
Ponsel Aini berdenting. Tiba-tiba saja ada signal. Begitu pula dengan ponsel Ahmad. Keduanya kembali fokus dengan benda pipih di tangan mereka.
"Mas Ikbal?", gumam Aini.
"Mas Bambang?!", ganti Ahmad yang menggumamkan nama atasannya.
"Kalau kalian mau istirahat, mampir ke warung bapak!", kata seseorang tadi. Keduanya menoleh pada bapak yang tadi memberikan minum.
Ahmad dan Aini kompak mengangguk lalu ikut dengan bapak tadi. Ahmad mendorong sepeda motornya sampai ke depan warung.
Keduanya memilih duduk berhadapan. Tak lama kemudian, si bapak menyodorkan rebusan pisang yang masih hangat. Barulah setelah itu ia turut duduk bersama dua orang yang 'menyasar' ke kampung ini.
Aini melirik jam digital yang ada di ponselnya.
"Mas Ahmad, ini udah jam delapan!", pekik Aini.
"Iya, perasaan tadi kita nyasar ke hutan ngga lama. Masa sampai hampir satu jam?", tanya Ahmad balik.
Ponsel Aini berdering nyaring. Nama Ikbal muncul di layar tersebut. Ada perasaan takut atau ...entah, Aini tak tahu.
"Siapa? Dokter Ikbal?", tanya Ahmad. Aini mengangguk.
"Angkat deh! Cerita yang sebenarnya! gue mau ngobrol sama bapak, boleh kan pak?", tanya Ahmad pada lelaki tua itu.
Warung tersebut tidak ada pengunjung sama sekali selain mereka berdua. Hanya saja Ahmad yakin jika warung itu real. Karena beberapa kali ada pejalan kaki dan kendaraan yang lalu lalang di jalan raya.
Aini mengangkat panggilan Ikbal.
[Ha-halo assalamualaikum mas]
[Walaikumsalam. Ya Allah, Ai? Kamu di mana? Kenapa belum pulang? Kenapa juga nomor kamu baru aktif. Ahmad bawa kamu ke mana?]
Cerocos Ikbal. Ruby menggeleng pelan. Dia tak tahu jika Ikbal akan seposesif ini pada Aini padahal setahu dirinya, keduanya belum berpacaran. Lalu ... bagaimana setelah nanti mereka ada hubungan????
[Mas Ikbal boleh percaya boleh tidak mas! Tapi sekarang, saat ini aku dan mas Ahmad ada di Purwakarta]
[Hah??? Bagaimana mungkin? Kamu saja keluar rumah sakit jam tujuh Ai? Naik motor dengan Ahmad sampai ke Purwakarta hanya dua jam? Ngga mungkin!]
[Oke?! Apa pun yang kamu katakan aku akan percaya Ai! Cerita sama aku, bagaimana bisa kalian ada di sana dalam waktu singkat?!]
Ciri-ciri orang bucin, batin Ruby sambil geleng-geleng kepala.
Aini pun menceritakan kronologisnya sejak ia keluar dari rumah sakit hingga tiba-tiba gerimis dan mereka tersesat di hutan yang sunyi bahkan tanpa suara binatang dan gesekan daun sama sekali. Aini pun mengatakan jika ia dan Ahmad tak berhenti merapalkan doa karena merasa ketakutan berada di tempat asing yang tidak seharusnya.
Dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk kembali melajukan kendaraannya tapi ternyata tahu-tahu mereka sudah ada di salah satu kabupaten di Jawa Barat yang cukup jauh jika di jangkau dengan roda dua apalagi hanya menempuh waktu satu jam.
Kalau mereka berada di pinggir timur ibukota mungkin masuk akal, tapi mereka ada di pusat kota yang macet parah.
[Tapi kalian tidak ada yang terluka?]
[Alhamdulillah ngga mas. Kami baik-baik saja. Beruntung tadi kami di tolong sama bapak pemilik warung yang katanya beberapa kali terjadi seperti ini. Mas Ahmad sedang mengobrol sama bapak itu]
[Syukurlah kalo kamu nggak apa-apa. Beri tahu tempat itu. Nanti aku dan Ruby menjemput kalian!]
[Hah? Mas Ikbal dan Mas Ruby mau jemput kami? Tapi....]
[ Tanya sama bapak itu, alamat kalian di mana. Aku bawa mobil yang ada bak nya. Buat angkut motor Ahmad sekalian]
[Iya mas. Terimakasih sebelumnya. Maaf bikin repot mas ikbal dan mas Ruby]
Setelah panggilan terputus, Aini pun menghampiri Ahmad dan bapak tua itu.
"Jadi, sebaiknya kalian berhati-hati! Kemampuan kalian menarik perhatian mereka. Jadi alangkah baiknya, tingkatkan lagi ibadah kalian!", nasehat bapak itu.
Aini sempat terkejut mendengar bapak itu memberi nasehat pada Ahmad yang mengatakan 'kemampuan' , itu artinya....dia tidak sendiri merasakan apa yang tidak kebanyakan orang rasakan bukan????
Aini turut mendengar nasehat tersebut. Setelah selesai memberi petuah, Aini meminta alamat warung si bapak karena akan ada yang menjemput mereka. Si bapak pun dengan senang hati memberikan alamatnya pada Aini.
****
Terimakasih
19.46