Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 53


Suara ketukan pintu kamar rawat Aini mengalihkan obrolan keduanya. Ikbal mengijinkan si pengetuk pintu agar langsung masuk ke kamar Aini.


Panjang umur, ternyata yang di bicarakan justru datang. Ahmad, dia masuk ke ruangan Aini dengan wajah pucatnya seperti halnya dengan Aini.


"Dokter?", sapa Ahmad pada Ikbal.


"Aini!", sapa Ahmad pada Aini. Aini mengangguk perlahan.


"Sudah lebih baik Mas Ahmad?", tanya Ikbal.


"Alhamdulillah mas!", jawab Ahmad. Lalu atensinya beralih pada Aini yang duduk di ranjangnya.


"Gimana keadaan Lo, Aini?", tanya Ahmad. Ikbal menautkan kedua alisnya saat mendengar panggilan Ahmad pada Aini yang terlihat akrab , Lo Gue???


"Alhamdulillah, sudah mendingan kok mas. Emm...mas Ikbal bilang, kamu juga mengalami pingsan cukup lama ya mas?", tanya Aini to the poin pada Ahmad.


Sejauh ini, Ikbal masih bisa mengontrol emosinya untuk tidak cemburu pada rekan Aini. Tapi entah beberapa menit ke depan.


"Heum! Gue pulang kerja solat, makan habis itu tidur. Tapi tahu-tahu pas bangun, gue udah di sini!", kata Ahmad.


Ikbal menonton dan mendengar obrolan dua orang yang memiliki kemampuan sama sepertinya.


"Habis itu, Lo...mimpi aneh ngga Mas?", tanya Aini. Tampak Ahmad menghela nafas. Tapi setelah itu justru lelaki itu menoleh pada Ikbal.


Aini yang menyadarinya pun mengatakan yang sebenarnya.


"Mas Ikbal tahu kita punya kemampuan lebih, dia kan udah jemput kita malam itu!", kata Aini. Ahmad mengangguk pelan.


"Iya!", jawabnya singkat.


"Apa kalian ingin bicara berdua? Kalo begitu aku keluar!", kata Ikbal beranjak dari kursi yang ada di samping aini. Tapi Aini reflek menahan tangan Ikbal hingga dokter tampan itu kembali terduduk.


Ahmad tersenyum tipis.


"Pak Dokter jangan salah paham, apalagi cemburu. Saya dan Aini hanya berteman!", kata Ahmad meyakinkan Ikbal. Ikbal merasa dirinya seolah sedang kepergok cemburu. Padahal dia dan Aini tak memiliki hubungan apa pun hingga detik berlalu.


"Ehem...ngga apa-apa kok mas Ahmad, santai aja?!", pinta Aini.


"Iya, aku sempat melihat berita tersebut. Tapi....aku mencoba berpikir jika itu tempat yang berbeda."


"Aku pun sama Aini, tapi.... kenyataannya kita memang berteduh di sana. Itu artinya...kita berteduh setelah kejadian kebakaran itu terjadi."


Aini menghela nafas berat. Semua seperti sebuah mimpi yang tak terduga.


"Apa mimpi kamu mas?", tanya Aini pada Ahmad. Tanpa Aini sadari, ia masih mencengkram pergelangan tangan Ikbal. Dan lelaki itu justru memanfaatkanya. Dia membiarkannya saja sambil tersenyum tipis.


"Aku mimpi berada di suatu tempat yang asing. Di sana aku melihat banyak orang yang bertelanjang yang sedang bekerja entah membuat apa."


"Heum?", gumam Aini tanpa mengalihkan pandangannya.


"Dan aku juga tidak tahu tiba-tiba ada yang menangkap ku! Mereka segerombol perempuan yang menurut ku berpakaian aneh."


"Lalu?", tanya Aini penasaran.


"Aku melihat seorang laki-laki yang duduk di singgasana dengan wajah yang menyeramkan. Dia mengatakan jika aku akan menjadi budak di sana. Spontan aku menjauh!"


"Aku yakin jika itu mimpi, tapi ternyata memang beneran mereka ada. Bahkan ada sisa perkelahian di sana, membekas."


Ahmad menunjukkan luka di tubuhnya.


"Kenapa kita bisa mimpi buruk seperti itu bersamaan ya mas Ahmad."


"Entah lah!", Ahmad mengedikan bahunya.


"Aku pun sama kurang lebih seperti itu, mas Ahmad."


"Sudah belum ngobrolnya?", entah bertanya entah menyindir Ikbal bertanya seputar itu. Alhasil, Ahmad menyadari hingga ia berpamitan tanpa mengurangi rasa hormat nya meski sebenarnya ia kecewa masih ingin mengobrol dengan Aini.


*****"


Terimakasih 🙏✌️🙏


22.42