
Azan isya terdengar beberapa menit yang lalu. Jika arah rumah Kholil dan ke arah kanan arah rumah Ahmad dan Aini ke kiri.
Di tengah perjalanan mereka tak banyak mengobrol karena memang suara kendaraan di sekitarnya membuat mereka susah untuk berkomunikasi.
Perlahan terasa rintik hujan menetes mengenai kulit mereka.
"Ya Allah, hujan Ain!", kata Ahmad.
"Mas Ahmad ngga bawa mantel?", tanya Aini. Masih sekitar sepuluh menitan untuk sampai ke rumah jika tak macet.
"Ngga! Ku pikir udah musim kemarau jadi ngga bawa mantel lagi."
"Oh...!"
"Mau berteduh apa dilaju aja?", tanya Ahmad.
"Eum, nurut mas Ahmad aja deh!", jawab Aini. Akhirnya Ahmad memilih untuk di laju saja. Toh nanti setelah sampai rumah, mereka bisa langsung membersihkan diri dan meminum minuman hangat agar tak sakit.
Tapi entah kenapa tiba-tiba saja Ahmad merasa agak janggal. Kendaraannya melaju tapi sepertinya tidak ke arah rumahnya apalagi kost Aini.
"Ain!"
"Heum?", sahut Aini yang sesekali menguap karena ngantuk sekaligus dingin di terpa angin malam plus gerimis.
"Kok kayanya jalannya sepi ya? Ini jalan ke kostan Lo kan?", tanya Ahmad. Aini mengucek matanya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, terasa asing meskipun ini malam hari. Tak mungkin mereka sejauh ini! Tempat tinggal mereka di tengah kota! Jangankan pohon besar dan lebat, pohon di pinggir jalan aja sudah sulit di temui.
"Mas, ini.... bukan lapak kita kayanya deh!", kata Aini.
"Lapak? Lapak apaan? Lapak dagangan? Ngga usah ngadi-ngasi deh!", sahut Ahmad tanpa menghentikan laju motornya, aneh memang!
"Berhenti dulu mas!", Aini menepuk bahu Ahmad. Dan akhirnya kendaraan mereka pun berhenti bersamaan pula dengan gerimis yang reda.
Gelap! Hanya sorot lampu roda dua milik Ahmad sebagai penerang. Kanan kiri jalan di penuhi dengan pohon rindang.
"Ain, ini di mana?", tanya Ahmad sambil menyalakan ponselnya dan menyalakan senter. Aini pun mengikuti jejak Ahmad menyalakan senternya.
"Ngga tahu gue mas!", sahut Aini. Dia pun sama bingungnya. Padahal jarak kost dan rumah sakit paling hanya dua puluh menit, itu pun lewat jalan padat plus macet. Tapi sekarang??? Semua terasa lengang. Bahkan nyaris tak terdengar suara apapun selain desah nafas keduanya juga gerak tubuh mereka.
Ahmad dan Aini saling bersandarkan punggung.
"Aini, Lo benar! Ini bukan lapak kita!", bisik Ahmad. Bagaimana pun dia tetap merasa takut saat ini. Jika lawan preman, mungkin dia bisa melawan meski dia akan kalah karena tak pandai bela diri. Tapi di sini? Dia saja tak tahu apa yang akan dihadapi.
"Kok kita bisa sampe sini ya mas?", tanya Aini pelan. Ia melihat ponselnya, no signal!
"Ngga ada sinyal mas, fix! Kita salah jalan!", kata Aini.
"Maaf Ain, gue ga tahu kalo bisa sampe begini! ", kata Ahmad dengan suara bergetar.
"Sssstttt.... sudah! Baca aja ayat kursi Mas. Semoga Allah segera memberikan pertolongan buat kita!", kata Aini. Keduanya masih saling menyandarkan punggungnya.
Ahmad pun berdoa dalam hatinya. Merapalkan semua doa yang ia ingat bahkan membaca surat Yasin. Begitu pula dengan Aini. Dia tak berbeda jauh dengan Ahmad yang membaca ayat-ayat suci dalam hatinya.
.
.
Ikbal keluar jam delapan malam setelah setengah jam sebelumnya ia selesai operasi. Lelaki itu merasa bersalah pada Aini karena sudah membatalkan rencana mereka.
Setelah menyiapkan mobil, Ikbal pun melesat menuju ke kost Aini.
Nita dan Ruby sedang duduk di teras kamar mereka.
"Lho? Mas Ikbal, Aini mana? Kirain bareng pulangnya?", tanya Nita yang duduk bersebelahan dengan Ruby.
