
Makan malam berdua pun selesai. Bukan menu mewah, tapi makan bersama orang yang di cintai pasti rasanya berbeda.
"Aku pulang deh mas, udah malam! Makasih makan malamnya heheh!"
"Mas antar lah, mana tega biarin kamu pulang sendiri."
"Ngga usah lah mas, aku bisa naik ojol. Lagian kamu besok praktek pagi kan?"
"Tahu banget jadwal ku ya?", Ikbal menaik turunkan alisnya sebelah.
"Huum, nebak aja sih sebenernya!", kata Aini mengedikan bahunya.
Tiba-tiba Ikbal meraih pinggang Aini hingga keduanya saling berhadapan.
"Benar ya? Kontrak kamu habis, kita pulang ke kampung mu nemuin ibu bapak kamu!", kata Ikbal tepat di depan wajah Aini. Aini yang masih cukup terkejut dengan posisi mereka itu pun bergerak gelisah. Perlahan, Ikbal pun melepaskan pelukannya.
"Mas...aku ngga mau banyak berjanji dan ngasih harapan lebih ke kamu."
"Janji? Harapan? Apa maksudnya?", tanya Ikbal penasaran.
"Mas, kamu tahu kan berapa biaya yang orang tua ku keluarkan untuk merawat ku di rumah sakit waktu aku kecelakaan kemarin?"
"Euheum, lalu?"
"Mas, bapak sampai menjual tanahnya untuk membiayai perawatan ku. Aku tahu itu kewajiban bapak sebagai orang tua, tapi aku juga sadar diri. Aku...aku pengen ngumpulin uang buat beli tanah itu lagi mas. Atau... mungkin di tempat lain. Yang penting aku bisa...."
"Berapa lama?", tanya Ikbal.
"Heuh?"
"Iya, coba beri tahu mas berapa lama aku harus nunggu kamu ngumpulin buat gantiin uang bapak?"
"Ya...ya...ngga tahu juga sih mas!", jawab Aini menunduk. Ikbal memegang kedua bahu Aini.
"Ai, insyaallah kalau sudah rejeki juga ngga akan kemana. Kalau kamu bersedia, kita bisa mengumpulkannya bersama."
"Ngga usah meledek ku ya mas!", kata Aini.
"Meledek apa sih?"
"Itu kan maksudnya...apa coba. Mas itu Dirut, dokter juga. Bukan hal sulit ngumpulin nya. Aku ????"
Baru Ikbal Ingin menjawab ucapan Aini, ponsel nya berdering. Ternyata dari Sean. Sepertinya ada yang sangat penting.
Setelah berbicara dengan Sean, Ikbal pun menjelaskan pada Aini jika kemungkinan besar Polisi akan datang ke kantor esok pagi.
"Heum!"
Aini hanya mengangguk.
"Kasus pembunuhan berencana dan juga penggelapan dana perusahaan!"
Aini mengangguk tanpa mengelap bekas ingusnya.
"Ya udah sekarang jadi pulang atau ngga?"
"Jadi dong?", Aini pun ikut di tertawa karena dari tadi ia yang tak jadi pulang.
Ikbal menggandeng tangan Aini menuju ke lift. Saat tiba di lift, Aini melihat penampakan seorang perempuan muda dengan wajah pucat menatapnya tajam.
Aini komat Kamit membaca doa yang dia hafal. Bagaimana pun juga ia tetaplah merasa takut.
"Ada apa Ai?", tanya Ikbal. Aini hanya menggeleng pelan. Tak mungkin dia mengatakan jika ada hantu di dalam lift tersebut. Mereka berdua tetap melanjutkan perjalanan menuju ke kost Aini.
.
.
Sore hari usai menemani temannya yang kebelakang, Ibas tak langsung pulang melainkan menuju ke pemakaman umum.
Ya, Ibas ingin mengunjungi makam kekasih yang sudah lama pergi meninggalkannya. Tak lupa ia membawa bunga yang ia letakan di atas nisan.
"Cantik? Kakak datang!", kata Ibas sambil mengusap kepala Ibas.
"Ternyata...Aini lebih memilih Ikbal di banding kakak ya Cantik!", monolog Ibas seolah dia sedang mengobrol sendiri dengan Ilma.
Tak ada suara apa pun di pemakaman umum itu. Ibas masih betah berlama-lama berada di sana.
Tanpa ia sadari, Ilma menunggui Ibas yang menyalurkan keluh kesahnya di atas nisannya.
Semoga suatu saat nanti kamu akan menemukan kebahagiaan mu, Ibas! Kata Ilma yang tak mungkin Ibas dengar.
****
22.10
Terimakasih 🙏