
Aini bangun terengah-engah setelah bisa keluar dari mimpi itu. Nita yang baru selesai solat subuh pun terkejut melihat Aini yang berkeringat banyak.
"Ain? Lo Kenapa?", tanya Nita cemas. Dia memberikan minum pada Aini beberapa saat kemudian.
"Gue mimpi buruk terus Nita. Gue takut!", Aini memeluk Nita dengan kencang.
"Istighfar Ain!", pinta Nita pada Aini. Aini pun perlahan melepaskan pelukannya.
"Ada gue di sini, Lo baik-baik aja Ain! Please Lo jangan berubah yang aneh-aneh ya Ain!", Nita mengusap kepala Aini. Tak ada reaksi apa pun dari Aini.
"Solat subuh dulu deh, gue siapin makan!", pinta Nita.
Mau tak mau, Aini pun menurut pada ucapan sahabatnya. Ia mendirikan dua raka'atnya.
Setelah selesai solat subuh, Nita menyiapkan sarapan untuk keduanya. Sebenarnya masih terlalu pagi untuk sarapan. Jadi, ya sarapan nasi mereka tertunda.
"Minum teh hangat nya. Habis itu kamu cerita ke aku, sebenarnya apa yang sudah terjadi?", tanya Nita.
"Apa lo akan percaya dengan omongan gue?", tanya Aini pada sahabatnya.
"Iya...! Gue pasti dengerin dan percaya sama Lo?", sahut Nita.
Aini pun menceritakan asal mula kenapa dia bisa seperti sekarang. Dari suara hati, penampakan dan hal-hal yang di luar kepala.
"Jadi, selama ini Lo simpen sendiri masalah Lo?", tanya Nita.
"Heum?", sahut Aini.
"Tapi mulai sekarang Lo harus terbuka sama gue. Jangan ada rahasia apa pun di antara kita. Ya?"
"heum iya Nita!", jawab Aini pada akhirnya.
.
.
Ikbal menerima laporan bahwa siang itu ibunya mendatangi suami barunya ke kantor. Dari informasi yang ia dapatkan dari orang kepercayaannya, ibunya berbicara empat mata pada suaminya di ruang meeting. Sayangnya, informan nya tak bisa mendengar obrolan Rini dan Romi.
Hanya saja kata informan tersebut, tiba-tiba Romi keluar dari ruangan itu dengan wajah sangat pucat. Ikbal akan mencari tahu sendiri.
.
.
.
"Pagi dok!", sapa Bambang dan Kholil.
"Pagi!", balas Ikbal.
Usai menyapa Bambang dan Kholil, Ikbal lanjut keruang prakteknya.
Di pandangi foto berempat yang tak lain dirinya, mamanya serta almarhum papa dan juga Ilma.
Ikbal pun memulai pekerjaannya. Pasien sudah mulai antri hingga Ikbal melupakan sejenak ironis.
.
.
.
"Jadi gimana Ai ?", tanya Nita.
"Ga gimana-gimana, nyatanya memang awsss....?", Nita di cubit.
"Ya udah mending sekarang kamu tidur lagi!", pinta nya pada Aini.
"Mana ada tidur lagi. Yang ada malah pengen masuk kerja Nit. Gue bete!"
"Ngga. Pokoknya Lo di rumah. Bye!", Nita langsung pergi sebelum Aini menyusulnya.
Aini pun menghubungi teman se profesibya . Ahmad,dia lah yang Aini hubungi.
[Hallo mad?]
[Halo ain, udah baikan Lo?]
[Heum. Begini lah. Oh ya ada yang mau gue tanya]
[Lo masih suka mimpi buruk!]
[Heum! Masih]
[Apa yang Lo lakuin mad?]
[Pokoknya selama mereka ganggu, hati gue banyakin istighfar]
[Udah mad, tapi udahannya gue masih di dalam sana]
Ahmad menggeleng pelan melihat langit-langit kamarnya. Tapi setelah itu, dia kembali melanjutkan obrolannya dengan Aini.
[Kalo gue udah sembuh, bisa ga gue masuk kerja lagi?]
[Ngga usah mikirin itu, yang penting Lo harus benar-benar sembuh]
[Hum, iya?]
****
22.48
Terimakasih