
Mobil Ikbal memasuki halaman rumah megah bergaya klasik modern. Papa Ikbal memang menyukai seni eksterior. Alhasil, rumah yang terlihat luas itu tetap nyaman di pandang dan di huni.
"Ayo!", ajak Ikbal.
Aini menoleh saat Ikbal seolah akan memintanya untuk bergandengan tangan. Di lihatnya tangan kekar yang berwarna kontras dengan dirinya. Jika Aini berkulit kuning langsat, Ikbal berwarna sawo matang tapi juga tidak kategori hitam. Meski begitu, warna kulitnya terkesan eksotis huuuuhhh....
Karena tak mendapatkan tanggapan dari Aini, Ikbal pun meraih tangan Aini.
"Kenapa bengong? Ayo masuk!", ajak Ikbal. Aini menarik nafas perlahan.
"Aku...ngga enak sama mama kamu mas!", kata Aini.
"Kenapa harus ngga enak?", tanya Ikbal. Aini menggelengkan kepalanya. Entah lah apa yang membuat dia tak enak.
"Ngga apa-apa sih!", jawab Aini singkat.
"Status?", tanya Ikbal. Aini menoleh cepat.
"Maksudnya?", tanya Aini bingung.
"Kamu takut kalo mama menanyakan status kita?", tanya Ikbal sambil tersenyum. Aini cepat-cepat menggeleng dan saat bersamaan pula ia melihat kendaraan roda dua milik Ibas terparkir di samping mobil Ikbal.
Melihat Aini menatap motor besar itu, Ikbal pun turut menoleh.
"Apa karena ada Ibas?", tanya Ikbal. Aini bergeming. Mungkin ada rasa yang tak bisa di ungkapkan saat membahas Ibas yang pernah amat sangat ia cintai, dulu! Dulu! Sebelum kecelakaan itu terjadi hingga membuat Aini koma.
Tapi...apa Ibas tak merasa bersalah sama sekali terhadap nya? Aini mendengus dalam hati.
"Benar ya karena ada Ibas?"
Kedua pasang mata mereka bertemu. Tapi Aini lebih dulu memutus pandangan itu. Sosok Ibas terlalu menawan untuk di pandang.
"Katanya mau move on? Aku bisa bantu kamu buat move on dari kebucinan mu pada Ibas!", kata Ikbal dengan penuh percaya diri.
Bibir Aini berkedut ingin tersenyum tapi belum sempat tersenyum, Ilma sudah memanyunkan bibirnya untuk protes.
Waktu nya tidak tepat Aini! Kata Ilma tanpa menggerakkan bibirnya tapi Aini mampu mendengarnya.
"Eeh...mas, mending masuk deh. Takutnya mamanya mas Ikbal istirahat, ini kan udah siang!", kata Aini mengalihkan pembicaraan.
Ikbal pun tak protes. Toh dari tadi memang ia mengajak Aini untuk masuk.
Keduanya pun berjalan menuju ke ruang tamu. Suasana rumah begitu hening seperti tak ada tanda-tanda kehidupan.
Perlahan, terdengar suara tapak kaki yang menuruni tangga. Sudah dipastikan jika itu...Ibas! Kenapa?
Karena penghuni lantai atas tinggal dirinya. Ikbal jarang ke rumah ini.
Setelah sampai di lantai bawah, Ibas tertegun melihat kekasihnya datang bersama kakak tirinya. Bahkan bisa dilihat jika keduanya sangat dekat.
"Ain!", sapa Ibas. Dia pun mendekati Aini dan Ikbal.
Saat akan menyentuh Aini, Aini memundurkan dirinya.
"Ain, aku kangen sama kamu! Kamu sudah sehat kan sayang?", tanya Ibas tanpa malu.
Aini memilih tak menjawab. Tatapan Ilma seolah sedang cemburu saat Ibas mengatakan hal tersebut. Semasa Ilma hidup, Ibas adalah kekasih gelapnya karena hubungan itu terhalang silsilah keluarga.
Ilma melambaikan tangannya pada Aini untuk mengikutinya.
