Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 104


Penyelidikan kasus bunuh diri di samping apartemen Ikbal belum menemukan titik temu. Petugas masih terus menyelami kasus tersebut meski tak lagi meminta saksi seperti Aini. Apalagi Ikbal juga menjelaskan pada petugas bahwa Aini baru sadar dari tidur panjang.


Melihat perkembangan Aini sudah membaik dan juga sudah berjalan normal seperti semula setelah melakukan terapi, orang tua Aini pun akan kembali ke kampung halamannya. Sisalah sepasang suami istri itu yang kini tinggal di bangunan cukup mewah itu.


"Ai, mau mas masakin apa?", tanya Ikbal saat dirinya baru saja membereskan jemuran pakaian mereka berdua. Ikbal masih belum mengijinkan istrinya melakukan pekerjaan rumah tangga untuk sementara hingga badan Aini benar-benar fit.


"Aku aja yang masak mas, aku udah bisa kok. Aku bukan orang penyakitan!", kata Aini meyakinkan. Ikbal mendesah pelan.


"Ya udah, tapi mas bantu ya!'', kata Ikbal. Aini menahan tangan suaminya.


"Cukup mas, udah! Aku bisa melakukan semuanya. Mas Ikbal juga punya kepentingan lain, jangan hanya memusatkan perhatian buat aku aja mas!"


Ikbal tersenyum.


''Buat mas, sekarang kamu lebih penting!", Ikbal mengusap puncak kepala Aini.


"Tapi perusahaan mas juga butuh perhatian. Banyak yang menggantungkan nasib mereka dari bekerja di kantor mas. Kalo mas Ikbal keseringan jagain aku, gimana sama perusahaan?"


Ikbal terkekeh pelan.


"Ada Sean yang bantu mas kok Ai. Kamu tenang aja, jangan terlalu merasa bersalah seperti itu. Heum?"


Akhirnya Aini hanya menghela nafas panjang.


"Mulai besok, mas ke kantor aja. Aku benar-benar udah ngga apa-apa, udah sehat mas!", kata Aini.


"Iya, mas percaya!", kata Ikbal.


"Kalo mas percaya, berarti sekarang biarin aku yang masak!", kata Aini memaksa.


"Oke...oke...tapi kalo butuh apa-apa panggil mas ya! Mas di ruang kerja, pintunya mas buka!"


"Iya?!'', sahut Aini riang karena diijinkan berkutat dengan peralatan dapur.


Aini mengernyitkan alisnya.


"Belum pernah mas makan? Apaan?", tanya Aini.


"Kamu! Hehehe!", Ikbal menowel puncak hidung Aini lalu meninggalkannya menuju ke ruang kerjanya. Aini masih menebak-nebak perkataan Ikbal barusan. Dia bukan gadis polos dan bodoh.


Wajahnya bersemu merah setelah menyadari apa yang suaminya maksud dengan kata 'makan'. Tapi untuk saat ini, ia belum bisa memberikan 'makan' untuk suaminya karena dia akan memasak sayur untuk makan malam berdua.


Di sela kesibukannya memasak, bulu kuduk Aini meremang. Dia menoleh ke sekeliling, tidak ada apapun. Akan tetapi, ia seperti melihat sosok yang naik ke tangga kamarnya.


Bodohnya, Aini mengekor dan mencoba mencari tau siapa yang naik ke lantai atas. Saat melintas di ruang kerja Ikbal, ia melihat suaminya masih sibuk dengan pekerjaannya. Jadi, mana mungkin kan yang naik tadi adalah suaminya???


Aini tak ingin ambil pusing, ia kembali ke dapur. Sesampainya di dapur, ia dikejutkan dengan potongan sayurnya yang acak-acakan. Sutel dan saringan minyak sudah ada di lantai bawah. Dan kondisi dapur mendadak berantakan padahal hanya di tinggal tak sampai lima menit.


Aini menarik nafas dalam-dalam. Ia pejamkan matanya lalu akhirnya menatap ke sekeliling dan berbicara dalam hatinya.


"Siapapun, tolong jangan ganggu aku! Aku tidak pernah mengganggumu atau kalian!", kata Aini dalam hatinya.


Tapi, Aini tak melihat apapun selain api kompor yang tiba-tiba menyala hingga membuat Aini tersentak. Padahal tadi seingatnya, Aini sudah mematikan kompornya sebelum ia keluar dari dapur.


Nafas Aini memburu menahan rasa takut pada api yang tiba-tiba menyala.


"Sudah ku bilang, jangan ganggu aku!!!",kata aini dal hati. Dan perlahan... beberapa sosok menampakkan wujudnya yang berjumlah lebih dari tiga.


Mulut Aini menganga lebar melihat beberapa penampakan hantu yang sangat menyeramkan.


****


Terimakasih 🙏


14.52