Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 87


Rini sedang berada di kamar Ilma. Ia memandangi foto keluarga yang terdiri dari dirinya, kedua anak dan ayahnya.


Perasaan rindu yang sangat mendalam begitu di rasakan olehnya. Bagaimana tidak? Dia berumah tangga dengan laki-laki yang sudah merenggut nyawa suami dan putri nya.


Hanya Ikbal yang ia punya saat ini. Tapi beberapa waktu belakangan ini, hubungan keduanya tak sedekat dulu sejak Rini menikah dengan Romi.


Bodoh nya seorang Rini adalah dia mempercayai ucapan Romi yang katanya mendapatkan amanah dari ayah Ikbal dan Ilma. Tapi kenyataannya???? Semua hanya omong kosong!


Bodoh! Mungkin ada kata yang lebih cocok untuk seorang Rini di banding satu kata itu.


"Mas...Ilma...maafkan Mama!", Rini memeluk pigura yang sengaja disimpan di kamar Ilma. Karena tidak mungkin bagi Rini menyimpan nya di ruangan lain mengingat Romi bersikap cemburuan.


Tapi ternyata bukan cemburu, melainkan kelicikan yang tak bisa di tolerir.


Ponsel yang ada di kasur Ilma berdering. Ada nomor asing yang tertera di layar tersebut.


Rini pun mengangkat panggilan tersebut.


[Hallo?]


[Selamat pagi, dengan nyonya Rini?]


[Iya betul, selamat pagi? Maaf, dari mana ini?]


[Kami dari polres Xxx nyonya]


[Polres?]


[Betul nyonya. Kami ingin menyampaikan bahwa saat ini saudara Romi berada di kantor polisi untuk di mintai keterangan]


[Di kantor polisi? Kenapa dengan suami saya pak?]


[Saudara Ikbal melaporkan saudara Romi atas tuduhan pembunuhan saudara Ilma juga sabotase mobil tuan Fauzan. Serta penggelapan dana perusahaan. Untuk lebih jelasnya, anda bisa menemui saudara Romi di kantor]


[Baik pak. Terimakasih. Saya akan ke sana!]


[Terimakasih nyonya, selamat pagi]


Tut.... sambungan telepon langsung terputus. Hanya helaan nafas yang terdengar dari bibir Rini.


Apakah dia sedih suaminya berada di kantor polisi?


Tidak! Tapi dia juga tidak bahagia! Sekali pun Romi di penjara seumur hidup, Ilma juga mendiang suaminya tidak akan bisa hidup kembali.


"Maafkan mama Ilma....mas Fauzan!", Rini kembali memeluk pigura tersebut.


Ilma memandangi wajah mamanya yang menunduk sedih dengan air mata yang meleleh di pipinya.


Tidak tega? Tentu saja! Meski pun raga nya sudah mati, tapi tidak dengan hatinya.


Ilma menatap sedih sosok perempuan yang sudah melahirkannya.


.


.


.


Romi mengamuk pada petugas saat di giring menuju kantor polisi.


"Dasar bocah sialan!!!", Romi menendang-nendang jeruji besi yang mengurungnya. Ternyata dia tak berada dalam satu sel dengan Sutan. Karena kasus Sutan murni tentang penggelapan dana, berbeda dengan Romi yang terjerat dengan kasus berlapis.


Ikbal berdiri di depan Romi sambil melipat kedua tangannya.


"Setan kamu Ikbal! Bocah kurang ajar!", teriak Romi tak terima dia di jebloskan ke penjara.


"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan, Romi! Selama ini aku sudah cukup bersabar membiarkan mu! Tapi tidak kali ini!"


"Arghhhh!!!!"


"Mau kamu apa?", bentak Romi pada Ikbal.


"Mau ku? Kamu mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan mu! Bang***!", Ikbal menarik kerah kemeja yang Romi pakai. Romi pun terbentur jeruji besi hingga menimbulkan bunyi yang cukup kencang. Bisa di pastikan dada Romi pasti nyeri.


"Kamu sudah merampas kebahagiaan ku. Adik juga papaku harus meregang nyawa karena kamu! Membuat mu mati saat ini juga, aku bisa melakukannya. Tapi aku bukan kamu ! Laki-laki brengsek yang tak tahu malu!"


Nafas Ikbal memburu. Ada beberapa petugas, tapi tak ada satupun yang menahannya untuk menonjok wajah Romi.


Buggghhh...


Romi terjengkang ke belakang sedikit jauh dari jeruji besi.


"Mati buat kamu terlalu mudah Romi! Harus nya kamu merasakan apa yang adik dan papaku rasakan!", bentak Ikbal lalu setelah itu ia meninggalkan Romi.


Saat akan keluar, dia berpapasan dengan Rini yang baru tiba. Sepasang ibu dan anak itu saling berpandangan. Jika Rini menatap sendu pada putranya, Ikbal justru sebaliknya. Dia sedang tak ingin dekat dengan mamanya untuk menghindari emosi nya yang sedang tak stabil.


Alhasil, Ikbal melewati Rini begitu saja. Sebagai seorang ibu, tentu lah perasaannya sangat sedih di perlakukan seperti itu.


Tapi dia memaklumi jika putranya marah padanya. Karena...Ikbal sempat tak menyetujui pernikahan antara dirinya dengan Romi.


Rini berbalik badan sambil memandangi punggung tegap putranya yang akan menuju ke parkiran.


********


21.10


Terimakasih 🙏✌️🙏