
Ikbal baru selesai melaksanakan dua raka'atnya. Ia menoleh ke arah istrinya yang masih terlelap. Rencananya pagi ini, dia akan mendatangkan tenaga terapi dari rumah sakit di mana ia praktek. Dia berharap Aini akan segera pulih karena Aini bukan lumpuh melainkan terlalu lama berbaring. Butu penyesuaian bagi tubuhnya untuk bisa bergerak leluasa seperti dulu.
Ikbal melipat sajadahnya bersamaan dengan Aini yang membuka matanya.
"Mas!", panggil Aini dengan suara yang lebih jelas di banding kemarin saat baru sadar.
"Iya Ai?", sahut Ikbal yang langsung menghampiri istrinya.
"Aku juga mau sholat mas!", kata Aini. Terdengar helaan nafas dari Ikbal.
"Iya, tapi sebelumnya kamu bebersih dulu ya. Mas siapkan air hangat sama lepas diaper kamu."
Mata Aini membulat. Diaper? Dia memakai diaper? Ikbal akan menggantinya?
"Mas?"
"Kenapa? Kalo mau sholat kan harus bersuci dulu Ai."
Aini meneguk ludahnya karena kerongkongannya terasa kering. Sepertinya Ikbal paham apa yang di pikirkan istrinya.
"Mas panggil ibu deh kalo begitu!", Ikbal mengusap kepala Aini dengan lembut. Tanpa mendengar persetujuan Aini, Ikbal keluar dari kamar mereka. Tak berapa lama, ibu Aini masuk dan membawa baskom berisi air hangat.
"Ibu lap dulu ya Ain. Padahal biasanya juga suami kamu!", kata ibunya.
"Benarkah? Jadi selama ini....ih ...ibu, aku malu!", kata Aini merajuk.
"Kenapa harus malu? Dia suami kamu kok. Lagi pula, dia sudah biasa menangani pasien. Wajar kan dia ngga canggung, apalagi sama istri sendiri!", kata ibunya sambil melepaskan pakaian Aini.
Perlahan, Aini mulai leluasa menggerakkan tangannya lagi meski masih tersisa rasa kaku. Tubuhnya yang terlalu lama rebahan membuat nya pegal-pegal.
Setelah selesai mengelap tubuh Aini, ibu nya memakaikan mukena saat Aini sudah tayamum. Melihat sang putri solat di ranjangnya, perempuan paruh baya itu pun keluar dari kamar Ikbal.
Tak sampai sepuluh menit, Ikbal sudah kembali ke kamarnya. Ia membantu Aini melepaskan mukenahnya.
"Sudah siap untuk belajar duduk?", tanya Ikbal.
"Apa aku lumpuh?", tanya Aini. Ikbal menggelengkan kepalanya.
"Ngga, cuma harus belajar menyesuaikan lagi kamu kelamaan tiduran sayang!", jawab Ikbal. Wajah Aini memerah mendengar panggilan tersebut.
"Ayo!", Ikbal mengajak Aini untuk mencoba mengangkat bahunya. Gadis itu meringis menahan pegal di punggung plus pinggangnya. Tapi perlahan, Ikbal berhasil membuat Aini bersandar ke headboard ranjangnya.
Nafas Aini terengah-engah seakan baru selesai lari maraton.
"Sakit?", tanya Ikbal.
"Lumayan!", jawab Aini.
"Nanti agak siang terapis nya datang buat bantu kamu. Semoga kamu bisa secepatnya pulih. Tapi habis itu banyakin olahraga ya."
Aini mengangguk cepat.
"Iya, masih jam lima. Kenapa?"
"Pengen menghirup udara segar!", jawab Aini. Ikbal menoleh ke arah balkon kamarnya. Ada sofa tanpa sandaran di sana. Lelaki itu berinisiatif membawa bantal untuk dia bawa ke sofa tersebut.
"Mau ke mana mas?", tanya Aini.
"Bawa bantal ini ke sofa, nanti kita duduk di sana menikmati udara pagi!", jawab Ikbal. Aini menatap punggung Ikbal yang membawa bantal menuju ke sofa balkon.
Aini mencoba untuk merubah posisi yang ternyata masih kesusahan.
"Sabar sayang!", kata ikbal yang tiba-tiba mengangkat tubuh Aini hingga melayang dalam dekapannya.
"Astaghfirullah mas!", pekik Aini. Ikbal tersenyum tipis lalu mendudukkan Aini di sofa itu dengan pelan karena istri meringis kesakitan.
"Mas ambil teh dulu ya buat hangatin perut kamu!", kata Ikbal. Aini hanya mengangguk pelan. Dia memandangi langit gelap yang sudah mulai sedikit di hiasi warna lembayung. Tapi mungkin cuaca sedikit mendung pagi ini.
Matanya berkeliling menatap indahnya ibukota dari atas gedung apartemen suaminya. Tapi tatapannya terhenti saat dia melihat seorang laki-laki berdiri di atas balkon yang terjeda sekitar sepuluh meteran dari sofa nya.
Yang menarik perhatian Aini adalah kaki lelaki itu tengah berdiri di pembatas balkon dengan merentangkan kedua tangannya. Aini masih memperhatikan lelaki itu, bisa saja kan ia sedang olah raga atau.... menikmati udara pagi seperti halnya dirinya.
Tapi ternyata ucapannya salah. Tiba-tiba lelaki itu dengan ringannya menjatuhkan diri dari balkon tersebut.
Sontak Aini menjerit kencang bersamaan dengan Ikbal yang masuk.
"Ada apa Ai????", Ikbal panik mendengar istrinya menjerit. Tangan Aini terulur ke depan membuat Ikbal memajukan kakinya melihat ke arah di mana telunjuk Aini terulur.
Ikbal menoleh ke arah bawah. Matanya membulat sempurna saat melihat seseorang terkapar bersimbah darah. Sudah ada beberapa orang yang berusaha mendekatinya. Meski belum terlalu terang, nyatanya sudah ada beberapa orang yang beraktivitas di jam seperti itu. Di tambah lagi, posisi korban jatuh berada di tempat yang terang.
Ikbal mengusap bahu istrinya.
"Kamu melihat dia sebelumnya?", tanya Ikbal pada Aini. Aini mengangguk cepat.
"Iya mas. Seharusnya aku mencegahnya melompat mas. Tapi aku ngga tau kalo...kalo dia berniat mau loncat mas. Aku...aku....!"
Ikbal menenggelamkan kepala Aini ke dadanya.
"Sudah-sudah, ini bukan salah kamu Ai. Sudah ya!", Ikbal mengusap kepala istrinya yang ketakutan. Mata ini mengerjap beberapa kali saat ia menyadari jika ada yang lain, di belakang suaminya.
Seorang laki-laki yang ia lihat meloncat tadi, tiba-tiba sudah ada di belakang Ikbal. Apa ini takut? Tentu saja!!!
Arwah itu menatap Aini dengan pandangan sendu. Tapi dasar Aini, meski sudah berkali-kali melihat penampakan tetap saja gadis itu merasa ketakutan seperti biasanya.
"Jangan takut padaku!", kata arwah tersebut. Tapi Aini tak menanggapi justru semakin tenggelam dalam pelukan suaminya.
*****
Terimakasih 🙏
20.52