Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
66. Memesan Minuman



Mengikuti arah jalan pulang, Fatir tiba - tiba melihat sebuah mobil putih parkir di seberang jalan.


Dia tidak tertarik sama sekali, karena mobil jenis tersebut cukup umum dan jika di lihat dengan seksama itu lebih mirip dengan mobil istrinya.


Segera Fatir memiliki firasat yang membingungkan. Tidak mungkin jika istrinya berada di dalam mobil tersebut, ini terlalu kebetulan. Dia mencoba untuk mengabaikannya, tetapi ketika kaca mobil tersebut perlahan turun.


Fatir tidak sengaja melirik orang yang sedang duduk santai di kursi pengemudi. Sulit mengatakannya sebagai kebetulan, tetapi Fatir mengenali wanita yang duduk tersebut.


Matanya tampaknya terpaku pada pemandangan pertama saat Fatir berkata, "Sial, istriku benar - benar berada di dalam mobil itu!..."


Maya duduk di kursi pengemudi, mengenakan gaun cantik putih murni. Dia memakai kacamata hitam besar untuk menutupi wajahnya yang cantik, warna gelap yang menutupi separuh wajahnya jelas kontras dengan penampilannya yang dingin dan acuh tak acuh.


Maya melepas kacamatanya ketika dia melirik kearah Fatir. Di wajahnya yang cantik terdapat sedikit riasan, dan dia memiliki rambut hitam halus yang terawat. Sungguh penampilan yang sangat menakjubkan.


Pemandangan ini pasti akan membuat mereka yang melihatnya gemetar di hadapan kecantikannya. Fatir tidak menyangka wanita secantik peri ini telah menghabiskan satu malam yang panas dengan dirinya.


Segera rasa suka cita di gantikan dengan rasa bersalah, Fatir masih ingat dengan jelas ketika dirinya melihat istrinya menangis setelah kejadian panas itu.


Pintu mobil terbuka. Maya bahkan tidak melihat Fatir sama sekali dan dengan dingin dia berkata, "Masuklah..."


Fatir sedikit termenung, tetapi dengan perlahan masuk dan duduk di kursi belakang. Dia bertanya - tanpa, sejak kapan istrinya begitu baik dan menawarkan tumpangan.


Mungkinkah Maya menginginkan sesuatu yang memanas seperti kemarin malam?


Memikirkan ini membuat Fatir begitu senang, Akhirnya setelah begitu lama bertahan dari guncangan badai selama tiga tahun, istrinya meluangkan waktu untuk memperbaiki hubungan diantara mereka.


Kali ini Fatir melihat Maya seperti dia bertemu dengan seorang teman lama, "Sayang, akhirnya kamu mengerti juga tentang seberapa baik aku bermain di atas ranjang. Jika kamu ingin memperbaiki hubungan palsu kita menjadi sungguhan, aku tidak keberatan sama sekali..."


Mendengar perkataan Fatir, membuat Maya yang mengemudikan mobilnya sedikit tersentak. Dia bertanya - tanya, sejak kapan Fatir begitu banyak berubah?


Segera wajah cantik Maya yang putih menjadi merah. Dia mulai mengingat jika dirinya baru saja menghabiskan malam yang panas bersama dengan Fatir. Tetapi segera menyangkal dan wajahnya menjadi dingin kembali.


Melihat ekspresi dingin di wajah istrinya menyebabkan Fatir mengingat sesi bercinta yang intens kemarin malam. Namun mengapa sekarang istrinya bertindak seperti orang yang sama sekali berbeda.


"Bisakah kamu diam, tidak ada yang menganggap kamu bisu jika diam dalam beberapa menit ke depan!..." Kata Maya dengan dingin.


Memilih untuk mengabaikannya, Maya menginjak gas dan mobil dengan cepat meninggalkan tempat tersebut. Sekitar sepuluh menit kemudian, berhenti di depan cafe tertentu.


Melewati anak tangga dan memasuki cafe tersebut, keduanya berjalan dengan jarak. Mengikuti arahan seorang pelayan, mereka tiba di tempat yang tampaknya tenang dan indah pada sudut cafe tersebut.


Di sana ada beberapa pengunjung yang menghabiskan waktu mereka bersama pasangan mereka. Maya memesan tempat duduk bersama dengan Fatir.


"Permisi, bisa sebutkan pesanannya?..." Seorang pelayan yang sopan bertanya sambil tersenyum.


Sepertinya cafe tersebut menjadi salah satu tempat favorit bagi Maya. Dia melepaskan kacamata hitamnya untuk mengungkapkan penampakan yang akan memikat banyak pria dan berkata dengan lembut, "Yang biasa tanpa gula..."


Pelayan itu mencatat kemudian beralih kepada Fatir.


