
Aini terisak pelan karena Ilma yang berpamitan tadi. Ternyata isakan kecil itu mampu mengusik tidur suaminya.
"Hei? Sayang? Kenapa? Ada yang sakit?", Ikbal langsung membuka matanya dan panik. Aini hanya menggeleng.
Ikbal mengusap lelehan air mata di pipi Aini.
"Kalo ngga ada yang sakit, terus kenapa? Apa mau aku panggilin ibu? Mau tidur sama ibu, ngga nyaman tidur sama aku?", tanya Ikbal mencoba menerka-nerka.
Aini menjadi tak enak sendiri suaminya berpikir seperti itu.
"Bukan?!", jawab Aini menatap manik mata suaminya.
"Lalu kenapa sayang?", tanya Ikbal pelan seperti berbisik seolah mengimbangi ucapan Aini yang masih terbatas.
"Ilma!", jawab Aini. Mendadak Ikbal bergeming.
"Kenapa dengan Ilma?", tanya Ikbal mengusap kepala Aini.
"Pergi! Dia sudah tidak kembali ke sini. Tidak bisa bertemu dengan ku lagi, mas!", jawab Aini yang kembali terisak pelan. Ikbal meraih istrinya dalam pelukannya. Beruntung jarum infusnya sudah ia lepas sejak Aini sadarkan diri.
"Itu artinya Ilma kembali ke alamnya dengan tenang Ai!", kata Ikbal menenangkan. Sekalipun Aini bilang jika ada Ilma, tapi nyatanya ia tak pernah bisa melihat kehadiran arwah sang adik.
Aini mengangguk dalam pelukan Ikbal.
"Istirahat lagi ya, insyaallah besok pagi akan ada dokter yang akan membantu kamu terapi biar otot dan syaraf kamu kembali normal."
Gadis berstatus nyonya Ikbal tersebut itu hanya mengangguk. Ikbal bisa membayangkan seperti apa rasanya jadi Aini yang rebahan berhari-hari di tempat tidur. Sudah jelas jika badannya akan terasa kaku karena tak bergerak untuk waktu yang cukup lama.
.
.
.
Rini tinggal sendirian dirumah besarnya. Kabar sang putra sudah menikah, ia dengar dari orang kepercayaannya.
Sebagai seorang ibu, tentu saja ia kecewa dengan keputusan Ikbal yang tak meminta restu lebih dulu padanya. Tapi, Rini juga menyadari jika hubungan keduanya belum membaik pasca Romi masuk jeruji besi.
Dalam hati Rini, seharusnya Ikbal sebagai anak yang jauh lebih muda darinya bisa mengalah dan menghampiri mamanya lebih dulu. Tapi nyatanya, Ikbal yang memang keras kepala tersebut tak melakukannya.
Rini sendiri masih gengsi jika harus meminta maaf lagi yang berujung di abaikan oleh sang putra sulung. Mereka hanya tinggal berdua, tapi kenapa justru menjadi asing seperti sekarang?
.
.
.
Dia juga sudah tidak melanjutkan kuliahnya karena Rini pun menghentikan aliran dana bulanan seperti biasa. Alhasil, seorang Ibas yang kini yang kini sedang berjuang melawan penyakitnya terpaksa kembali hidup susah.
Di sebuah kamar yang kecil dan sekedar layak di huni Ibas tinggal. Yang lebih parah, kamar kostnya berdampingan dengan pemakaman umum. Hanya di tempat itu ia bisa membayar sewa kamar kostnya. Beruntung semua kamar terisi penuh.
Awalnya, Ibas tak terbiasa dan tentu saja merasa takut. Pemakaman gitu lho???? Tapi isi dompetnya berteriak tidak apa-apa.
Seperti malam itu, Ibas baru saja pulang dari salah satu tempat temannya yang menawari pekerjaan di tempat billiar. Apa pun pekerjaannya, yang penting Ibas bisa melanjutkan hidupnya.
"Baru pulang?", sapa salah satu tetangga kamar Ibas. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua malam, tapi tetangganya masih berada di depan kamarnya.
"Iya. Gue jatah masuk malam!", jawab Ibas. Tetangganya itu mengangguk pelan dan tak lagi mengajak Ibas ngobrol. Setelah itu, Ibas pun masuk ke kamarnya.
Pagi hari....
Ibas mengucek kedua matanya. Ia terusik dengan suara ramai di depan lorong kamarnya. Masih dengan muka bantal, Ibas membuka pintu.
"Ada apa sih?", tanya Ibas pada tetangga yang tepat berada di samping kamarnya.
"Itu si Juned, di temukan meninggal pas ceweknya datang mau kasih sarapan!", jawabnya.
"Juned yang mana? Yang putih itu?", tanya Ibas. Tetangganya mengangguk.
"Emang kapan meninggalnya?", tanya Ibas.
"Kalo kata pacarnya sih, jam sebelas malam dia pamit tidur pas telponan. Tepat nya sih ngga tahu ya!", jawab tetangga Ibas.
Ibas jadi berpikir, bukankah semalam Juned yang menyapa dirinya baru pulang kerja? Dan pagi-pagi dia ditemukan tidak bernyawa???
Ibas meneguk salivanya perlahan. Mendadak tubuh nya panas dingin. Bagaimana jika dia di salahkan karena dialah yang terakhir kali terlihat mengobrol dengan Juned semalam??? Atau...Ibas justru takut jika ternyata...yang mengajaknya bicara adalah...arwah Juned. Ibas bergidik ngeri mengingatnya.
*****
21.38
Terimakasih 🙏🙏🙏 ajarin dong biar ada jump scare nya 😁😁😁😁✌️✌️✌️ perasaan kagak ada serem-serem nya 🙈