Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
58. Berakhir Di Hotel



Di dalam bar benar - benar terjadi kekacauan.


Kelompok tersebut tidak mudah tersinggung dan cukup di takuti untuk beberapa pengunjung bar.


Tetapi keberadaan kelompok tersebut harus berakhir karena menyinggung Fatir. Orang - orang yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa mengagumi sosok Fatir dan merasa kasihan terhadap kelompok tersebut.


Kelompok tersebut lebih seperti sekelompok preman yang menindas orang lemah dan melakukan kejahatan tertentu, seperti pemalakan, penindasan, dan lain sebagainya.


Fatir tentunya tidak mengenal kelompok tersebut, dia hanya melakukan apa yang menurutnya benar. Karena mereka membuat Maya menjadi seperti itu, dia hanya perlu memberikan pelajaran yang setimpal.


Mungkin membuat kelompok tersebut berakhir di rumah sakit, tidak terlalu buruk.


Ketika Fatir berdiri di sebuah pintu tertutup dan terkunci dari dalam, dia tidak mungkin berhenti, karena menghancurkan pintu tersebut tidak mudah. Namun bukan masalah sulit untuk Fatir.


Segera Fatir melirik salah satu bawahan yang mengerang kesakitan, dia berjalan mendekat dan mengambil kakinya.


"Tolong... Jangan kakiku..." Bawahan tersebut hanya bisa menangis, sekarang dia menyesal karena harus berurusan dengan pria kejam seperti Fatir.


Fatir tidak mengatakan sepatah katapun. Dia menarik kaki pria tersebut dengan menyeret tubuhnya. Segera tindakan Fatir berikutnya seperti melemparkan kotoran ke pintu.


"Baaaang!..."


Bawahan tersebut terlempar kearah pintu dan menghancurkan pintu tertutup tersebut menggunakan tubuhnya. Setelah pintu tertutup hancur dan memperlihatkan apa yang terjadi di dalamnya, Bawahan tersebut hanya bisa berguling - guling dengan kesakitan.


Pimpinan kelompok tersebut di kejutkan dengan hancurnya pintu masuk. Dia melihat salah satu bawahannya berguling - guling sebelum akhirnya tidak dapat bergerak lagi.


Setelah melihat situasi yang tak terduga ini, pimpinan tersebut mengerutkan alisnya dan dengan curiga menatap kearah Fatir yang acuh tak acuh.


Dia berjongkok, mengangkat lengan bawahan, dan dengan hati - hati memeriksanya.


Patah tulang!


Ekspresi pimpinan tersebut terlihat normal sebelum melihat lengannya, tetapi setelah selesai memeriksanya, dia berkeringat dingin.


Dengan gugup dia memeriksa apa yang terjadi di luar pintu, dan menemukan sosok Fatir yang berdiri tegak. Sedangkan semua bawahannya tergeletak di belakangnya.


Diam!


Pimpinan tersebut mengetahui seberapa kuat semua bawahannya, mereka tidak lebih lemah dari dirinya. Dan jumlah mereka ada banyak, tetapi tidak dapat menghentikan Fatir yang datang hanya seorang diri.


Tanpa penjelasan, pimpinan tersebut kembali berdiri dan dengan hormat berbicara kepada Fatir dengan gugup, "Tuan, mohon maafkan tindakan kami karena telah menyinggungmu..."


Pimpinan tersebut sedikit pintar, setidaknya karena pengambilan keputusan yang cermat, dia dapat mempertahankan kelompoknya sampai sekarang. Dia tahu, dirinya dengan Fatir tidak memiliki perselisihan, dan nampaknya Fatir begitu peduli dengan Wanita yang mereka targetkan.


Setidaknya dengan meminta maaf dia tidak akan merugi selain bawahannya yang terluka tanpa belas kasihan.


"Tuan, jika kamu memiliki kebutuhan di masa depan, kami akan melayanimu dengan sungguh - sungguh. Jadi tolong lepaskan kami..." Kata pimpinan tersebut dengan tulus.


Fatir masih diam, dengan kemampuannya dia bisa melumpuhkan Pimpinan tersebut tanpa kesulitan apapun. Namun kekerasan tidak menyelesaikan masalah, itu akan menumbuhkan kebencian lainnya.


Setidaknya dia dapat melihat Istrinya baik - baik saja.


"Kali ini aku akan melepaskanmu, tetapi tidak dengan lain kali. Juga berhentilah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain..." Kata Fatir dengan dingin.


"Aku mengerti... Tuan bisa yakin, kelompok kami tidak akan merugikan orang lain lagi..." Setelah berbicara, pimpinan tersebut pergi dari hadapan Fatir.


Sementara itu, Fatir memasuki ruangan yang di pesan di mana istrinya berada dan membawa istrinya pergi dari bar.


Karena Fatir dengan cepat mengalahkan bawahan kelompok tersebut, baik pria maupun wanita yang menjadi pengunjung bar memandangnya dengan ketakutan.


Beberapa gadis mencoba menarik perhatian Fatir yang menggendong istrinya yang tidak sadarkan diri, tetapi melihat dia tidak merespons, mereka dengan cepat menyerah dan tidak ingin mencobanya lagi.


