Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 52


"Kenapa Ai? Apa Ilma mengganggu mu?", tebal Ikbal. Ilma menganga tak percaya jika kakaknya menuding demikian, tapi ... kenyataan seperti itu juga sih.


"Heum?", Aini tampak cengok.


"Sudah, lupakan!", kata Ikbal.


"Owh...ya...!", kata Aini bingung menjawab apa. Dia masih cukup syok atas ucapan Ikbal tentang hubungan mereka tadi.


"Ai...!"


"Heum?", gumam Aini.


"Bagaimana? Kamu mau kan menikah dengan ku? Aku ingin meminta mu secara langsung pada orang tua mu, di saat mereka tiba di sini!"


"Mas, kita belum lama saling mengenal!", kata Aini sepelan mungkin. Meski sebenarnya mungkin ada sedikit perasaan di dalam hatinya, tapi jika mereka terlalu terburu-buru memutuskan untuk memulai hubungan yang bukan main-main, bagaimana bisa?


"Kamu mengkhawatirkan hal itu?", tanya Ikbal. Aini mengangguk pelan. Ikbal tersenyum tipis, manis! Itu kesan yang Aini dapat.


"Memangnya saat aku meminta kamu pada orang tua mu, aku harus menikahimu saat itu juga?", tanya Ikbal terkekeh pelan.


Wajah Aini bersemu merah. Malu!? Tentu saja dia malu. Kenapa kesannya jadi seolah dirinya yang minta buru-buru di nikahin?


Tak ingin membuat pujaan hatinya semakin malu, Ikbal meraih tangan Aini dan di genggamnya.


"Cepat sembuh, kamu mau menemani ku melaporkan kasus Ilma kan?", tanya Ikbal lirih.


Ilma yang tadinya menjauh karena kesal kakaknya mesra-mesraan dengan Aini pun mendekat.


"Iya mas, kasian gadis itu. Dia sudah lelah mondar-mandir tak jelas!", jawab Aini sambungan melirik pada sosok yang di maksud.


"Eh, calon kakak ipar lucknut ya!", kata Ilma memasang wajah kesal.


"Apa dia sering mengganggu mu?", tanya Ikbal. Ilma melotot tajam pada sahabat beda dunia itu.


"Huum, iya mas. Dia datang dan pergi sesuka hatinya dan ngga liat waktu!", adu Aini.


"Eh... beneran nih calon kakak ipar, untung gue butuh! Kalo ngga eeerggghh!", Ilma kesal di buatnya.


"Hufttt!", Ikbal menatap kesekeliling seola mencari keberadaan Ilma yang padahal.... berdiri di samping Aini.


Aini cukup tersentuh sedang Ilma menatap lekat kakak kesayangannya. Setelah itu, dia meninggalkan ruangan itu begitu saja.


Suasana mendadak hening hingga akhirnya Aini bersuara.


"Mas Ikbal tidak apa-apa?", tanya Aini. Ikbal tersenyum dan menggeleng pelan.


"Ai, kamu bisa ceritakan sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu pingsan selama dua hari?", tanya Ikbal.


Aini menunduk.


"Ai, aku sudah pernah bilang. Apa pun yang kamu katakan aku percaya!", kata Ikbal.


"Benarkah?", tanya Aini. Ikbal mengangguk pelan.


"Heum, percaya padaku seperti aku percaya sama kamu??!!", kata Ikbal. Lalu Aini pun menceritakan mimpinya tanpa di lebih-lebihkan atau di kurangi. Ikbal terdiam mendengarnya hingga Aini selesai bercerita.


"Setelah mendengarnya, kamu percaya mas?", tanya Aini. Ikbal pun mengangguk.


"Ternyata... Ahmad pun mengalaminya. Hanya saja, dia tidak seperti kamu untuk di jadikan pasangan makhluk itu. Ahmad pingsan selama satu malam, dan setelahnya ia menceritakan hal yang tak beda jauh seperti yang kamu ceritakan Ai."


"Hah? Mas Ahmad juga sempat seperti aku kemarin?", tanya Aini. Ikbal pun mengangguk.


"Lalu bagaimana kondisinya sekarang mas?", tanya Aini cemas.


"Ngga usah khawatir begitu. Dia sudah normal seperti biasanya. Paling hari ini di ijinkan pulang."


Aini pun mengangguk pelan.


"Ai, apa mungkin ini ada kaitannya saat kamu dan Ahmad tersesat?", tanya Ikbal.


Aini sedikit terperangah, tapi ...bisa jadi juga!


****


21.59


Terimakasih