
"Mau ngomong apa sih mas?", tanya Aini setelah Miss Kun pergi karena pelototan tajam dari mata Aini. Nyatanya, hal itu cukup membuat nyali miss Kun sedikit menciut lalu pergi.
"Mas mau resign dari sini, lalu fokus ke perusahaan. Menurut kamu, bagaimana?", tanya Ikbal menatap Aini.
"Re-resign?", tanya Aini. Tapi tak ada sahutan dari Ikbal.
"Romi sudah di dalam penjara. Orang kepercayaan papa juga berkhianat dan bekerja sama dengan Romi. Hanya Sean yang bisa mas percaya sekarang. Tapi ...bukan berarti mas sepenuhnya mempercayakan perusahaan pada Sean. Dia juga punya tanggung jawab sendiri."
"Mas Ikbal yakin ingin resign dari...sini? Bukankah menjadi dokter itu adalah impian mas Ikbal? Apakah tidak sayang? Apalagi...mas Ikbal sudah mengambil spesialis."
"Jadi, kamu keberatan kalo mas resign?", tanya Ikbal menoleh pada Aini.
"Eh... buk-bukan gitu maksud ku mas!", Aini menggeleng cepat. Sungguh dia tak ada maksud untuk melarang Ikbal resign.
"Terus maksud kamu apa?", tanya Ikbal tanpa memalingkan wajahnya dari wajah Aini.
Aini meneguk salivanya pelan melihat Ikbal yang terus menatapnya seperti itu.
"Heum? Ya...ya... eummmm...baiknya aja gimana lah mas Ikbal. Aku ngga ada hak buat..."
"Mas mau mendengarkan pendapat kamu Ai!", kata Ikbal tegas.
"Tapi aku kan...?"
"Mau bilang bukan siapa-siapa mas gitu kan?", tanya Ikbal sedikit menunduk. Tak ada anggukan atau gelengan dari Aini.
"Aini, jadi dokter memang cita-cita mas sejak kecil. Tapi... perusahaan papa juga sangat penting. Mas ngga gila harta. Tapi... perusahaan ini adalah peninggalan papa. Jika beberapa waktu kemarin mas bisa bagi waktu rumah sakit dan kantor, sekarang-sekarang susah Ai."
Terdengar helaan nafas dari bibir Ikbal. Aini melihat wajah Ikbal yang begitu lelah. Tangan Aini terulur mengusap bahu Ikbal pelan.
Untung situasi di dekat kantor kamar jenazah cukup sepi karena jarang ada orang yang lalu lalang di sekitar tempat itu.
Ikbal pun tak menolaknya. Aini mengusap kepala Ikbal dan memijatnya sedikit di bagian pelipis.
Mata Ikbal terpejam menikmati sentuhan tangan Aini. Ada rasa nyaman yang Ikbal rasakan saat bersama Aini.
"Jangan memaksakan diri kalo emang capek mas. Kalau memang ingin resign dan itu pilihan terbaik, lakukan! Mas Ikbal pasti sudah tau konsekuensinya. Tidak menjadi dokter di tempat ini, mas Ikbal tetap bisa menolong orang lain meski bukan antara dokter dan pasien."
Ikbal membuka matanya sesaat lalu bangun dari bahu Aini. Ditatapnya sosok cantik yang sudah meminjamkan bahunya tersebut.
"Nikah sama mas ya Ai?", pinta Ikbal dengan kesungguhannya menatap Aini. Aini tak ingin mengecewakan sosok yang ada di hadapannya, tapi dia sendiri masih ragu. Apakah keputusan nya benar jika ia menerima Ikbal ?
.
.
.
Rini menatap nanar suaminya yang tengah duduk di seberang mejanya. Perempuan itu tak mengatakan apapun pada laki-laki yang masih sah jadi suami nya tersebut.
Romi yang kesal melihat Rini tak mengucapkan apapun menggebrak meja yang ada di hadapannya hingga membuat Rini terjengkit kaget.
"Kamu ke sini hanya ingin diam dan menertawakan ku?", tanya Romi kesal bukan main.
"Apa yang aku dapatkan saat menertawakan mu Romi! Apakah Ilma dan mas Fauzan akan kembali?", tanya Rini dengan suara bergetar.
*****
19.06
Terimakasih 🙏