ini, membuat Fatir bertanya - tanya.


Apakah Maya salah minum obat?


Atau karena hubungan seksual kemarin malam telah membuat Maya berpikir secara tidak normal lagi.


Fatir masih berpikir dia salah dengar sesuatu, dia dengan hati - hati mendekatkan telinganya dan dengan masam bertanya, "Sayang, dapatkah kamu mengatakannya lagi dengan lebih jelas? Kenapa aku merasa sedang berhalusinasi!..."


"Kamu tidak berhalusinasi...." Maya menegaskannya sekali lagi, dia tampaknya sudah mendapatkan kembali ketenangannya, "Aku berkata, aku ingin kamu tetap menjadi suamiku..."


Saat kata - katanya mengalir ke telinga Fatir, dia harus mengakui bahwa dia tidak salah dengar. Fatir tersenyum, "Bisakah aku mengklarifikasi sesuatu?..."


"Katakan!..." Maya mengangguk.


"Apakah kita akan selalu bersama?..."


"Tidak!..."


"Apakah kita akan ciuman setiap saat?..."


"Tidak!..."


"Apakah kita akan berhubungan seksual jika aku menginginkanya?..."


"Tidak!..."


"Kalau begitu aku tidak akan menerimanya!..." Fatir benar - benar kesal, dia pikir Maya sudah melihatnya sebagai suami sungguhan, namun kenyataannya tetap sama, yaitu kepalsuan.


Jika seperti ini, apa bedanya dengan yang lama?


"Berpura - pura menjadi suami sudah menjadi batasku. Aku juga seorang pria yang memiliki kebutuhan seksual..."


Apa yang Fatir pikirkan adalah pro dan kontra, Jika dia harus menjadi suami tanpa mendapatkan jatah layaknya seorang suami pada umumnya. Mengapa dia masih ingin melakukannya?


Melihat suaminya yang menolak membuat Maya menggertakkan giginya. Dia hanya tidak ingin seseorang yang mengambil keperawanannya pergi begitu saja dari hidupnya.


"Aku... Aku pernah membunuh seseorang!..." Maya secara mengejutkan mengungkapkan apa yang selama ini dirinya pendam.


"Saat di mana masa sekolah menjadi hal yang paling menyenangkan. Namun aku harus berpindah - pindah sekolah ketika orang lain mengetahui aku seorang pembunuh..." Mata Maya mulai berair di sudut matanya. Dia bisa menangis kapan saja.


"Saat itu, seorang guru pria ingin memperkosaku. Karena panik, aku memukul bagian bawahnya hingga berdarah dan dia tidak tertolong ketika di bawah di rumah sakit..." Mengambil tisu, Maya mengusap sudut matanya yang berakhir.


"Sejak saat itu aku memiliki trauma ketika dekat dengan seorang pria. Itulah alasan aku ingin menikah dengan pria impoten yaitu kamu..."


Fatir hanya bisa terdiam, dia tidak menyangka jika istrinya memiliki masa lalu yang begitu kelam. Dia pikir, Maya adalah wanita yang kuat. Siapa sangka jika istrinya begitu memprihatinkan.


"Tapi sekarang berbeda, aku pikir setelah kita berhubungan seksual kemarin malam, trauma itu sudah menghilang, aku bisa menjadi wanita yang seharusnya..." Maya berhenti sejenak, dia menatap kebawah dengan mengerutkan keningnya.


"Sayangnya traumaku hanya menghilang ketika aku dekat denganmu. Aku juga merasakan sesuatu yang aneh ketika kita bersama, aku tidak tahu apa itu. Yang jelas, aku merasa begitu tenang saat dekat denganmu!..." Kata Maya dengan malu - malu.


"Itulah mengapa aku tidak ingin bercerai denganmu..." Maya menatap mata Fatir dengan penuh harapan.


Fatir pada dasarnya pria yang baik, dia merasa tersentuh dengan semua pengakuan dari Maya. Hanya saja semuanya terasa cukup rumit.


"Sayang, aku benar - benar tidak tahu jika kamu mengalami kondisi tidak menyenangkan di masa lalu. Tapi aku sangat sulit memutuskan sekarang..." Kata Fatir dengan penyesalan.


"Fatir!..." Gigi putih Maya menggigit bibirnya yang merah muda tipis. Air mata penderitaan karena keputusan yang sulit, juga rasa sakit dan frustasi mulai keluar dari matanya.


"Kamu menang, selama kamu menjadi tetap menjadi suamiku, aku tidak keberatan jika hubungan kita menjadi sungguhan..."


Segera, tatapan mata Fatir menjadi begitu cerah. "Bisakah aku mengklarifikasi sesuatu?..."


"Katakan!..." Maya mengangguk


"Apakah kita akan selalu bersama?..."


"Mungkin!..."


"Apakah kita akan ciuman setiap saat?..."


"Sedikit!..."


"Apakah kita akan berhubungan seksual jika aku menginginkanya?..."


"Sedikit saja!..."


"Kalau begitu aku menerimanya!..." Fatir benar - benar bahagia. Walaupun hanya sedikit, lama - lama juga akan menjadi bukit.


Bersambung...