Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 72


"Masalah Ilma maksudnya?", tanya Aini. Ikbal pun mengangguk.


"Kamu sudah menerima semua bukti itu ke pihak berwenang?"


"Sudah Ai. Tapi aku sengaja menahan mereka untuk menunggu beberapa waktu lagi. Karena aku ingin Romi yang harusnya mati itu bisa shock saat dirinya tak bisa lagi mengelak."


"Korupsi?", tanya Aini. Ikbal mengangguk pelan.


"Astaghfirullah!" , Aini menggelengkan lemah.


"Kenapa pucat gitu mukanya?", tanya Ikbal lagi.


"ngga ada mas!"


"Jangan bohong!". Akhirnya semua unek-uneknya bisa di keluarkan. Aini menceritakan pertemuan dengan orang tadi juga obrolannya dengan Ahmad.


"Achmad juga? Masih di ganggu?", tanya Ikbal. Aini pun mengangguk tipis.


"Oh ya mas, kira-kira aku masih boleh masuk ngga sih?",tanya Aini.


"Masuk mana nih?", tanya Ikbal terdengar ambigu.


"Serius mas. Aku bisa kerja lagi ngga?"


"Coba nanti mas tanya ya. Kalo emang iya, ya sukur."


"Kalo ngga, kamu di rumah saja Ai."


"Mas, aku juga butuh uang untuk biaya hidup ku Mas!", sanggah Aini.


"Emang siapa yang mau biayai hidup ku? Orang cuma jadi beban doang kaya gini!"


"Aku yang akan membiayai dan semuanya. Jadi istri ku? Heum?", kata Ikbal.


Aini tersipu malu kali ini saat menyadari keduanya kini hanya saling menatap.


"Jadi beban mas Ikbal mah iya!", kata Aini. Ikbal tersenyum ramah.


Mata Aini membulat saat melihat sosok hitam berdiri di belakang Ikbal dengan seringai jahatnya. Mata lebar dan merah menyala.


Apa seperti yang di film-film gitu? May be!


Aini ingat ucapan Ilma yang mengatakan Ikbal sedang dalam bahaya dari teror magis. Tapi dengan cepat Aini membaca taawudz lalu di rapalkannya ayat kursi.


Ikbal yang terkejut dengan aksi istrinya yang tiba-tiba berdoa. Meski dalam hatinya ia ingin tahu. Apa sebenarnya yang membuat pujaan hatinya secemas itu.


"Baca ayat kursi aja mas!", pinta Aini. Ikbal pun mengiyakan. Dia pun berdoa seperti halnya Aini.


Entah penciuman Ikbal yang cukup tajam atau memang ada 'hal' lain. Ikbal mencium bau gosong. Tapi entah apa! Sejenis ubi yang begitu baunya.


Ruby menjemput Nita yang sedang bersiap pulang dari minimarket itu. Tak berapa lama kemudian, Nita pun menghampiri sang kekasih.


"Lama ya?", tanya Nita basa basi.


"Ngga kok sayang!", jawab Ruby.


"Langsung pulang ke kost ku atau ke mana dulu mas?", tanya Nita.


"Mas ikut kamu saja sayang!", jawab Ruby lagi.


"Ok, kita nonton kalo gitu. Ada film bagus. Romantis horor!"


"Ngga takut nonton yang horor gitu?'


"Ngga lah !", jawab Nita.


"Ya udah ayo aja!" , Ruby pun menuruti apa yang istrinya mau.


Tak sampai setengah jam, keduanya pun tiba di lokasi. Ruby membeli tiket lebih dulu. Setelah menerima tiket, keduanya pun di ijinkan masuk.


Suara menggelegar di ruangan itu. Jeritan dan bahkan tangis terdengar di ruangan tersebut. Weit...hanya film!


Menghabiskan waktu bersama seseorang kekasih tentunya hal yang menyenangkan. Tinggal menunggu Nita, kapan dia akan siap menikah !


"Bujuk Aini dulu deh mas, habis itu kita yang nikah."


"Nikah itu bukan kompetisi sayang!", kata Ruby.


"Iya tahu, tapi....aku ngga tega biarin dia lakuin sendirian di kost nya."


"Ada Ikbal, sayang?!"


"Tapi kan..."


"Sudah cukup!"


Ruby terlihat murung setiap mendengar penolakan Nita. Dia tahu jika keduanya saling mencintai. Tapi untuk ke jenjang pernikahan entah kenapa Nita belum mau ? Dan kenapa juga sahabatnya yang jadi acuan???


****


22.21


Terimakasih 🙏