Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 78


Sore hari saat waktunya pulang kerja, Aini benar-benar menunggu Ikbal. Tiga rekannya sudah lebih dulu pulang. Gadis cantik itu memilih duduk di depan sekitaran parkiran. Masih jam lima sore, tapi suasana sudah terlihat lengang. Berbeda dengan di dalam tentunya yang ramai pasien.


Aini melihat pergelangan tangannya. Jam digital nya menunjukkan pukul 17.17. Itu artinya dia sudah lebih dari sepuluh menit ia menunggu di sana. Tanpa di duga, ia melihat Ibas yang memapah temannya masuk ke lorong UGD. Ibas sempat terkejut melihat keberadaan Aini di sana. Tidak hanya Ibas, tapi ada beberapa laki-laki yang Aini kenal. Tentu saja Aini kenal, dua tahun ia menjalin asmara dengan Ibas. Sudah barang tentu ia mengenal teman-teman Ibas.


Tapi jika mengingat percakapan konyol yang pernah ia dengarkan antara Ibas dan teman-temannya, Aini merasa sangat membenci mereka. Terutama Ibas.


Jadi bahan taruhan untuk di lecehkan secara bergantian, itu hal yang sangat menjijikan bukan? Aini menggeleng lemah. Rasa sakit itu pernah ia coba untuk lupakan saat Ibas meminta maaf beberapa waktu yang lalu. Apalagi Ibas terlihat sungguh-sungguh meminta maaf padanya dan berjanji tidak akan mengulangi dan memperbaiki diri.


Ibas meninggalkan teman-temannya lalu menghampiri Aini.


"Ain, ngapain kamu disini? Ada yang sakit?'', tanya Ibas.


"Aku bekerja di sini!'', jawab Aini.


"Bekerja di sini?'', tanya Ibas heran. Wajar saja Ibas heran, pekerjaan apa di rumah sakit untuk lulusan SMA seperti Aini?


"Di bagian apa?''


Aini menoleh pada mantan kekasihnya tersebut.


"Apa ada urusannya sama kamu?''


Ibas menghela nafas berat, dia memaklumi jika Aini begitu marah padanya. Padahal beberapa waktu lalu, Aini mengatakan sudah memaafkannya. Tapi hari ini Aini terlihat memusuhinya, lagi!


"Ain...", ucapan Ibas terhenti saat suara bariton menyela kalimatnya.


"Maaf sayang, sudah lama nunggu ya? Mas baru selesai mengisi laporan operasi tadi.'' Ikbal mengalungkan tangannya di bahu Aini yang terkejut dengan kedatangannya.


Ibas meremas kedua tangannya menahan emosi. Bagaimana tidak? Ikbal memperlakukan Aini seperti yang pernah ia lakukan pada gadis itu.


"Iya mas, ngga apa-apa", sahut Aini yang melihat Ibas seperti orang yang marah pada Ikbal.


"Kamu, ngapain di sini Bas?'', tanya Ikbal yang menurunkan tangannya dari bahu Aini karena dai merasa Aini tak  nyaman dalam posisi seperti itu.


" Nganterin Alex, tadi dia kecelakaan", jawab Ibas ketus. Ikbal mengedikkan bahunya.


"Semoga lekas pulih ya. Ayo sayang kita pulang, bentar lagi magrib",ajak Ikbal.


"Ayo mas!''


Bohong kalau tak sakit hati, ya kan??


.


.


"Maaf ya, pasti kamu menunggu ku lama.''


"iya mas, ngga apa-apa kok"


"Mas mau cerita, boleh?''


"Cerita aja  mas, aku dengerin!''


Ikbal menyamankan duduknya. Lalu ia pun mulai menceritakan sertiap kejanggalan yang terjadi beberapa saat kemarin bahkan hari ini.


"Kata Ilma, itu perbuatan dukun yang di minta mengrjai mas Ikbal atas perintah Pak Sutan.''


"Pak Sutan?', Ikbal menautkan alisnya.


"Kata Ilma begitu, dia bekerja sama dengan Romi.''


Ikbal meremas setirnya dengan erat. Ternyata, selain partner korupsi, Sutan juga orang yag berada di balik terornya selama ini.


Aroma seperti kmarin, tercium oleh Ikbal dan Aini bersama-sama. Dan tiba-tiba saja mobil terasa berat di bawa Seolah ada beban berat yang mobil itu. Mata batin Aini melihat, sosok berbulu dan tinggi besar tengah duduk di atas mobil dengan kaki yang menjuntai dari kaca spion.


Keduaya memutuskan untuk tak menganggap keberadaan makhluk itu. Jika Ikbal tak bisa melihatnya, tapi dai bisa merasakan kehadiran mereka.


"Astaghfirullah??", gumam keduanya.


*****


Terimakasih


11.26