
Aini dan Ikbal sudah tiba di gedung apartemen mereka. Seperti yang sudah Aini rasakan sebelumnya, sosok yang bundir kemarin masih ada di sana.
"Aini! Katakan pada nya, aku sudah lelah. Aku hanya ingin dia bahagia setelah tidak bersama ku!", kata sosok itu pada Aini lewat batin tentunya.
Aini melirik seorang gadis yang ada disana. Terlihat matanya masih sembab dan hidungnya merah. Aini menghentikan langkahnya hingga membuat Ikbal sedikit merasa heran.
"Ada apa Ai?", tanya Ikbal.
"Heum? Maaf mas, orang yang bundir kemarin ingin menyampaikan pesan sama gadis itu!", Aini menatap seorang gadis yang di ikuti oleh Ikbal.
Ikbal yang sudah mulai memahami kemampuan sang istri hanya mengangguk.
"Apa dia akan percaya?", tanya Ikbal. Aini menoleh ke suaminya.
"Aku coba saja dulu mas!", kata Aini. Ikbal hanya mampu mendesah pelan. Apa yang Aini lakukan tidak lah mudah. Bagaimana jika malah Aini di anggap orang yang kurang waras mengingat tidak semua orang percaya berbau hal-hal mistis.
"Aku tidak tahu bagaimana cara memulainya untuk mengatakan pesan mu pada Gadis itu!", kalimat itu ia tunjukkan pada sosok yang bundir kemarin.
"Namanya Maya. Dia kekasih ku. Tapi aku bukan lelaki sempurna. Aku terlalu mencintai Maya tapi aku tidak akan pernah bisa membuatnya bahagia."
"Memang kenapa? Kenapa kamu harus mengakhiri hidup kamu? Kamu lihat sendiri seperti apa sedihnya gadis itu?", cerocos Aini dalam hatinya.
"Aku sakit, aku tidak akan bisa bertahan hidup lama jika dia terus berada di samping ku. Cepat atau lambat, dia akan tetap kehilangan ku. Setidaknya, sebelum perasaannya semakin dalam...dia tidak akan terlalu kehilangan ku."
Aini masih menatap gadis yang sedang bersandar di dinding tersebut. Matanya menyiratkan kesedihan yang begitu dalam. Tapi entah kenapa ia tak bisa mendengar suara hati gadis itu.
"Tolong sampaikan maafku pada Maya. Aku meninggalkan sebuah cincin yang ada di sebuah boneka. Aku menyimpan boneka itu di lemari. Maya punya akses membuka unit ku."
Aini tampak menghela nafas berat.
"Baiklah, akan ku coba tapi aku tidak menjamin apakah dia akan percaya dengan perkataan ku!", kata Aini. Lalu perempuan itu pun menggandeng tangan suaminya menghampiri gadis itu.
"Mau apa Ai?", tanya Ikbal.
"Mau nyampein pesan pacarnya. Yang penting sudah ku sampaikan, urusan dia percaya atau tidak, itu nanti aja!", kata Aini tegas. Ikbal hanya mengangguk pelan.
Di saat yang sama gadis itu pun melangkah memunggungi Aini dan Ikbal.
"Maya!", panggil Aini. Maya yang merasa di panggil pun menoleh. Dia mengernyitkan alisnya.
"Iya? Siapa?", tanya Maya.
"Aku Aini, dan ini Ikbal suamiku."
Aini memperkenalkan dirinya.
"Dari mana kamu tahu nama ku? Apa kita saling mengenal?", tanya Maya. Aini menggeleng.
"Sebelumnya kita memang ngga saling kenal. Tapi...eum ...aku ngga tau kamu mau percaya atau ngga."
"Maksudnya?"
Aini menyampaikan pesan dari kekasih Maya. Awalnya Maya menggeleng tak percaya tapi setelah Aini mengatakan ada sesuatu yang almarhum kekasihnya katakan, gadis itu mencoba mempercayai ucapan Aini.
"Aku ngga bohong. Tapi terserah kamu mau percaya atau ngga. Ya udah, kami mau kembali ke unit kami! Permisi?", pamit Aini pada maya yang masih tertegun.
"Menurut mu, apa Maya percaya Ai?"
"Heum, aku harap begitu mas."
"Dan semoga kemampuan kamu memang bisa di gunakan untuk membantu orang lain."
Aini kembali mengangguk.
"Dan aku harap, mas Ikbal akan selalu membimbing ku dan mengingat ku kalau aku ada salah."
"Insyaallah!", jawab Ikbal.
Mereka berjanji akan saling melengkapi satu sama lain. Dan Ikbal percaya jika kelak Aini akan sepenuhnya menjatuhkan hati padanya.
.
.
.
Ibas sebenarnya menyadari jika dirinya di perhatikan oleh Aini dan Ikbal. Tapi dia tidak ingin mendekati mantan kekasihnya dan kakak tirinya tersebut yang sudah menikah.
Melihat Aini sudah baik-baik saja, ia sudah bahagia. Kini, dia hanya berusaha untuk melanjutkan kehidupannya. Tugasnya hanya mengikuti alur yang sudah di gariskan padanya.
.
.
Rini ,ibu Ikbal hidup seorang diri sekarang. Dia tahu putranya menikah dengan Aini. Tapi dia menyadari jika dirinya memang pantas untuk sendiri di masa tuanya meskipun ada rasa sedih dalam hatinya. Meski hidupnya sepi, dia tak akan pernah memaksa Ikbal untuk memaafkan dan kembali padanya sekali pun Ikbal adalah darah dagingnya sendiri.
*******
Terimakasih yang sudah bersedia mampir. Othor emang harus banyak-banyak-banyak banget belajar menulis.
Pokoknya terima kasih semua 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
08.10
24/09/23