Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 54


Ibas kembali mengunjungi makam Ilma. Akhir-akhir ini dia memang sering mengunjungi makam mantan kekasihnya sekaligus adik tirinya tersebut.


Memacari Aini, dia seolah menemukan sosok Ilma yang sudah lama ia rindukan. Sejak kepergian Ilma, Ibas berubah menjadi anak yang 'nakal' dalam arti harafiah atau sebenarnya.


Dia sering kali bergonta-ganti pasangan untuk sekedar menjadi partner ranjangnya. Tapi, dia tak mendapatkan hal itu selama berpacaran dengan Aini meski mereka sudah dua tahun menjalani hubungan itu.


Hingga suatu hari, ia dan teman-temannya taruhan! Dia akan bisa meniduri Aini, maka temannya yang lain boleh melakukan hal yang sama.


Brengsek sekali bukan????


Sayangnya, justru Aini tahu hal itu hingga terjadi kecelakaan parah yang justru membuat Aini dan Ibas semakin menjauh.


Menyesal? Ya, Ibas menyesal! Bukan karena dia gagal untuk menikmati Aini, melainkan...dia baru menyadari jika perasaan yang sebenarnya pada Aini sama seperti saat ia nikmati dengan Ilma dulu.


"Cantik! Kakak datang lagi!", kata Ibas di atas nisan Ilma. Tak lupa ia meletakkan bunga di atasnya.


Tanpa Ibas sadar, Ilma berdiri di hadapannya. Ya, hanya Ilma yang melihatnya. Ibas tak mungkin bisa melihat keberadaan Ilma yang ada di depannya.


"Kamu tahu Ma, aku... di tinggalin Aini begitu saja sejak kecelakaan itu. Dan...mas Ikbal yang dekat sama Aini sekarang!", kata Ibas lesu.


"Kamu lagi apa cantik? Andai kamu masih di sini ya!", Ibas tersenyum tipis tapi juga berwajah sendu.


"Ikbal dan Ilma datang ke rumah. Tapi saat itu, mereka menemukan ponsel lama kamu Ma. Apakah...ponsel itu menyimpan sesuatu yang berhubungan dengan kepergian kamu Ma?", tanya Ibas pada batu nisan tersebut.


Ibas lagi-lagi tersenyum tipis.


"Kenapa kamu harus pergi? "


Tentu saja tidak ada jawaban, seandainya pun Ilma menjawab Ibas tak akan mendengarnya.


"Siapa yang sudah merebut kamu dari ku Ilma?", tanya Ibas seperti orang stres.


"Papamu!", jawab Ilma. Sadar tidak sadar, Ibas mendengarnya.


Spontan dia bangkit dari jongkoknya. Matanya beralih menatap ke sekeliling. Tidak ada siapa pun. Hari sudah menjelang petang, suasana pemakaman semakin sepi.


"Aku terlalu berhaluan sampai mendengar kamu menyebut papa!", kata Ibas.


"Tapi aku memang korban papa kamu Ibas?", seru Ilma yang tak bisa di dengar oleh Ibas.


Lagi, Ibas mencari asal suara tersebut. Kepalanya berputar melihat siapa yang berkata demikian.


"Aku balik ya cantik! Aku pastikan jika rinduku sama kamu ngga akan pernah berubah sampai kapan pun?!", janji Ibas.


Lelaki itu pun meninggalkan makam Ilma. Hantu gadis itu pun menatap punggung Ibas yang menjauh.


"Papa kamu jahat Bas! Dia memisahkan kita!",kata Ilma.


.


.


Aini bersiap keluar dari rumah sakit di temani Ikbal tentunya.


"Mau mampir beli makan dulu ngga?", tanya Ikbal saat kedua orang tua Aini sedang ke kantin.


"Ngga usah mas, aku belum lapar. Nanti di kost aja. Ibu sama bapak ku berada di kost ku kan?"


"Iya, mas memilih tempat tinggal sementara di sana buat ibu dan bapak mu."


"Aku sudah merepotkan mas Ikbal terus."


"Nggak Ai!", kata Ikbal lirih.


"Mas tinggal ke luar sebentar ya!", Aini pun mengangguk.


Sepeninggal Ikbal, penghuni lain seolah berdatangan ingin menyapa nya.


Miss Kun yang terbang melayang, tuyil yang hanya pakai ******, Mr. G yang serem dengan taringnya nya yang panjang mendekatinya.


Aini pura-pura tak takut meski sudah bias melihat seperti itu. Jika ia merasa takut dia justru akan melebarkan matanya untuk menutup rasa takut yang sebenarnya.


Aini merapalkan doa dalam hatinya. Ia benar-benar terganggu jika sudah melihat seperti itu.


Jika yang lain takut, melihat hantu di ikat kuwel-kuwel berwana putih lebih takut. Apalagi kalo bukan poci????


*****


Terimakasih 🙏


22.14