
"Ngga. Aku ngga akan pergi sebelum kamu menjelaskan sesuatu yang tidak aku tahu, Ain! Katakan!", pinta Ibas.
"Apa untungnya jika kamu tahu Bas? Apa dengan kamu tahu, Papanya Ikbal dan Ilma bisa kembali? Tidak kan?"
"Ain, oke! Aku minta maaf. Aku salah sudah membuat kamu koma beberapa waktu lalu. Tapi sungguh, aku juga tidak ingin hal buruk terjadi sama kamu!"
"Kalau memang kamu takut terjadi hal buruk padaku, bukankah seharusnya kamu menolong ku? Ckkk....kamu justru meninggalkan ku Bas! Beruntung mas Ikbal yang menemukan ku saat itu!"
Aini diingatkan tentang peristiwa menakutkan saat itu yang membuat dirinya memiliki kemampuan untuk melihat makhluk ghaib. Bisa di bayangkan seperti apa luka di tubuhnya jika melihat kendaraan roda duanya ringsek tak berbentuk. Tapi ternyata yang kuasa masih memberinya kesempatan hidup hingga detik ini.
"Ain....!"
"Terserah kamu percaya atau tidak. Sejak kecelakaan waktu itu, aku kerap bertemu dengan makhluk kasat mata dengan segala bentuk dari yang biasa hingga menyeramkan Bas. Salah satunya, sosok Ilma yang ternyata adik Ikbal dan.... mantan kekasih serta adik tiri kamu!", kata Aini dengan kalimat yang menohok.
"A-apa?", tanya Ibas terbata.
"Iya, dia menceritakan semua yang sudah membuat dia seperti sekarang. Yang sudah memaksanya berpisah dengan orang-orang yang dia sayangi, termasuk kamu mungkin!", kata Aini tapi ia memalingkan wajahnya ke arah lain tak ingin menatap Ibas.
Ibas meneguk salivanya.
"Mak-maksudnya dia...dia... dibunuh sama...!"
"Papa kamu!", jawab Aini tanpa pikir panjang. Ibas menggeleng tidak percaya. Jika beberapa waktu lalu ia sempat mengancam papanya yang andai kata benar-benar terlibat dengan meninggalnya Ilma, kali ini dia mendengar sendiri dari orang lain yang langsung mendapatkan informasi dari almarhum.
Apakah Aini tidak sedang berbohong? Batin Ibas yang tentu saja bisa di dengar oleh Aini. Selain bisa melihat makhluk ghaib, dia juga bisa mendengar suara hati orang lain kan?
"Aku tidak berbohong! Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas, kami akan mencari bukti-bukti yang kuat agar bisa menjebloskan papa kamu ke penjara. Orang licik seperti papa kamu, tidak akan mungkin jera jika hanya berurusan dengan hukum."
Ibas tak lagi menyahuti ucapan Aini.
"Jika yang berwajib saja bisa terkecoh oleh segala akal bulus papamu, bagaimana dengan orang awam seperti kami yang tiba-tiba akan menuntut papa mu tanpa memberikan bukti yang kuat?"
Aini tersenyum sinis, dia sudah tak seperti dulu lagi yang kelewat bucin pada Ibas.
"Untuk apa kamu tahu? Kamu mau mengambilnya?",tanya Aini.
Ibas bergeming.
"Apa kamu ingin mengatakan hal pada papamu, kamu ingin mengambil bukti itu jika memang ada pada ku? Begitu?", tanya Aini.
Ibas menggeleng perlahan.
"Sebegitu tidak percayanya kamu sama aku Ain?!"
"Kenapa? Kenyataannya begitu! Apalagi ini hanya bukti kejahatan masa lalu, masa depan ku saja bisa jadi bahan taruhan kamu Bas!", sarkas Aini.
"Ain! Aku pun sama kehilangannya seperti halnya Ikbal!", kata Ibas dengan suara tinggi seperti biasanya.
"Ain, aku mohon.... tolong pertimbangkan hubungan kita. Aku ingin memperbaiki diriku. Aku janji akan berubah menjadi lebih baik, Aini! Dan...dan aku janji...Ilma akan mendapatkan keadilan agar arwahnya tenang. Percaya sama aku Aini!", Ibas bersimpuh di depan Aini.
Apakah Aini akan luluh setelah itu? Lalu, dia akan kembali pada Ibas atau memilih Ikbal????
****
Untuk mu Ummu Rizki Ummu Rizki 🤗
Terimakasih 🙏🙏🙏
15.32