
Aini dan Ikbal sudah berada di dalam mobil. Ilma pun turut bersama mereka dengan memposisikan dirinya di jok belakang.
"Coba di charge mas!", kata Aini meminta charger pada Ikbal.
Ikbal membuka laci tapi saat chargernya diambil, justru barang tersebut jatuh. Spontan Ikbal dan Aini hendak mengambil tapi justru keduanya beradu kepala. Alhasil keduanya kejedot.
"Awww!", pekik keduanya sambil memegang kepala. Keduanya saling berpandangan untuk beberapa saat dan tiba-tiba keduanya pun kompak tertawa bersama-sama.
"Please deh Aini, jangan bikin adegan Drakor apalagi India. Ada gue!", protes Aini. Aini menghentikan tawanya lalu menoleh ke belakang. Ikbal pun ikut menoleh seperti Aini.
Aini memanyunkan bibirnya kesal pada Ilma yang seolah tak rela memberi sedikit kesempatan untuk sekedar tertawa dengan kakaknya.
"Kenapa Ai?", tanya Ikbal.
"Heum? Ngga mas!", jawab Aini.
"Ini, mas Ikbal aja yang charge!", Aini memberikan ponsel Ilma yang berlogo jeruk purut.
Saat charge di masukan, ternyata ponsel itu tak bisa menyala. Ikbal masih terus mencobanya.
"Sepertinya rusak!", kata Ikbal. Aini berbicara dalam hatinya lalu bertanya pada Ilma.
"Dulu sebelum jatuh dan masuk kolong, hp gue waras Ain! Ngga tau sekarang mungkin rusak karena udah lama banget plus jatuh kebanting lagi. Tapi itu kan hp mahal, bawa ke gerai ***** aja bisa kali!", kata Ilma. Melihat wajah Ilma yang muram, Aini sedikit iba.
"Mas, bawa ke gerai ***** coba?!", kata Aini.
"Iya, kita langsung ke mall ***** buat benerin hp nya. Kamu ngga keberatan kan!?", tanya Ikbal.
"Ya...ngga papa sih. Toh hari ini doang besok kan udah kerja. Ngga bisa bebas jalan keluar apalagi sama...!", mulut Aini terhenti seketika saat menyadari dirinya kelepasan.
"Sama aku?", tanya Ikbal meledek. Aini menggeleng cepat dan itu menggemaskan di mata Ikbal.
Tingkah kamu seperti Ilma, Ai! Melihat mu, sedikit mengobati rasa rindu ku pada Ilma! Batin Ikbal.
Aini yang mendengar suara hati Ikbal merasa tidak semangat. Ya, ternyata dirinya yang kelewat baper. Ikbal hanya menganggapnya seperti adik, pengganti Ilma.
Ayo Aini, jangan terlalu berharap!!!
Tak lama kemudian, mobil Ikbal sudah sampai di parkiran mall. Aini menghela nafas berat. Ilma yang mendengar isi hati Aini pun merasa kasihan.
Tapi, di mata Ilma apa yang kakaknya lakukan bukan seperti kakak pada adiknya tapi pada kekasihnya.
Jangan terlalu berharap Aini! Move on dari Ibas bukan berati Ikbal yang mengganti posisi itu!!!
Ikbal turun dari mobil.
Aini memandangi sekilas tangan yang saling menggenggam itu tanpa bersuara. Tautan tangan tak terlepas, tapi mata Ikbal mencari-cari kios yang satu merk dengan ponsel Ilma.
Aini hanya mengekor di samping Ikbal yang masih setia menggandengnya.
"Itu, Ai! Di sana gerainya!", kata Ikbal masih terus menyeret Aini. Tanpa menjawab apapun, Aini lagi-lagi hanya mengekor di belakang Ikbal.
"Selamat siang mas, mba!", sapa karyawan gerai ponsel tersebut.
"Permisi mba, saya mau servis ponsel ini di sini bisa?", tanya Ikbal. Ia menyerahkannya pada pegawai tersebut.
"Masalahnya apa ya mas?"
"Itu ponsel udah lama banget mati. Mungkin ada empat tahun. Baru ketemu ponselnya mba!", jawab Ikbal.
Ya ampun bisa-bisanya hp begini baru ketemu. Apa jangan-jangan mereka itu penadah barang curian ya??? Batin karyawan tersebut.
"Astaghfirullah, mba jangan nuduh sembarangan ya. Kami bukan penadah barang curian ya?", kata Aini sedikit kesal. Ya... pokoknya kesal aja.
"Saya ngga bilang apa-apa!", elak di karyawan.
"Udah Ai, udah!", Ikbal meraih bahu Aini agar tenang.
"Jadi gimana mas, bisa di servis?", tanya Ikbal.
"Mending mas kasih nomor ponsel aja. Nanti bisa ngga nya saya kabari. Soalnya ini ngga bisa di tunggu!", jawab karyawan tersebut.
"Tapi memori internalnya di usahakan utuh mas?!", kata Ikbal.
"Di usahakan nanti di backup. Saya coba dulu !", katanya. Ikbal mengambil dompetnya lalu menyerahkan kartu namanya pada karyawan tersebut.
Ya ampun, ternyata dokter! Batin karyawan tersebut.
"Tolong ya mas!",ucap ikbal. Setelah di buatkan nota servis, Ikbal dan Aini pun keluar dari area gerai ponsel tersebut.
"Makan siang dulu yuk? Nanti baru ikut ke kantor ku. Ngga lama kok?"
"Ke kantor mas Ikbal?"
''Iya. Temenin sebentar ya?!", kata Ikbal. Aini pun mengiyakan dengan anggukan.
Meski dia menganggap ku seperti Ilmaz setidaknya aku merasa di perlakukan seperti Adik oleh Ikbal.