
"Gimana dok?", tanya Nita pada Ikbal yang baru selesai memeriksa kondisi Aini.
Terdengar helaan nafas dari dokter tampan itu. Ia sendiri tak mengerti kenapa hal ini harus terulang kembali. Secara medis, Aini baik-baik saja. Akan tetapi, yang nampak saat ini hanya raga yang masih bernafas tapi juga tak kunjung sadar.
Ini hari ketiga di mana Aini berada di ruang rawat inap. Kedua orang tuanya pun tak meninggalkan Aini barang sedikitpun.
"Nit!", ibu Aini mengusap pelan bahu Nita yang lemah.
"Maaf Bu, Nita ngga bisa jaga Aini. Bahkan terakhir kali saat Aini belum seperti ini, kami sedang perang dingin bu!", Nita memeluk ibu Aini dan terisak. Ibu Aini mengusap punggung Nita dengan pelan.
Bagaimana pun, perempuan paruh baya itu sudah lama mengenal sahabat putrinya tersebut. Dia memahami kesedihan Nita yang melihat kondisi Aini seperti saat ini.
"Sudah Nita, jangan pikirkan itu! Semua bukan salah kamu!", ibu Aini mencoba menenangkannya.
Ikbal juga tak mampu berkata apa-apa. Seandainya penyakit Aini terdeteksi secara medis, mungkin dia akan melakukan berbagai cara untuk menyembuhkannya dengan berbagai obat-obatan. Tapi sekarang???
"Nak Ikbal!"
"Iya pak!"
"Maafkan anak bapak yang selalu merepotkan nak Ikbal!", kata pria uzur tersebut.
"Pak, Ikbal sayang Aini. Mana mungkin Ikbal merasa repot. Ngga sama sekali pak!", kata Ikbal lirih.
Suasana sendu dan haru menyelinap di ruangan tersebut. Ruby berada di luar kamar rawat Aini.
Dia juga merasa bersalah sudah memberikan ide pada kekasihnya untuk bersikap abai pada Aini hingga kejadian ini kembali terulang. Tapi apa yang bisa dia lakukan???
"Mas Ruby?", sapa seseorang. Sesosok laki-laki berdiri di hadapannya. Ruby sempat tertegun beberapa saat melihat keberadaan seseorang yang cukup ia kenal beberapa tahun belakangan ini. Tapi penampilan sosok itu...
"Ibas?",gumam Ruby.
"Nita sakit?", tanya Ibas.
"Bukan, Aini. Lo sendiri?", tanya Ruby penasaran.
"Aini sakit apa?", tanya Ibas penasaran lalu duduk di samping Ruby. Ruby hampir tak percaya jika Ibas bisa berubah sedrastis itu.
Ruby menarik nafas dalam-dalam.
"Entah! Tapi sejak beberapa hari ini, dia belum sadarkan diri!", jawab Ruby. Ibas terdiam sejenak lalu menoleh pada Ruby.
"Sudah ke pengobatan alternatif?", tanya Ibas. Ruby menautkan kedua alisnya.
"Gue sadar gue salah. Dan mungkin sekarang gue sudah dapat karmanya!", kata Ibas. Ruby meneliti penampilan Ibas yang benar-benar sangat berbeda dari biasanya.
"Ikbal di dalam?", tanya Ibas membuyarkan lamunan Ruby.
"Iya, ada Nita dan kedua orang tua Aini juga." Ibas mengangguk tipis.
"Lo belum jawab, Lo sakit apa? Kenapa Lo sampai.... berubah sedrastis ini? Lo make?", tanya Ruby. Ibas tersenyum tak menyahuti pertanyaan Ruby.
Setelah itu Ibas pun bangkit.
"Gue doakan semoga Aini segera sadar. Meskipun gue ngga yakin apa doa gue masih di dengar! Gue bukan orang baik!", kata Ibas menepuk bahu Ruby lalu meninggalkan lelaki itu begitu saja.
.
.
.
Aini mengusap kasar wajahnya. Ia merasa sudah cukup lama berada di ruang asing itu. Beberapa kali ia melihat makhluk-makhluk aneh yang melintas di hadapannya. Gadis itu berusaha tegar berada di dunia yang sangat asing baginya.
"Ya Allah, tolong lah hamba Mu ini!", bisik Aini sambil terus berjalan entah kemana. Yang penting ia berusaha menjauh dari tempat makhluk yang memintanya menjadi istrinya.
Sayup-sayup ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Aini, dengarkan baik-baik! Percaya lah, pertolongan itu akan datang! Jangan menyerah!"
Suara itu cukup familiar di telinga gadis itu. Tapi dia tak bisa melihat sosok yang mengatakan demikian padanya.
"Hei, manusia! Percuma saja kamu mencoba kabur dari kerajaan ini. Kamu hanya akan memutar-mutar di sini. Jika raja kami mengijinkan kamu keluar, kamu baru bisa keluar. Tapi jika dia meminta mu disini selamanya, kamu tidak akan sanggup ke mana-mana."
Suara makhluk yang berpenampilan sama dengan raja jin di situ membuat hati Aini cukup bergetar.
Takut!
****
Terimakasih 🙏
20.07