Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 88


Ikbal tidak langsung pulang ke apartemennya. Tujuan utama nya adalah makam Ilma dan papanya.


Meski tak merubah apapun, setidaknya ia merasa sedikit lega karena apa yang menimpa adik dan papanya sudah terpecahkan.


Mau menyesal dan semarah apa pun Ikbal saat ini, adik dan papa nya tidak akan mungkin kembali.


Jika saja Ikbal bisa menyampaikannya pada dua orang istimewa dalam hidup nya tersebut, Ikbal ingin mengatakan jika semua sudah selesai.


Lewat Dhuhur Ikbal sampai ke pemakaman umum di mana Ilma dan Fauzan di makamkan.


Ikbal berjalan melewati beberapa makam. Panas matahari cukup terik siang itu namun tak menyurutkan langkah Ikbal menghampiri makam adik dan papanya.


Sesampainya di makam Ilma, ada beberapa buket bunga yang sepertinya belum lama karena masih segar. Begitu pula taburan bunga di atas pusara Ilma.


Dokter tampan itu bisa menebak bunga itu dari siapa. Sudah jelas tentu nya dari Ibas. Ibas sangat tahu bunga yang Ilma sukai semasa hidup.


Ikbal berjongkok di depan nisan Ilma. Tangan nya terulur mengusap batu bertuliskan nama sang adik.


"Assalamualaikum dek! Kakak datang!", monolog Ikbal.


"Hari ini....kakak sudah berhasil menjebloskan Romi ke penjara."


Ikbal menghela nafas berat.


"Satu hal yang kakak sesali dek. Kakak terlambat mengetahui semuanya. Kakak merasa menjadi kakak yang tak berguna dek. Tidak bisa menjaga kamu dengan baik sampai kita harus terpisah seperti ini."


Bulir hangat menetes di balik kacamata hitam yang Ikbal pakai.


"Maafkan kakak ya dek", kata Ikbal penuh sesal.


Tangis pilu seorang kakak yang di tinggalkan oleh adik semata wayangnya pun terdengar sangat menyakitkan. Ya, dia sudah kehilangan adik dan papanya.


Lalu mamanya????


Ikbal merasa semakin jauh dari mamanya. Entah setelah Romi sudah mendekam di penjara. Apakah hubungan keduanya akan membaik???


Ilma turut duduk di samping kakaknya. Meski dunia mereka sudah berbeda, tapi Ilma masih ingin selalu melihat Ikbal.


Ilma menengok ke arah samping di mana Ibas juga datang ke makamnya.


Sungguh, dia takut jika Ikbal dan Ibas akan bertengkar. Mau seperti apapun hubungan mereka, tak pantas rasanya jika harus sampai bertengkar di area pemakaman.


Karena suasana begitu sepi, Ikbal menyadari kehadiran Ibas. Ia langsung menengok ke samping di mana sepasang sepatu mendekatinya.


"Gue ngga butuh ijin Lo buat datangin makam adik gue!", sahut Ikbal datar.


"Iya, gue tahu. Lo lebih berhak di banding gue! Tapi harap... setelah ini Lo juga ngga larang gue ke sini!"


Ikbal bergeming. Sedang Ilma pun teleportasi ke tempat di mana Aini berada. Ia takut kakak dan mantan kekasihnya bertengkar. Ada harapan besar jika Aini akan mampu meredam emosi kakak dan mantannya tersebut.


"Gue ngga larang. Tapi ... sepertinya ada tempat yang lebih baik Lo datangi."


Ibas mengernyitkan alisnya tanda tak tahu.


"Bokap Lo mendekam di penjara. Kasus pembunuhan Ilma dan papa gue juga korupsi di perusahaan gue."


Ibas meremat kedua tangannya. Ia tak akan melawan Ikbal karena pada kenyataannya, Romi memang bersalah. Dia sudah terbukti melakukan kesalahan tersebut.


"Kapan?", tanya Ibas datar.


"Tadi pagi!", jawab Ikbal singkat.


"Di kantor polisi mana?"


"Polres Xxx!"


Tanpa basa-basi Ibas pun meninggalkan Ikbal. Niat hati ingin mencurahkan keluh kesahnya pada Ilma, tapi ternyata waktu nya tidak tepat.


Di tempat lain, Aini baru selesai mengkafani jenazah perempuan yang meninggal setelah melahirkan.


Gadis itu cukup terkejut saat Ilma tiba-tiba hadir lalu berbisik jika kakaknya dan Ibas bertemu di makam Ilma.


Keduanya mengobrol dalam hati.


"Gue bukan ngga mau ke sana Ilma, tapi gue masih tugas. Lo tahu sendiri, gue cuma pegawai rendahan."


"Ya, minimal Lo telpon kakak gue gitu!", sahut Ilma. Akhirnya, Aini pun menghubungi Ikbal yang ternyata masih di makam Ilma.


*********


19.15


Terimakasih 🙏