
"Lo semalam ngga mimpi buruk Ain?", tanya Nita yang mengucek matanya.
"Alhamdulillah ngga. Semoga begitu seterusnya!", sahut Aini yang sedang memakai hijab pasmina instan berwarna misty.
"Syukurlah, gue seneng dengernya. Btw ... Lo ke rumah sakit sekarang?"
"Iya. Kenapa?"
"Yakin Lo udah sehat? Ini rumah sakit lho. Apalagi... kerjaan Lo ngga jauh-jauh sama yang namanya ehem...orang meninggal. Lo ngga takut!?"
"Kalo di bilang takut ya...jelas masih ada rasa kaya gitu. Tapi gue cuma mau biasain aja Nit. Mau menghindari juga kayanya susah!"
Nita mengangguk setuju dengan perkataan Aini.
"Lo di jemput kakanda?"
"Kakanda apaan sih?"
"Heheheh mas dokter lah!"
"Nita, mending Lo mandi sono! Lo kudu mandi plus dandan yang cantik, abis itu tidur lagi!", ledek Aini yang sudah selesai berdandan alakadarnya.
"Percuma gue mandi dong???", bibir Nita mencebik.
"Hahahaha ngga ada yang percuma Nita! Kalau bersih kan badan enak! Seger gitu ja...."
"Stop! Berangkat gih! Capek gue dengerin Lo!", sahut Nita.
"Ya...ngusir kan Lo?? Dah lah! Gue jalan. Assalamualaikum! Bye!!!", Aini mengibaskan hijabnya yang menjuntai dan ia hempaskan ke arah Nita.
"Dasar Aini!!! Ih ...kesel deh!", seru Nita.
.
.
.
Aini menunggu sekitar sepuluh menitan hingga ojek online yang tuggu sudah sampai.
Tak butuh waktu lama hingga tiba di rumah sakit. Kebetulan jalanan belum terlalu ramai. Tujuan Aini langsung ke ruang admin yang menaunginya.
"Sorry mba Dewi, saya sering banget ngga masuk!", kata Aini.
"Iya, ini ada titipan SP dari HRD !", Dewi menyerahkan dokumen tersebut dengan selamat sampai ke tangan Aini.
Meski semalam Ikbal sudah mengatakannya, tapi kenyataannya hati kecil itu sedikit tersentuh.
Aku kena SP? Gumam Sekar.
Usai pamit pada Dewi, Aini pun menuju keruangannya. Sepi, itu yang Aini rasakan. Ahmad dan yang lain.
Aini memilih duduk di bangku seperti biasa. Tak lama kemudian, tiga cowok itu masuk ke ruangan tersebut.
"Ya Allah mas Kholil, ini beneran Aini !", kata Aini gemas sendiri.
"Apa kabar Aini? Udah beneran sehat kan?", tanya Bambang.
"Alhamdulillah sudah pak Bambang!", jawab Aini. Ahmad sendiri yang sering berhubungan dengan Aini via telpon pun tak berbasa basi pada Aini.
"Lo baru masuk kerja kan? Tugas buat Lo, rekap kegiatan kita ya!", Ahmad menyerahkan beberapa berkas di depan meja Aini. Jangan lupa, ia menyunggingkan senyumnya.
Aini memajukan bibirnya karena merasa terzolimi.
"Lo ga kasian sama gue gitu mas? Kan gue abis sakit?", kata Aini pada Ahmad sok imut.
"Justru karena gue kasian Ai! Tugas kita cukup berat sekarang, mending Lo kerjain udah gitu, serahin ke admin. Oke??"
"Huum!", sahut Aini. Dia pun mulai mengerjakannya.
.
.
.
"Sean!"
"Ya mas?"
"Kamu percaya hal ghaib?", tanya Ikbal.
"Ya... tentu saja mas. Kenapa memangnya?"
"Apa kamu percaya kalau ada pernikahan antara manusia dengan makhluk ghaib?", tanya Ikbal.
"Ngga tahu juga sih mas. Bisa jadi Iya, bisa juga ngga."
Keduanya sedang menikmati makan siang bersama di ruang Ikbal. Tak ada makanan mewah, hanya menu biasa kantin ya seperti itulah.
Sayup-sayup tercium aroma ubi bakar di dalam ruangan tersebut. Selang beberapa saat kemudian berubah menjadi wangi bunga melati.
Ikbal dan Sean saling menatap secara bersamaan. Keduanya menyadari ada yang aneh.
Bagaimana bisa di gedung berpuluh lantai ada yang bakar-bakaran. Ya kan...???
Bulu kuduk Sean dan Ikbal pun merinding. Teringat akan kejadian di mana ia hampir meregang nyawa lalu di bantu Ibas. Sejak itu, Ikbal berusaha melindungi dirinya sendiri.
****
22.05
Terimakasih 🙏🙏🙏