
Ibas akhirnya memundurkan badannya keluar dari pintu kamar Aini tanpa memutar badannya.
Lelaki berambut gondrong itu berada di antara percaya dan tidak percaya. Bagaimana bisa ia melihat penampakan Ilma yang bahkan selama ini tak pernah ia lihat sejak kekasihnya itu meninggal.
"Lo kenapa sih Ai?", tanya Nita sambil berjalan beriringan dengan memijat tengkuk Aini. Aini menggeleng lemah tapi matanya nanar menatap ke semua sisi kamarnya. Sosok Ilma sudah tidak ada lagi.
Yang Aini heran, kenapa Ilma menunjukkan wujudnya yang menyeramkan saat ini. Kenapa begitu menakutkan??? Bukan untuk pertama kalinya ia melihat Ilma seperti itu, tapi...setiap Ilma seperti itu seolah sedang menunjukkan jika arwah gadis itu sedang marah.
Apakah Ilma marah karena Ibas menemuinya???
Ternyata Ibas masih berada di depan kamar Aini dengan wajah pucat dan keringat dingin.
Apakah Ibas juga melihat keberadaan Ilma tadi ya? Batin Aini.
Nita menggeleng heran karena melihat Ibas masih berada di sana. Gadis itu pun menghampiri Ibas.
"Lo mau apa sih?", tanya Nita.
"Gue ada perlu sama Aini. Jadi gue harap Lo sama cowok Lo ga usah ikut campur!", kata Ibas.
"Ckkk...mau ngomong apa la...?''
"Udah Nit, gue juga mau ngomong sama dia!", Aini memotong ucapan Nita. Gadis itu hanya menghela nafas berat.
"Oke, gue di luar kalo Lo berdua emang mau ngobrol ! Tapi pintu gue buka! Awas Lo kalo macem-macem sama Aini!", ancam Nita sambil keluar dari kamarnya. Tak lupa ia menyenggol bahu Ibas dengan kasar.
Ibas hanya tersentak kesal tanpa membalas sahabat Aini.
"Mau ngomong apa?", tanya Aini datar.
"Gue mau minta maaf!", kata Ibas.
"Soal?", Aini menoleh menatap mantan kekasihnya tersebut yang membuat nya dulu begitu bucin. Entah kenapa bisa begitu!
"Soal kesalahpahaman yang terjadi dan.... kecelakaan yang menimpa kamu!"
"Salah paham?", tanya Aini dengan senyuman sinisnya.
"Stop! Telingaku masih cukup normal mendengar obrolan kamu dan teman-teman mu! Bodohnya aku....aku pernah begitu memuja kamu Bas!",Aini menggeleng lemah.
"Ain...!"
"Hubungan kita sudah berakhir bas, tolong sadar hal itu!"
"Kamu yang memutuskan, bukan aku!", kata Ibas kekeh.
"Iya, aku tidak butuh persetujuan kamu Bas. Kamu tidak merasa bersalah sama sekali membuat aku hampir mati?", sarkas Aini sambil tersenyum.
"Kalau kamu ngga kabur saat itu, mungkin kamu tidak akan kecelakaan Ai!", bela Ibas.
''Iya, aku lebih baik kecelakaan dari pada di sana aku hanya akan di lecehkan oleh kalian!", Aini menatap Ibas dengan nyalang.
"Ain!"
"Berhenti membentak ku, Bas!", sentak Aini.
"Apa karena Ikbal, kamu sudah berpaling dari ku?", tanya Ibas. Aini tak mampu menatap wajah Ibas.
"Jadi benar, karena Ikbal? Dia yang sudah memisahkan aku dengan Ilma dan sekarang dia merebut kamu dari ku?"
"Bukan Ikbal yang memisahkan kamu dengan Ilma ,tapi papa kamu! Papa kamu yang sudah merenggut nyawa Ilma. Tapi kenapa kamu justru menyalahkan Mas Ikbal? Kamu pikir siapa yang lebih kehilangan Ilma di antara kamu dan mas Ikbal, Bas? Siapa?", tanya Aini yang sudah tak lagi bisa menahan emosi.
"Papa ku? Apa maksudnya Ai!?", tanya Ibas dengan suara bergetar.
"Tanya saja sama papa kamu! Dan intinya sekarang, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi! Semua sudah selesai, silahkan pergi dari sini!"
Ibas masih tertegun, papanya benar-benar sudah memisahkan dirinya dengan Ilma? Aini sama sekali tak keberatan saat dirinya mengatakan kehilangan Ilma????
****
Terimakasih 🙏