Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 44


Aini dan Nita bangun kesiangan. Mereka bangun di saat matahari sudah terbit. Bahkan sudah menampakkan rasa hangatnya.


Jika Aini langsung melesat ke kamar mandi, berbeda dengan Nita yang masih malas-malasan di atas kasurnya. Ya, hari ini dia jadwal shift siang. Makanya dia bisa sesantai ini. Tidak seperti Aini yang terburu-buru.


Nita mengambil ponsel di sampingnya. Belum cuci muka, dia sudah lebih dulu mengambil benda tipis itu.


Jemarinya lincah scroll sana sini hampir di semua aplikasi medsos miliknya. Tapi meskipun begitu, Nita masih sempat untuk membaca artikel berita apa saja. Apalagi ia menyoroti harga telur yang melambung tinggi.


"Perasaan lebaran udah lewat, ngapa telor masih mahal aja ya?", monolog Nita. Kemudian gadis itu pun kembali membaca beberapa artikel hingga sebuah artikel yang menjelaskan tentang terjadinya kebakaran di salah satu warung yang ada di kabupaten Purwakarta.


Nita pun pelan-pelan membaca setiap kata di artikel tersebut. Dia teringat dengan cerita yang di sampaikan Ruby semalam tenang keberadaan warung tersebut. Bahkan mereka menceritakan bahwa Ikbal, Aini, Ruby dan juga Ahmad menyempatkan minum kopi di sana sebelum bertolak ke jakarta.


Tapi, dari keterangan berita tersebut kejadian kebakaran sudah terjadi beberapa hari sebelumnya sesuai dengan tanggal yang tertera di artikel tersebut.


Tak lama kemudian, Aini keluar dari kamar mandi sudah berpakaian rapi. Dia hanya tinggal mengenakan jilbabnya dan juga berdandannya sedikit.


"Ai! Sini deh!", panggil Nita.


"Apa sih? Ngomong aja Nit, gua lagi buru-buru!", kata Aini sambil merapikan jilbabnya. Tak lupa memoles sedikit lipstik di bibirnya agar tidak pucat.


"Lo baca deh!", pinta Nita yang mengalah bangkit lalu menyerahkan ponselnya pada Aini.


Mau tak mau Aini pun menerima ponsel Nita tersebut. Dia membaca dengan seksama setiap fakta yang di paparkan di artikel tersebut. Gadis itu sedikit terkejut dan bingung.


"Alamatnya sih sama kaya yang semalam! Tapi...ngga mungkin lah Nit!", kata Aini.


"Iya sih! Tapi Lo yakin kalo kalian berempat makan minum di situ?", tanya Nita memastikan.


"Iya Nit. Masa gue boong?!", kata Aini.


"Bukan perkara boong Ai, cuma beneran ngga. Jangan-jangan itu warung hantu. Lo liat ngga kalo ada warung lain di sekitar situ?",tanya Nita.


"Ngga tahu lah gue!", jawab Aini.


"Tanya ke mas Ruby ah!", Nita merebut ponselnya dari tangan Aini.


"Tanya aja. Udah ah, gue jalan!", pamit Aini.


"Gampang ntar. Gua jalan . Assalamualaikum!!"


"Walaikumsalam!", sahut Nita yang masih betah rebahan.


Aini terburu-buru untuk menunggu ojol pesanannya. Tapi entah kenapa dari tadi tak ada sahutan dari pemilik akun ojol tersebut.


"Ai?!", panggil seseorang yang menggunakan roda dua hanya saja ia memakai helm fullface jadi dia tak begitu hafal meski hanya mata yang bisa ia lihat.


"Ai! Ayok! Nanti telat!", katanya lagi.


"Mas Ikbal?", tanya Aini. Ikbal pun mengangguk.


"Ayo, udah siang ini. Cepat naik!", pinta Ikbal.


"Iya mas, makasih. Maaf merepotkan terus."


"Ngga apa-apa Ai. Nih pakai helm nya." Aini pun menerima uluran helm dari Ikbal sayangnya terburu-buru hingga helm tersebut justru jatuh.


"Maaf!", kata Aini lalu mengambil helm tersebut. Setelah itu, ia dibantu Ikbal untuk memakainya.


"Udah?" tanya Ikbal. Aini pun mengangguk lalu menaiki kendaraan roda dua milik Ikbal..


"Tumben ga pakai mobil? Ngga malu mas?", tanya Aini.


"Kenapa malu?"


"Ya kan dokter, biasanya pakai mobil. Ini tumben pakai motor."


"Pengen aja! Biar bisa bonceng kamu, kaya Ahmad. Aini ternganga tak percaya jika Ikbal berkata seperti itu.


****


Terimakasih 🙏🙏🙏


11.50