Fatir langsung menjawab, tanpa melihat menu cafe yang ada di dekatnya, "Es Cendol dawet satu saja..."


Diam! Pelayan itu ingin menangis, tempat tersebut adalah cafe bukan tempat penjual es pinggir jalan.


Sedangkan Maya yang diam, menatap suaminya dengan tatapan aneh dan penuh keheranan.


"Tuan, kami menyarankan pesanan lainnya..." Kata pelayan itu sambil mendorong menu di atas meja.


Wajah pelayan yang tersenyum dengan cepat menegang, dia dengan canggung menjawab, "Tuan, cafe kami tidak memiliki jenis minuman seperti itu, terutama es cendol dawet atau es teh manis..."


"Lalu bagaimana dengan segelas Wine atau Wiski..." Tanya Fatir dengan berharap.


Apa yang Fatir tanyakan tidak ada di dalam menu sehingga membuat Pelayan itu tertekan, "Tuan kami tidak memilikinya!..."


Maya tidak tahan lagi, dia menatap Fatir dengan geram, kemudian berkata kepada pelayan itu, "Beri saja dia air putih..."


"Ya, Nona..." Pelayan dengan cepat pergi untuk membawa pesanan sesegera mungkin.


Sedangkan Fatir yang diam, hanya bisa tersenyum sambil berkata, "Sayang kamu begitu pengertian, air putih benar - benar bagus untuk kesehatan..."


Entah apa tujuan Maya, namun Fatir cukup senang mendapatkan kebersamaan setelah terabaikan begitu lama.


_


_


_


Di suatu tempat yang cukup rahasia, entah sejak kapan tempat tersebut di bangun di kota jakarta, yang jelas memiliki maksud untuk menyembunyikan keberadaan kelompok tertentu.


"Kalian memang tidak berguna..." Kata pria tua dengan dingin, kemudian mematikan ponselnya.


Seorang pria tua duduk seorang diri dengan meja putih di depannya. Di atas meja ada sebuah foto yang memiliki penampilan yang sangat mirip dengan Fatir namun itu bukan Dia.


"Takdir memang begitu lucu, aku cukup lama ingin bertemu dengan dokter ajaib, namun hingga kini sangat sulit mengungkap keberadaannya..." Kata Pria itu dengan terus mengetuk pintu di atas meja.


Di sampingnya, terdapat komputer dengan beberapa informasi yang cukup panas dari beberapa forum. Itu tentang divisi baru angkasa grup yang berbasis pelayanan konseling.


Sedangkan ahli pengobatan yang melakukan pengarahan dan dapat memberikan solusi kepada setiap pelanggan adalah Fatir. Yaitu seorang pemuda yang ditemuinya di taman dekat sungai Ciliwung.


"Fatir Li, Aku tidak menyangka dia memiliki kemampuan pengobatan sebanding dengan ayahnya. Aku benar - benar tidak mengerti bagaimana dia melakukannya..." Jian Wu berkata dengan dingin.


Melalui metodenya sendiri, Jian Wu menemukan hampir segala informasi yang berhubungan dengan Fatir.


Di mulai dari bagaimana ia tumbuh tanpa seorang ayah, memiliki tubuh lemah dan impoten, dan belum lama ini identitasnya diakui dan menjadi ketua baru angkasa grup. Selain itu ada divisi pelayanan konseling yang cukup fenomenal.


Juga yang paling mengejutkan dari semua itu, kemampuan Fatir dalam bela diri telah membuatnya sangat bingung.


Apakah pemilik tubuh lemah akan begitu kuat?


Bahkan mengalahkan empat bawahan miliknya?


Jawabannya tidak, Jian Wu berfikir jika Fatir menyembunyikan kemampuannya dengan begitu baik, bahkan tehadap istrinya selama tiga tahun, juga terhadap orang - orang terdekatnya.


Tidak mungkin seorang pria muda akan memiliki kemampuan medis dan seni bela diri yang begitu kuat tanpa adanya seorang pembimbing.


Jian Wu hanya memiliki dugaan kasar. Fatir mendapatkan bimbingan dari ayahnya secara diam - diam. Itu berarti satu - satunya cara untuk bertemu dengan orang itu harus melalui Fatir.


"Hmph!... Aku tahu pemuda yang aku temui di taman itu terlalu naif, sepertinya aku harus menjadi pasiennya agar dia menyembuhkan kondisiku!..." Jian Wu secara bertahap menyeringai.


Entah dia musuh atau kawan tidak ada yang tahu, yang jelas dia terlalu banyak mengetahui tentang Fatir. Sedangkan Fatir sendiri tidak mengetahui maksud dan tujuan dari segala tindakan Jian Wu.


Bersambung...