Setelahnya, Maya tak sadarkan diri di kursi penumpang depan, ketika Fatir hendak mengemudi dia tiba - tiba melihat kearah istrinya.


Di bawah cahaya redup, rambut hitam pekatnya jatuh ke bawah dan menyentuh tempat duduk, sosok putihnya ditutupi oleh rok yang menutupi lekuk anggunnya seperti gelombang lembut.


Saat Fatir melihat lebih dekat terhadapnya, Dia menemukan aroma harum dan minuman keras yang keluar dari tubuh istrinya. Tubuhnya bersandar di kursi penumpang depan dan mengungkapkan semua lekuk tubuhnya yang indah.


"Sial, apa yang aku pikiran. Bahkan jika dia adalah istriku. Namun dia tidak memiliki hati untukku..." Fatir mencoba untuk mengabaikannya dan menghidupkan mesin mobilnya dan keluar dari bar tersebut.


"Vroooommmm!..."


Mobil Bugatti melaju kejalan raya kota Jakarta.


Fatir sesekali melirik istrinya yang ada di sampingnya, dia terkejut dengan kecantikannya yang melampaui imajinasinya, dan meskipun wajahnya pucat karena minum, itu tidak mengurangi daya tariknya yang mencolok.


Pria mana pun akan terpesona oleh kecantikannya hanya dengan sekali menatapnya.


Namun Fatir merasa frustrasi melihat kondisinya. Mengapa istrinya datang ke bar dan berakhir seperti ini?


Fatir tidak pernah tahu kebiasaan istrinya yang mengunjungi bar, mengapa istrinya minum di bar untuk menjadi pemabuk seperti ini, sampai - sampai wajahnya terbakar karena afrodisiak?!


Fatir tidak mungkin mengantarkan istrinya pulang ke rumah mertua, dia hanya mencari kemarahan mertua galaknya saja. Belum lagi dengan kondisi Maya yang mabuk parah.


"Mungkinkah aku harus membawanya ketempat kakak ipar?..." Pikir Fatir dengan terus melajukan mobilnya.


"Tidak..." Fatir berfikir, jika membawa ketempat Lestari adalah pilihan buruk. Maka hanya hotel terdekat yang menjadi pilihan tersisa.


"Benar, Aku akan menidurkannya ke hotel dan meninggalkannya setelah itu..." Fatir segera mengambil keputusan.


_


_


_


Hotel Cinta, salah satu hotel terdekat yang menjadi pilihan Fatir kali ini.


Segera Fatir memesan kamar dan membawa istrinya ke dalam kamar hotel. Dengan lembut Fatir memperlakukan Maya, seperti melepaskan sepatu hak tinggi dan merapikan pakaiannya.


Maya yang tak sadarkan kesulitan untuk mengendalikan dirinya sendiri, lalu tanpa menunggu Fatir yang berniat meninggalkannya, dia memeluk Fatir dan menggerakkan bibirnya ke depan.


Tapi karena dia tidak sadar lagi, bibirnya hanya berhasil menyentuh pipi Fatir sebelum tergelincir ke bawah.


Tubuh Fatir mulai terbakar oleh rangsangan dari bibir Maya yang tipis. Ketika dia melihat sosok cantik yang memesona itu, Fatir segera memutuskan untuk menemaninya malam itu juga tanpa pertimbangan lainnya.


Fatir kemudian dengan kuat menekannya ke ranjang hotel dan membuat tubuh Maya tidak berdaya, Namun istrinya tersebut menerimanya dengan begitu baik dan langkah berikutnya, Fatir mencium bibirnya yang basah dan berbau alkohol.


"Ahhh!..."


Maya merintih pelan seolah - olah dia tidak menyetujui kekasaran yang Fatir lakukan, tapi kemudian dia menanggapinya dengan bersemangat.


Fatir tidak lupa membantu melepaskan pakaian istrinya. Dia benar - benar tidak memikirkan hasil dari tindakannya. Yang jelas keduanya sudah menikah secara sah dan tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.


Fatir memimpin permainan dengan begitu baik, sedangkan Maya juga menerimanya dengan begitu semangat. Setelah Maya telanjang bulat, dia menunjukkan tubuh terbaik untuk Fatir.


Fatir yang tidak tahan lagi langsung mencium bibirnya, turun ke lehernya hingga membuat dan meninggalkan jejak tanda kecupan. Selain itu dia juga menghisap payudara montok milik istrinya.


Hingga semua pemanasan sudah selesai terlalui dengan begitu baik, kini giliran Joni agung yang mengambil alih.


Kapten Joni agung melihat lautan lepas dengan pulau baru yang belum terjamah. Dia dengan tekad api dan semangat juang tinggi, mulai mengarungi lautan.


Dengan berbekal keinginan kuat, tidak ada apapun yang dapat menghalangi perjalanannya, dia melawan badai besar, derasnya ombak hanya untuk sampai ke pulau baru.


Sampai akhirnya, usaha tidak mengkhianati hasil. Kapten Joni agung menjelajahi pulau baru untuk mengeksplorasi apa yang ada di sana.


Bersambung...