
"Ehem!", Ruby berdehem untuk memberikan kode pada Ikbal dan ya... dokter itu pun menyadari kode Ruby.
"Ai, Lo sebenarnya kenapa? Terakhir Lo bangun malam itu cuma mau minum gara-gara kehausan karena Lo mimpi buruk. Apa iya hanya karena minum?", tanya Nita.
Aini menatap kosong selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Ai?", Nita mengusap bahu Aini.
"Ya udah, Aini makan aja dulu baru di tanya-tanya. Pasti dia lemes ngga di kasih makan dua hari. Tuh...bau jigongnya aja sampe ke sini?!", canda Ruby.
"Nit, pacar Lo tuh... nyebelin banget deh!", Aini merengek pada Nita.
"Heh!", Nita menoyor pipi Aini.
"Gitu-gitu dia khawatir sama Lo tahu ngga. Gue aja sampe jelous gara-gara liat dia khawatir Lo ga bangun-bangun!", kata Nita melirik kekasihnya yang tak menanggapi apa-apa. Berbeda dengan ikbal yang langsung menoleh pada Ruby.
"Salah alamat kalo Lo jelous sama gue kali Nit!", kata Aini.
"Ya bukan jelous yang gimana-gimana gue tahu mas Ruby cemas sama Lo sebagai kakak soalnya yang dia cintai kan cuma gue!", sahut Nita penuh percaya diri.
"Isssh...lagian selera gue bukan kaya mas Ruby kali Nit, Lo ngga usah khawatir!", sahut Aini dengan candaan.
"Kok mendadak harga diri gue turun ya?", Ruby menimpali candaan Aini dengan memasang wajah memelas.
"Duh, mas ku sayang! Ngga usah baper sama omongan Aini. Yang berselera sama mas Ruby cuma aku doang kok!", Nita mengusap dada Ruby.
"Kondisikan tangan Lo, Nita!", kata Aini geram.
"Kenapa? B aja kali Ain! Emang Lo ngga tadi hah? Tuh muka di ciumin habis sama mas Dokter lo nya diem aja. Untung ngga nyipok tuh mas dokter hahaha!", ledek Nita.
"Yang!", Ruby menatap tajam pada kekasihnya yang terdengar berlebihan seperti itu. Kalo Aini tidak masalah, tapi bagaimana kalau dokter Ikbal yang tersinggung???
Wajah Aini bersemu merah mengingat jika dirinya tadi membiarkan Ikbal menghujani dengan ciumannya di wajahnya.
"Selera Lo emang bukan mas Ruby, tapi mas dokter. Ya kan Nur Aini?", ledek Nita makin menjadi-jadi sambil menaik turunkan alisnya.
"Sayang!", Ruby merengkuh pundak kekasihnya itu.
"Awas Lo Nit!", kata Aini geram. Tapi justru Ikbal yang tersenyum melihat tingkah Aini dan Nita.
"Mau di apain Nita nya?", tanya Ruby. Aini mencebikkan bibirnya.
"Udah Mas, kita keluar dulu yuk! Kali aja mas dokter mau nyuapin Aini biar mau makan!",kata Nita menyeret kekasihnya yang tentunya akan di turuti.
Tinggallah Aini dan Ikbal yang ada di ruangan itu. Ilma sendiri hilang entah ke mana seperti biasanya.
"Makan dulu ya, biar ada tenaga buat berantem sama Nita!", kata Ikbal.
"Mas Ikbal ih....!", Aini merajuk. Tapi ikbal menyodorkan sendok di depan bibir Aini.
"Pelan aja Ai!", kata Ikbal. Aini mengangguk pelan.
"Apa mau aku kunyahin?", ledek Ikbal.
"Heuh?", Aini mendadak cengok karena pertanyaan Ikbal bersamaan pula dengan jempol Ikbal yang mengusap sudut bibir Aini.
Mata Aini menatap lekat wajah dokter tampan itu hingga akhirnya ia sadar jika mulut nya sudah berisi makanan yang Ikbal suapkan padanya.
Setelah beberapa menit berlalu dengan keheningan, Ikbal mencoba memberanikan diri untuk mengatakan hal yang sangat penting.
"Kamu bisa mendengar suara hati orang lain kan?", tanya Ikbal pada Aini. Entah kenapa, Aini mengangguk saja.
"Jadi, kamu tahu selama ini aku memiliki perasaan sama kan?", tanya Ikbal sambil menggenggam tangan Aini yang menatapnya.
Lagi-lagi Aini mengangguk.
"Jadi, bagaimana? Apa kamu juga punya perasaan yang sama seperti ku?", tanya Ikbal.
"Eum...mas, aku...aku cuma orang biasa mas. Bukan dari kalangan mas Ikbal. Dan aku juga pernah...."
"Berpacaran dengan Ibas, adik Tiriku?", tanya Ikbal. Aini tak mengangguk atau pun menggeleng.
"Ai...!", panggil Ikbal lirih.
"Aku cuma merasa ngga pantas dan ngga sepadan sama kamu mas!", Aini menunduk.
"Kenapa bicara seperti itu heum?",tanya Ikbal.
"Aku...sadar aku siapa dan asal ku dari mana!", sahut Aini tak kalah lirih.
"Memang kenapa? Bukankah di mata Tuhan kita sama?", tanya Ikbal. Aini masih terdiam.
"Orang tua kamu masih dalam perjalanan kemari. Sebelum aku meminta mu dari mereka, aku ingin mendengar sendiri jawaban dan perasaan kamu sebenarnya pada ku Ai!"
Aini membeku seketika. Dia sedang di lamar, bukan di tembak???
"Jawab woyyyy....buruan! Biar urusan gue cepet selesai Aini! Calon kakak ipar!", ledek Ilma yang selalu datang tiba-tiba. Dan hal itu cukup membuat Aini tersentak hanya karena suara Ilma yang meninggi di samping telinganya.
Ikbal sampai mengernyitkan alisnya karena melihat Aini tersentak.
******
07.05
Terimakasih 🙏