Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
87. Bertemu Lagi



Dengan datangnya pihak kepolisian, semua masalah terorisme berhasil di amankan. Para tamu undangan melakukan kerja sama untuk penyidikan lebih lanjut.


Setelah beberapa waktu, pihak kepolisian mengambil kesimpulan kasar, Identitas pelaku terorisme masih membutuhkan proses untuk menemukan titik terang. Namun aksi terorisme dilakukan seorang diri dengan motif yang juga belum dikonfirmasi.


Karena tidak mungkin menahan para tamu undangan di tempat, mereka semua akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Fatir juga memberikan keterangan sebagaimana mestinya, dan mengakhiri keterlibatannya dengan pihak kepolisian.


Berpisah dengan yang lainya, Fatir pulang bersama istrinya. Dia masih kesulitan memahami aksi terorisme yang melibatkan dirinya pribadi. Namun Fatir cukup lega jika tidak ada korban jiwa.


Hanya saja, dia tidak percaya jika aksi terorisme di lakukan seorang diri. Tentunya untuk menyabotase keamanan gedung tidaklah sederhana, walaupun tidak memiliki informasi lebih lanjut. Fatir hanya bisa melepaskan masalah ini untuk sementara waktu.


Di dalam mobil, Maya yang mengemudikan mobil sesekali melirik kearah suaminya. Banyak hal yang ingin dirinya tanyakan, tetapi dia kesulitan harus memulainya dari mana.


"Fatir!..." Maya memanggil namun Fatir tidak langsung menjawab.


"Fatir!... Fatir!..." Sekali lagi Maya memanggil nama suaminya itu.


"Ya, Maaf. Aku memikirkan banyak hal?..." Jawab Fatir setelah terbangun dari kondisi termenung.


Fatir tidak bisa mengatakan jika aksi terorisme telah menargetkan dirinya. Dia tidak ingin membuat Maya khawatir, namun jika istrinya menjadi target terorisme selanjutnya, itu akan menjadi lebih buruk.


"Fatir! Di mana selama ini kamu tinggal?..." Tanya Maya, jika di pikir - pikir dia tidak memperhatikan Fatir sejak keduanya menikah. Belum lagi setelah Fatir keluar dari rumah mertua.


"Sayang, aku pikir. Kamu sudah pergi ke sana, mengapa masih bertanya?..." Fatir memperbaiki posisi duduknya dan menatap istrinya dengan heran.


Dia tahu jika Maya mulai berubah sejak malam keduanya berbagi kehangatan tubuh yang sama, namun Maya memiliki sisi yang egois dan sulit dimengerti. Bahkan jika Fatir tidur di kolom jembatan, istrinya tidak mungkin mencarinya.


"Kapan aku pergi ke sana?..." Tanya Maya dengan bingung, segera dia kembali fokus dengan mobil yang dirinya kemudikan.


"Tadi siang di saat kamu menjemputku? mengapa masih menanyakan tempat tinggalku?..." Jawab Fatir.


"Sheeet!..."


Suara gesekan ban mobil dengan jalan beraspal dapat di dengar. Mobil itu langsung berhenti di tepi jalan yang cukup sepi. Selain itu, terdapat kepulan asap putih di belakang mobil, itu menandakan seberapa cepat mobil itu berhenti secara mendadak.


"Auww!..." Fatir menyentuh hidungnya yang bersentuhan dengan kaca depan. Dia tidak mengenakan sabuk pengaman sehingga tubuhnya terlempar ke depan.


"Maaf, jika aku mengerem mendadak!..." Kata Maya dengan panik. Dia hanya terkejut ketika mendengar pengakuan Fatir yang tinggal di Apartemen elite Angkasa Grup.


"Tidak apa - apa, aku baik - baik saja!..." Jawab Fatir.


"Fatir, mungkinkah kamu tinggal di Apartemen itu?..." Tanya Maya dengan menguatkan hatinya.


Jika dipikirkan lagi, suaminya menyimpan sesuatu yang cukup misterius. Suaminya tidak hanya memiliki banyak uang. Namun cukup dekat dengan Ratu keajaiban bisnis, Juga ada orang - orang besar seperti Jendral tua.


"Itu benar, aku tinggal di sana!..." Jawab Fatir.


Sekarang, suaminya mengakui jika tinggal di apartemen elite Angkasa Grup. Ini sulit dipercaya dan sangat mengejutkan dirinya.


Mungkinkah Fatir di pindah kerjakan di apartemen elite itu? Benar, pasti seperti itu. Karena suaminya pindah kerja sebagai pengurus apartemen, tentunya dia tinggal di sana. Pikir Maya dengan kembali tenang.


