Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 96


Ikbal memandangi wajah istrinya yang cantik itu. Meski matanya terpejam, aura kecantikannya masih begitu nampak.


"Nak Ikbal, bapak sama ibu keluar dulu. Kamu juga harus beristirahat!", kata bapak Aini. Ikbal mengiyakannya.


"Iya, pak! Ibu sama bapak juga istirahat!", kata Ikbal. Lalu, kedua mertuanya keluar dari kamar Ikbal yang ada di apartemennya.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Ikbal sudah mengajukan cuti untuk waktu yang cukup lama. Yang penting, dia masih punya hak jika sewaktu-waktu sang istri membutuhkan tindakan medis.


Ikbal mengusap puncak kepala Aini lalu ia kecup dengan pelan.


"Bangun sayang, mas kangen sama kamu!", bisik Ikbal.


Di genggamnya tangan Aini lalu di kecupnya punggung tangan gadis yang sudah berstatus menjadi istrinya tersebut.


"Ayo bangun, kita rencanakan masa depan kita! Punya anak-anak yang lucu dan menggemaskan! Kamu jadi ibu rumah tangga yang hanya perlu mengurus ku dan anak-anak kita!"


Jemarinya mengusap pipi gadis cantik itu. Bibir pucat Aini tetap menarik di mata Ikbal. Seandainya saja dia tak waras , mungkin dia akan mencicipi rasanya seperti apa.


Sayangnya, dia menyadari jika seandainya dia melakukan hal itu alangkah tidak etisnya. Sekali pun mereka sah suami istri, tapi hubungan mereka belum sedekat itu.


Terlalu lelah mengurus Aini, masalah perusahaan cukup terabaikan oleh Ikbal. Sean beberapa kali memberikan laporan pada Ikbal. Tapi setiap kali ada pertemuan, Sean yang maju mengingat Ikbal tengah sibuk menjaga sang pujaan hati.


Seperti kali ini, ponsel Ikbal berdering. Ada panggilan dari Sean yang menceritakan banyaknya kebobrokan manajemen di perusahaannya. Lalu apa yang Sean lakukan selama ini kok sampai bisa kecolongan???


Percayalah, Sean pun melakukan banyak hal. Tidak terfokus oleh satu bagian saja seperti divisi yang bermasalah tersebut.


.


.


.


Hari berlalu...


Ikbal mengundang beberapa orang untuk berdoa bersama. Ikbal benar-benar mengusahakan agar Aini segera sadar. Jika secara medis dia tak bisa apa-apa, setidaknya secara non medis... usahanya tak sia-sia.


Suara lantunan ayat suci Alquran mengalun indah dan mendamaikan. Dan suara itu nyatanya terdengar oleh Aini yang berada di dalam ruangan yang entah di mana ia berada.


Aini yang di lemparkan ke dalam ruang gelap itu semakin jelas mendengar kalimat suci tersebut. Matanya yang tadi tak bisa melihat apa pun, kini perlahan bisa melihat sekelilingnya.


Aini mendengar bisikan pelan dari suaminya. Suara yang mungkin...juga ia rindukan.


"Ayo bangun sayang! Kami menunggu mu kembali! Berusahalah keluar dari sana! Kami membutuhkan mu, kami menyayangimu!", bisik Ikbal.


"Bismillahirrahmanirrahim, sayang! Yakinlah kamu akan kembali pada kami!", Ikbal masih terus membisikan kata-kata penyemangat untuk Aini.


Aini mampu mendengar ucapan suaminya, tapi tentu saja Ikbal tak mampu mendengar sahutan dari suaminya.


Aini hampir putus asa berlari ke sana kemari mencari jalan keluar. Tapi dia hanya menemui pohon-pohon besar yang mungkin bahkan tak ada celah untuk jalan keluar.


Aini terduduk lesu sambil terisak pelan.


"Astaghfirullah ya Allah, bantu lah hamba! Keluar kan hamba dari sini!", Aini menunduk menutup wajahnya.


Tiba-tiba ada aroma yang begitu wangi mengusik indra penciumannya. Perlahan Aini mendongak dan menatap sesosok perempuan cantik berbaju emas. Sosok yang memperlihatkan betapa anggun dan berwibawa.


"Berhenti lah menangis gadis cantik!", suara perempuan yang sangat lembut sambil tersenyum.


Aini mengerjap pelan menatap sosok cantik tersebut.


"Ka-kamu siapa?", tanya Aini. Perempuan itu hanya tersenyum.


"Kamu bisa keluar dari sini sekarang!", katanya penuh ketenangan. Aini kembali mengerjapkan matanya.


"Be-benarkah? Ak-aku tidak mau jika ada yang terluka lagi seperti kemarin!", kata Aini terbata.


"Tidak akan! Kemari lah!", pinta sosok cantik itu.


Aini bergembira.


"Jangan takut padaku. Kemari lah! Orang tuamu, suami mu dan sahabat mu sudah menunggu mu! Kemari lah....!", katanya lagi masih dengan suara pelan.


"Apa...aku harus mempercayai mu?", tanya Aini ragu. Sosok cantik itu masih tersenyum ramah.


"Tidak kah kamu mendengar lantunan ayat suci yang indah itu? Mereka mengharapkan mu kembali!"


Aini terdiam. Apakah dia benar-benar bisa di percaya? Benarkah kali ini Aini akan keluar dari dunia asing tersebut???


*****


19.35


Baru sempet up berhari-hari 🙏🙏🙏


Terimakasih 🙏🙏