Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 25


Ikbal yang mengantarkan Aini ke rumah sakit untuk interview pun menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak?


Dokter yang di kenal ramah tapi tak pernah dekat dengan perempuan itu terlihat datang bersama seorang gadis muda yang tak lain mantan pasien di rumah sakit tersebut.


Apa Aini seterkenal itu? Mungkin! Di kalangan perawat mungkin banyak yang pernah beberapa kali menggantikan tugas jaga saat Aini koma. Jadi wajar jika mereka tahu hal itu.


"Selamat pagi Dokter Ikbal!", sapa salah seorang perawat.


"Selamat pagi!", balas Ikbal. Aini sendiri tampak tersenyum tipis.


"Mas, aku sendiri aja interview nya!", kata Aini. Para perawat yang tadi menyapanya berbisik pelan. Tapi dasar Aini yang sekarang bisa mendengar suara lirih eh ...jangankan lirih, ucapan dalam hati saja dia bisa mendengarnya.


"Tuh kan gue bilang juga apa. Pasti itu pacar nya dokter Ikbal. Panggil nya aja udah mas!", kata perawat satu dan di timpali oleh perawat lain.


"Ternyata seleranya dokter Ikbal kaya gitu gaes! Udah yuk?!", ajaknya. Para perawat itu pun menjauh dari Aini dan Ikbal.


"Memang kenapa kalo aku temenin kamu?"


"Ya ...ya...aku malu aja mas!", kata Aini menggaruk leher nya yang tertutup jilbab.


"Malu yang kaya gimana nih? Malu karena aku yang mengantarkan mu?", tanya Ikbal. Aini menggeleng cepat.


"Ngga, bukan mas. Tapi aku malu aja kalo pas lagi ditanya ini itu ada mas Ikbal. Malu ngejawabnya"


Ikbal tersenyum lalu mengangguk dan mengusap kepala Aini.


"Aku tunggu di sini! Semoga tidak di terima, biar kamu ngelamar di kantor ku aja. Bahkan ngga perlu melamar, kamu tinggal masuk ke kantor ku."


"Ishh...mana ada begitu. Emang boleh kalo tiba-tiba aku jadi sekertaris mas Ikbal?", ledek Aini.


"Jangan kan sekretaris, jadi istri ku aja boleh kok!", jawab Ikbal tanpa filter.


Wajah Aini bersemu merah.


Malu-malu seperti itu bikin aku makin gemas sama kamu, Ai! Pengen cubit pipi mu! Batin Ikbal.


"Gemas boleh, tapi ngga boleh cubit!", kata


Aini keceplosan.


"Heuh?", Ikbal tampak bingung.


"Eum... maksud nya eum...udah deh lupain. Aku masuk interview dulu Mas."


Aini menepuk wajah nya dengan map yang dia bawa. Ia masuk ke ruangan yang ada di sebelah kamar jenazah. Kantor pengurus nya memang bersebelahan dengan kamar tersebut. Jika nanti memang di terima, dia akan di antar ke ruang administrasi.


Tok...tok...


"Masuk!", seseorang meminta Aini masuk.


Ceklek....


Semua mata tertuju pada Aini. Sosok gadis cantik yang berbalut hijab.


"Iya? Ada yang bisa di bantu?", tanya salah seorang laki-laki yang bernama tag Ahmad.


"Em... perkenalkan, nama saya Nur Aini. Saya dapat informasi jika di rumah sakit ini sedang membutuhkan tenaga untuk membantu mengurus jenazah?", tanya Aini.


Ketiga lelaki itu saling berpandangan. Mereka menatap Aini dari atas hingga ke bawah. Bukan maksud untuk berpikir mesum, tapi ...


Di lihat seperti itu, Aini jadi salah tingkah sendiri.


"Kamu? Mau melamar pekerjaan itu di sini?", tanya seorang laki-laki yang bernama Kholil.


Aini mengangguk cepat.


"Masih ada pekerjaan lain yang layak buat anak muda seperti kamu!", kata lelaki ketiga di ruangan itu yang sepertinya lebih senior dan bernama Bambang.


Aini menarik nafas perlahan.


"Saya tahu, tapi saya butuh pekerjaan pak", jawab Aini mantap.


"Kamu tidak takut?", tanya Ahmad yang duduk berhadapan dengannya. Aini menggeleng.


"Bukankah kasian jika jenazahnya perempuan tapi kalian para lelaki yang memandikannya?", tanya Aini.


"Iya! Tadinya ada petugas perempuan. Tapi beliau sudah berhenti karena sudah pensiun", jawab Ahmad.


"Jadi, boleh kan saya melamar pekerjaan itu?", tanya Aini.


"Tapi... gajinya tidak besar lho!", kata Bambang.


"Heum, iya saya paham. Tapi setidaknya kita bisa bekerja sekaligus beribadah. Habluminanas kan namanya kalo membantu sesama?", tanya Aini.


"Kamu... yakin, ngga takut?", Kholil kembali bertanya.


"Insyaallah saya berani pak. Bahkan di belakang bapak ada sesuatu yang sedang berdiri!", kata Aini. Seketika tiga orang itu menoleh pada Kholil. Bulu kuduk mereka pun berdiri.


"Maksud kamu apa ini?", tanya Kholil.


"Bismillahirrahmanirrahim, bukan sombong. Tapi saya bisa melihat apa yang tidak orang lain lihat dan juga apa yang orang lain katakan dalam hatinya!", jawab Aini.


Ketiga orang itu saling berpandangan. Lalu Bambang dan Kholil mendekati Aini.


"Kamu Indira ya??", tanya Kholil.


"Aini pak! Buka Indira!", jawab Aini. Bambang dan Ahmad berdehem pelan.


Setelah melakukan interview alakadarnya, akhirnya Aini di putus kan di terima di rumah sakit tersebut.


Dan ...dari sini lah petualangan mistis Aini di mulai 😉