
"Ain?", panggil ibunya. Beruntungnya makhluk tak kasat mata itu langsung hilang dari pandangan Aini.
"Ibu, bapak!", kata Aini saat melihat kedua orang tuanya masuk.
"Dokter Ikbal ke mana?", tanya ibu.
"Keluar sebentar Bu."
Kedua orang tua Aini mengangguk.
"Ada yang ingin bapak tanyakan Ain, bisa?", tanya bapak. Aini mengiyakannya.
"Iya pak? Kenapa?"
"Apa... setelah kecelakaan itu ...kamu dan Ibas sudah berpisah?", tanya bapak yang sejak awal sebenarnya menentang hubungannya dengan Ibas.
Aini sempat ragu. Ia belum putus sebenarnya dengan Ibas. Hanya saja dirinya sudah terlanjur kecewa dan sakit hati pada cowok itu.
"Ya, bukan gimana-gimana Aini. Kalau kalian berkenalan baik-baik, setidaknya kalian juga berpisah dengan cara yang baik pula."
Andai bapak tahu jika Ibas salah satu alasan kenapa aku bisa kecelakaan, apa bapak masih bisa bicara seperti itu???
"Nak, apa yang bapak mu katakan ada benarnya! Bicara baik-baik sama Ibas, kalau kalian mau mengakhiri hubungan juga harus dengan cara yang baik. Apalagi...ibu lihat kamu dan dokter Ikbal semakin dekat!", kata ibu.
Ikbal yang awalnya akan masuk pun lebih memilih menunggu di luar sambil mendengarkan obrolan Aini dan orang tuanya.
Aini bergeming. Pertemuan terakhirnya dengan Ibas beberapa hari yang lalu cukup buruk. Terlihat betapa Ibas cemburu melihat dirinya dengan Ikbal.
Tapi mau bagaimana lagi? Cowok mesum itu susah terlanjur menyakiti hatinya hingga ia nyaris kehilangan nyawanya.
"Aini?", ibu mengguncang pelan bahu Aini.
"Heum? Iya Bu?", tanya Aini.
"Dokter Ikbal serius sama kamu nak, bagaimana?", tanya ibu.
"Mas Ikbal sudah bilang sama ibu, sama bapak?", tanya Aini bingung. Sepasang suami istri itu tersenyum lalu mengangguk.
"Ibas itu...adiknya mas Ikbal, Bu...pak!", kata aini.
"Iya, nak Ikbal sudah cerita Ain!", kata bapak.
"Jadi?", tanya Aini.
"Kok jadi malah tanya bapak sama ibu? Ya kamu yang menentukannya!", kata bapak.
"Eum...Aini takut pak, kita hanya orang kampung. Orang biasa. Apa pantas bersanding sama mas Ikbal? Dia dari keluarga berada dan terhormat!", kata Aini.
"Tapi sepertinya nak Ikbal tidak mempermasalahkannya nak?", kata ibu.
"Mas Ikbal mungkin tidak, tapi... sepertinya ibunya yang tidak akan menyetujuinya!", kata Aini.
Ibu mengusap bahu Aini dengan lembut.
"Ya udah, kami sebagai orang tua hanya mengikuti apa yang menurut kalian baik. Bapak dan ibu dukung sepenuhnya!", kata bapak.
Ikbal yang ada di dekat pintu menatap pujaan hatinya yang tampak putus asa sebelum berusaha. Ya, Aini sudah terlanjur insecure pada ibunya Ikbal.
.
.
.
"Pak Romi, anda di panggil manajer keuangan!", kata salah seorang rekannya. Romi pun bangkit dari kubikelnya menuju ruang manajer keuangan.
Meski dia papa tiri dari pemilik perusahaan tersebut, nyatanya ia tetap di pandang sama saja karena jabatannya sebagai staf biasa.
Tok
tok
tok
"Masuk!", kata menejer keuangan itu. Romi pun masuk dan langsung duduk di hadapan atasannya itu.
"Ada apa?", tanya Romi tanpa sopan santun.
"Ikbal mulai curiga dengan pengeluaran yang tak wajar!", Sutan, menejer keuangan sekaligus sahabat Romi melempar sebuah berkas. Romi pun mengambil berkas tersebut lalu membacanya.
"Tinggal di perbarui, gampang kan?", kata Rini sambil melempar berkas tersebut.
Ya, Sutan adalah partner Romi yang sudah menghabisi Fauzan, papa Ikbal.
"Gampang Lo bilang? Kalo emang gampang, harusnya Lo udah naik jabatan dari kapan tahu Rom! Ikbal ngga bisa kita kadalin!"
"Terus sekarang mau Lo apa?", tanya Romi yang juga kesal.
"Selama ini, dia selalu saja selamat setiap gue mau celakain dia!", kata Romi.
"Gimana kalo kita ke orang pintar! Bikin Ikbal nurut sama Lo! Kalo mau lebih ekstrim lagi, habisi sekalian!", kata Sutan.
"Orang pintar? Dukun santet maksud Lo?", tanya Romi.
"heum! Kalo cara real di ngga mempan, gimana kalo dengan cara begitu!"
"hahaha ayolah Sutan, tahun berapa ini? Masih percaya kaya begituan!"
"Rom, gue cuma kasih saran aja sih? Kalo Lo mau, ayo kita cari dukun sakti itu."
Romi sempat menimbang-nimbang keputusannya. Ia pun sebenarnya lelah hanya menjadi staf rendahan bertahun-tahun lamanya di perusahaan Fauzan tersebut.
"Kita sant** dia aja Rom, kalo di bikin mampus terlalu gampang!", kata Sutan.
"Oke, gue ikut apa kata Lo!", ujar Romi.
"Sip lah, gue cari orang pintarnya dulu!", kata Sutan lalu obrolan tentang pekerjaan pun kembali berlanjut.
****
Terimakasih 🙏🙏🙏
22.32