Mobil itu sekali lagi berhenti di depan Apartemen elite Angkasa grup kemudian meninggalkan Fatir dan pergi menghilang di kejauhan.


Fatir yang melihat kepergian istrinya, mulai mengingat jika dirinya belum mengatakan tentang identitas sejatinya. "Sial, mengapa baru sekarang aku mengingatnya?..."


Dengan menghela nafas berat, Setidaknya Fatir cukup senang ketika hubungan dirinya dengan Maya mulai berkembang kearah yang lebih baik. Segera Fatir masuk ke apartemen elite miliknya dengan bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya.


_


_


_


Keesokan harinya.


Kabar terjadinya terorisme di salah satu gedung mewah Angkasa grup telah menjadi perbincangan hangat. Di internet juga mulai terbakar dan insiden terorisme menempati posisi pertama dalam daftar trending.


Beberapa netizen mulai berspekulasi dan berdiskusi tentang kejadian tersebut. Banyak yang mengatakan jika kelompok terorisme mulai aktif kembali. Mereka mengatakan jika kejadian terorisme mungkin saja akan datang lagi dan membuat kekacauan yang tidak di inginkan.


Fatir mematikan Televisi yang menyala di depannya, dia tidak mendapatkan informasi apapun tentang insiden terorisme. Kepolisian juga tidak memiliki perkembangan apapun.


"Lupakan saja, dicari kemanapun akan percuma. Mereka pasti akan datang lagi dan aku tidak akan melepaskan mereka!..." Kata Fatir dengan datar. Dia segera pergi keluar untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.


Di jalanan tertentu, Fatir memarkirkan mobilnya dan hendak membeli sesuatu. Dan ketika dia kembali, dia dikejutkan oleh sosok pria tua tertentu.


"Tuan Wu, aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi!..." Kata Fatir dengan sopan. Terakhir kali dia tidak puas karena pria tua itu tidak mengulurkan bantuan apapun terhadap seseorang yang membutuhkan bantuan.


"Tuan Li, aku juga tidak menyangka kita akan bertemu lagi..." Jian Wu tersenyum dan membalas perkataan Fatir.


Tidak ada yang tahu apakah pertemuan keduanya murni kebetulan atau hanya sebuah pengaturan tertentu.


Keduanya melakukan basa - basi seolah perbedaan usia bukanlah acuan dalam bersikap. Jian Wu mulai batuk beberapa kali, "Tuan Li, Sepertinya aku harus kembali. Aku tidak tahu apakah di masa depan kita akan memiliki waktu, untuk bertemu lagi..."


Ada ekspresi yang begitu sedih di wajah tua Jian Wu. Dia hendak berbalik namun suara Fatir menghentikannya. "Tunggu sebentar!..."


Jian Wu sedikit tersenyum tipis, kemudian berbalik dan bertanya dengan bingung. "Tuan Li, apakah kamu memiliki sesuatu untuk di katakan?... Ukuk!... Uhuk!..."


"Tuan Wu, bisakah aku melihat kondisimu. Aku memiliki sedikit pemahaman tentang pengobatan timur, mungkin saja aku bisa memberikan solusi untuk kondisimu..." Kata Fatir dengan tersenyum.


Di saat ada kesempatan untuk memberikan bantuan, mengapa dia tidak mengulurkan tangannya untuk membantu?


Tatapan Jian Wu bergetar, kemudian kembali tenang. Dia menatap Fatir dengan serius dan berkata, "Banyak dokter yang telah melihat kondisiku ini. Namun mereka hanya bisa menyerah, Aku tidak tahu apak Tuan Li mampu melihat kondisiku ini..."


"Tuan Wu, jika aku mengatakan tidak bisa menyembuhkan kondisimu. Maka sangat di sesalkan, Namun jika aku mengatakan bisa, itu akan menjadi keberuntungan untukmu..." Fatir memiliki keyakinan untuk mengatakannya, karena dia memiliki teknik pengobatan tingkat tinggi dalam warisan yang dia dapatkan dari Pertapa Agung.


"Tuan Li, aku sangat senang dengan kebaikanmu. Jika begitu, tolong lihatlah kondisiku!..." Jian Wu mengundang Fatir untuk masuk kedalam mobilnya.


Fatir mengikutinya begitu saja dan langsung meminta tangan Jian Wu dan melihat denyut nadinya. Setelah lebih dari selusin menit, ekspresi Fatir berangsur - angsur menjadi serius. Dia dengan khawatir berkata, "Tuan Wu, aku tidak tahu siapa yang melukaimu di masa lalu, namun kondisimu begitu mengerikan!..."


Bersambung...