"Aini....belum pulang?", tanya Ikbal balik.
Nita dan Ruby langsung berdiri dari duduk lesehan mereka. Tiba-tiba saja keduanya mencemaskan kondisi Aini.
"Bukankah Aini kerja di rumah sakit yang sama seperti mas Ikbal ?", tanya Ruby.
"Ya ampun ain, kamu kemana sih? Mas Ikbal telpon Aini coba!", pinta Nita. Ponselnya ada di kamar, Ikbal yang saat ini memegang ponsel.
"Iya!", jawab Ikbal. Setelah di telpon, ponsel Aini tidak aktif.
"Dia chat aku tadi, pulang dari rumah sakit di antar Ahmad! teman satu ruangannya!", kata Ikbal.
"Mas Ikbal telpon Ahmad aja !", kata Ruby. Dia tak memiliki nomor Ahmad, hanya ada nama Bambang yang memang senior.
Ikbal menghubungi Bambang yang mengatakan jika Ahmad dan Aini pulang bersama mereka hanya di tengah perjalanan mereka berpisah. Bambang pun memberikan nomor Ahmad.
Dan lagi-lagi mereka merasa kecewa ternyata Ahmad juga tak bisa di hubungi.
"Ya Allah mas, Aini kenapa!!!?", Nita mulai cemas. Dia pernah sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu. Dan hal menakutkan itu tak ingin terulang lagi.
Ruby mengusap bahu Nita, berusaha menenangkan.
"Insya Allah Ain ngga apa-apa sayang. Kamu tunggu di sini ya! Biar aku sama mas Ikbal cari berdua pakai motor aja. Kalo pakai mobil mas Ikbal agak susah!", kata Ruby. Nita pun mengangguk.
Ikbal menitipkan kunci mobil pada Nita, lalu ia pun membonceng Ruby untuk mencari keberadaan Aini dan Ahmad.
Pikiran Ikbal sudah tidak menentu. Entah! Apakah dia cemburu saat tahu Aini pergi dengan Ahmad? Atau.... terjadi hal buruk. Ikbal menggeleng cepat, dia tak mau berprasangka yang bukan-bukan. Tak berbeda jauh dengan Ruby. Dia sudah menganggap Aini seperti adiknya sendiri.
Sedang dua orang yang sedang di cari saat ini masih terus berdoa. Mereka berharap akan segera keluar dari tempat yang tak seharusnya seperti ini.
"Ain! Udah kelar belum doanya? Naik motor gih!", kata Ahmad.
"Masih doa mas! Ya udah ayokkk!", kata Aini. Keduanya pun menaiki motor. Ahmad berkali-kali menelan ludahnya. Ini pengalaman pertamanya! Dan ia berharap tak lagi-lagi seperti ini.
Keduanya diam, masih merapalkan doa hingga lama kelamaan Ahmad bisa melihat lampu menyala yang tadinya sedikit lama-lama banyak dan kendaraan berlalu lalang.
Ahmad menghentikan kendaraannya di dekat halte.
"Alhamdulillah!!!", ucap keduanya.
Mereka berdua turun dari motornya. Lalu duduk berjongkok di trotoar. Keduanya saling berpandangan lalu menunduk dengan kaki yang di tekuk.
"Gue ngga mau kaya gitu lagi Ain!", kata Ahmad.
"Gue juga kali mas!", jawab Aini lesu.
Di saat keduanya sama-sama merasa lega tapi juga cemas, seseorang menyodorkan minuman kepada mereka berdua. Lalu dia duduk di sebelah Ahmad.
Aini dan Ahmad yang tak mengenalnya pun bingung.
"Minumlah, biar kalian tenang. Insyaallah, kalian tidak akan di ganggu lagi!", kata seseorang tersebut yang memang terlihat sudah sepuh.
"Maksud bapak?", tanya Aini.
"Kalian beruntung karena kalian rajin beribadah. Mereka melepaskan kalian. Jika tidak, mungkin kalian tidak akan ada di sini sekarang!", kata bapak tua itu.
Aini dan Ahmad saling berpandangan.
"Kalian tidak lihat, ini di mana?", tanya si bapak. Aini dan Ahmad reflek menoleh dan mencari tahu keberadaan mereka.
"Hah???? Purwakarta??? Kok bisa?", tanya keduanya.
Mereka bekerja di pusat ibukota, pulang kerja tahu-tahu sudah ada di sini padahal jarak ibukota dan Purwakarta amatlah jauh!
Ahmad dan Aini meneguk salivanya kasar dengan kompak!
*****
10.58
Terimakasih 🙏