"Mas! Ke sana!", tunjuk Aini pada Ikbal dengan tangan mengacung ke arah dalam.
"Bukan urusan kamu!", jawab Ikbal sengit. Seolah mengabaikan keberadaan Ibas, Aini dan Ikbal masuk ke dalam ruang makan. Dan di mata Aini, Ilma menunjuk sesuatu di bawah lemari hias tersebut.
Ibas yang penasaran pun hanya mengikuti keduanya yang berjalan ke dapur.
"Disini Aini, di sini!!", kata Ilma pada Aini. Gadis itu hanya mengangguk.
"Mas, coba kita cari alat untuk mengambilnya."
Ikbal pun bangkit dan memanggil art nya dan juga supirnya yang ternyata ada di halaman belakang.
"Ada yang bisa kami bantu mas Ikbal?", tanya supir.
"Bisa tolong angkat salah satu sisi lemari? Barang saya ada yang jatuh dan masuk ke dalam sana!", kata Ikbal. Ibas yang bingung hanya menyaksikan kakak tirinya memberikan instruksi.
"Ada apa ini?", tanya Romi tiba-tiba datang. Tapi dia memang terbiasa makan siang di rumah.
"Itu pa, barang mas Ikbal ada yang jatuh ke sana?!", jawab Ibas. Romi pun meninggalkan ruangan itu begitu saja tanpa menyapa Ikbal apalagi Aini.
"Isinya di ambil dulu bik!", pinta Ikbal pada artnya. Si art pun hanya menuruti perintah majikannya.
Setelah semua barang di turunkan, sopir dan Ikbal mencoba memiringkan salah satu sisinya. Kenapa tidak di angkat saja??? Berat besti!
Tapi ternyata lemari itu memang berat. Tanpa di minta, Ibas pun turut memiringkan sisi lemari.
Sedang si bibik menyerok sesuatu di bawah lemari tersebut yang ternyata sebuah ponsel.
Aini mengambil ponsel itu dari bibik. Lemari itu di posisikan seperti semula.
Ilma mendekati Aini.
"Mungkin rusak karena sudah lebih dari empat tahun ada di sana! Tapi...itu bukan ponsel murah, sepertinya memori internalnya aman. Dan semua bukti yang mengarah pada om Romi, ada di situ?", bisik Ilma. Padahal tanpa berbisik pun, hanya Aini yang akan mendengarnya. Aini hanya mengangguk tanda mengerti.
Ibas mendekati Aini lalu menyambar ponsel Ilma yang ada di tangan Aini.
"Ini hp nya Ilma! Kenapa ada di situ? Sejak kapan? Dan...kenapa tiba-tiba kamu tahu ada ponsel Ilma di sana?", cerca Ibas. Tapi dengan cepat Ikbal meraih ponsel Ilma.
"Ini bukan urusan Lo!", kata Ikbal tegas.
"Tapi ini menyangkut ilma , gue berhak tau mas!", kata Ibas nyolot.
Aini hanya menghela nafas. Dua tahun bucin dan menjadi kekasih Ibas, Aini paham seperti apa karakter Ibas selama ini.
Mudah marah dan meledak-ledak!
"Ayo Ai, kita pergi dari sini!", Ikbal meraih bahu Aini.
"Mas!", panggil Ibas bersamaan pula dengan Rini yang datang entah dari mana.
"Ada apa ini?", tanya Rini. Aini melihat mata Ilma yang berkaca-kaca. Mungkin dia sangat merindukan ibunya. Empat tahun gentayangan tentu Ilma sangat tersiksa.
"Ma!", sapa Ikbal. Rini pun menyambutnya lalu menoleh pada Aini.
"Pacar kamu Bal?", tanya Rini.
Belum sempat menjawab, Ibas lebih dulu menyanggah.
"Aini pacar aku ma!", sahut Ibas. Rini mengernyitkan alisnya, kalau pacar Ibas kenapa datang sama Ikbal....???
Ilma memberikan kode agar mereka secepatnya pergi dari sana. Ilma bilang, Romi bisa curiga pada Ikbal dan Aini. Bahkan Ilma takut jika Aini akan terlibat di dalamnya.