Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 73


Ikbal praktek di rumah sakit di pagi hari. Ia menyempatkan diri mengunjungi ruangan Dewi untuk menanyakan padanya apakah Aini masih boleh masuk lagi atau tidak .Tapi ternyata Aini sudah menandatangani kontrak kerja untuk tiga bulan ke depan. Berhubung Aini sering tidak masuk kerja karena alasan sakit, Aini akan di beri Sp 1 lebih dulu. Dewi tak pandang bulu, karena aturan nya sudah seperti itu. Ikbal tak punya kuasa lebih di rumah sakit. Jadi, dia akan menyampaikan apa adanya pada Aini.


"Ya sudah, terimakasih ya Dewi!'', kata Ikbal ramah.


"Sama-sama dok.''


Ikbal langsung menghubungi Aini dan menyampaikan apa yang Dewi sampaikan tadi.


[Alhamdulillah mas, aku lega dengernya. Makasih ya]


[Padahal aku berharap kamu keluar dari sini lalu bergabung di perusahaan ku]


[Ckkkk....ngarang, mana ada kaya gitu. Lagian mas Ikbal aja kerja di rumah sakit ngapain aku di kantor mas Ikbal coba?]


[Oh....maunya sama aku terus?]


Goda Ikbal.


[Nggak ya heheheeh]


Aksi saling meledek itu pun usai bersamaan dengan Ilma yang tiba-tiba muncul di samping Aini.


"Kenapa lo?'',tanya aini pad Ilma yang cengengesan.


"Otewe official nih kayanya?'', ledek Ilma.


''Bukannya itu mau Lo ya?''


"Yakin mau gue? Bukan dari lubuk hati lo yang paling dalam gitu?''


"Apaan sih...!!!!"


"Berati lo udh tahu dong kasus lo sama korupsi bokap Ibas dah mas Ikbal laporin ke pihak berwajib?''


"Udah!'', jawab Ilma singkat.


"Lo, seneng?''


"Eheuum! Diantara keduanya.''


"Kok gitu?'', tanya Aini penasaran.


"Ya...itu artinya gue ga bakal bisa ketemu lo sama kakak gue. Kalo mama gue, selama ini....udah lah ngga usah di bahas.''


"Tapi setelah semua selesai, lo udh bisa tenang kan?''


"Kalo lo udah merit sama kakak gue, gue rasa gue tenang pergi ke sana.''


"Harus gue?''


"Siapa lagi? Dia sukanya sama Lo. Dia pernah punya pacar jamannya SMP, tapi...udah meninggal juga. Makanya sampe umur segini, dia belum pernah pacaran lagi. Sekalinya jatuh cinta lagi, sama Lo!''


"Masa sih? Mungkin kakak lo masih cinta banget sama almarhumah ceweknya kali.''


"Gak tahu juga sih?!''


Sesosok makhluk tak jelas bentuknya mengintip di balik jendela karena Aini mampu melihatnya. Aini berusaha untuk melawan rasa takutnya. Dia mencoba untuk memberanikan diri untuk mencari tahu sosok apakah itu? Tapi saat Aini keluar dari kamarnya justru Nita yang nampak baru pulang membeli sarapan karena dia masuk shift siang.


"Nyari siapa lo?'', tanya Nita yang melihat sahabatnya seolah sedang mencari seseorang.


"Ngga, gue nunggu lo lama banget! Laper gue!'', Aini menyeret Nita masuk ke dalam kamar mereka. Saat keduanya masuk, Ilma sudah tidak ada di sana.


"Yakin lo udah lapar banget?'', tanya NIta. Aini mengangguk cepat. Terdengar helaan nafas dari bibir NIta.


"Ain, semalam mas Ruby ngajak gue nikah !', kata Nita, Aini yang akan menyuapkan nasi pun tidak jadi.


"Oh ya? Alhamdulillah. Ya udah, buru nikah. Jangan lama-lama! Kalian udah lama banget pacarannya. Keburu mas Ruby berubah pikiran lho", sahut Aini.


"Sembarangan! Ya ngga lah! Enak aja!''


"Heheehhe ya udah, makanya iya-in aja ajakan mas Ruby!"


"Lo dulu sama mas Ikbal, baru gue!"


Aini menghentikan suapannya lagi.


"Ngapain nunggu gue, sama mas Ikbal pula! Gue ngga tahu hubungan gue bakal gimana sama dia Nit. Jangan nunda-nunda niat baik, pamali!'', nasehat Aini.


"Kalo gue nikah, lo sama siapa?'', tanya Nita lesu.


"Eh...hallo, jangan ampe gue mikir Lo belok ya Nit!'', Aini memicingkan matanya.


"Astaghfirullah! Ngadi-ngadi Lo! Gue cuma kasian sama lo kalo sendirian Ain! Gue tenang kalo lo udah ada yang dampingin, ishhhhh....malah mikir yang aneh-aneh!''


"hehehe becanda Nit, ya Allah serius amat!''


"Jadi, lo mau nikah duluan kan Ain?''


"Nggak, lo dulu aja sama mas Ruby. Lo ngga kasian sama dia yang udah sabar nunggu lo selama ini?''


"Jadi, gue nikah dulu nih???''


"Terserah Lo!', sahut Aini sambil tersenyum.


"Betewe, soal mimpi lo yang katanya mau di jadiin bini raja jin itu...lo udah ada jalan keluarnya?''


Aini menggeleng.


"Gue cuma ikhtiar dengan berdoa sama yang maha kuasa Nit.''


Aini menyunggingkan senyumnya meski sebenarnya ketakutan sudah menguasainya.


******


Terimakasih


20.19