Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 39


"Ngga usah di jawab kalo emang ga mau jawab di sini! Udah selesai kan makannya? Aku antar ke ruangan mu. Sepertinya Ahmad dan yang lain sudah selesai!", ajak Ikbal.


Aini yang tadi sempat terpaku puja menyadari saat tangan kecilnya di gandeng Ikbal.


Hobi sekali menggandeng tangan ku??? Aini menatap tangan Ikbal yang menggenggam tangannya.


Entah apa pendapat orang di sekitar situ. Apa yang mereka pikirkan tentang Aini dan Ikbal?


Ikbal di kenal sebagai sosok yang humble tapi selama ini hampir tidak pernah terdengar ia terlibat cinta lokasi dengan para karyawan rumah sakit atau menggandeng perempuan ke tempat bekerjanya. Berbeda saat ada Aini!


Ikbal mengantar Aini sampai ke depan pintu ruangannya.


"Sebentar lagi aku ada operasi. Kalau jam tujuh malam nanti aku belum selesai, kamu langsung pulang saja. Kita bisa atur ulang rencana kita untuk makan malam di rumah mamaku."


Aini mengangguk pelan. Tapi tiba-tiba ia teringat akan Ilma yang seolah merengek padanya tiap kali bertemu.


Sayangnya, Ikbal memang harus menjalankan tugasnya dan bertanggung jawab atas pekerjaannya.


"Kenapa murung?", tanya Ikbal. Aini menggeleng.


"Apa...adikku keberatan?", tanya Ikbal. Aini mengerjapkan matanya.


"Heum? Ya...ya gimana mas. Aku ngga tahu. Mungkin kalo dia mendatangi ku lagi, aku bilang ke dia buat bersabar lebih lama, dikit lagi!", kata Aini. Ikbal mengusap lembut puncak kepala Aini.


"Makasih Ai. Masuk gih! Kalau jenasah udah di bawa ke ambulans, teman-teman kamu langsung balik kesini kok!"


"Iya mas!"


"Nanti chat aku aja kalo udah mau pulang. Ya?"


"Iya mas!", ulang Aini.


"Ya udah, mas mau tugas dulu!", Aini mengangguk cepat.


Gadis itu menatap punggung Ikbal yang menjauh ke lorong rumah sakit. Saat akan membuka pintu ruangannya, samar-samar ia mendengar orang yang sedang membicarakan dirinya.


'Perasaan tuh cewek ngga cakep-cakep amat. Masih cantikan dokter Loly. Kok bisa sih dokter Ikbal nolak dokter Loly, malah deket sama kang mayat!'


'selera dokter Ikbal emang yang model gitu kali!'


Aini menoleh sekilas ke belakang. Ada dua perempuan berseragam perawat yang sedang menatap dirinya. Tapi saat Aini menoleh, keduanya diam seolah tak mengatakan apapun. Dan meninggalkan Aini begitu saja. Aini hanya menghela nafas sebentar.


Tangan nya terulur untuk membuka pintu ruangannya. Tapi ternyata tiga rekannya sudah menghampirinya.


Akhirnya...dia bak sedang membukakan pintu untuk para seniornya.


"Terimakasih Ain....!", kata ketiganya. Aini tersenyum menggeleng pelan dengan sikap ketiganya yang sepertinya sangat 'ngemong'.


Mereka berempat duduk di kursi masing-masing. Kholil mendekati Aini.


"Aini, disini aman kan? Ngga ada mereka?", tanya Kholil. Aini sempat menautkan kedua alisnya karena tidak paham. Tapi sejurus kemudian gadis itu manggut-manggut.


"Ngga ada!", jawab Aini jujur.


"Ngga ada apa ada? Kalo ngga ada ngapain ngangguk?", tanya Kholil semakin mendekatkan kursinya.


"Modus Lo!", Ahmad dan Bambang melempar Kholil dengan remasan kertas kecil. Kholil terkekeh pelan.


"Makasih ya... mas-mas semuanya. Padahal ini hari pertama kerja tapi...aku udah ngerepotin kalian."


"Repot apa sih? Ngga lah!", kata Bambang.


"Nanti kalo kamu udah terbiasa, insyaallah ngga akan kaya tadi lagi!", lanjut Kholil. Aini merasa beruntung mendapatkan partner kerja sebaik mereka.


Jam berdetak melaju hingga menunjukkan waktu jam lima sore. Keempatnya akan bersiap untuk pulang tapi ternyata ada petugas yang masuk kedalam ruangan mereka.


"Ini mas Ahmad daftar nama jenasah yang akan kalian urus sekarang. Soalnya almarhum dan almarhumah akan di bawa ke kampung halaman mereka setelah semua beres!", kata petugas tersebut.


Ketiga lelaki itu mengiyakan dengan anggukan lalu menoleh pada Aini yang mengerjap pelan.


"Aku sama Ahmad, ngurus yang cowok. Kamu sama Mas Bambang ngurusin yang cewek!", kata Kholil yang sepertinya paham dengan jalan pikiran Aini.


"Oke! Bismillahirrahmanirrahim!", Aini berusaha semangat. Keempatnya langsung menuju ke ruangan praktek mereka. Untung mereka sudah sholat ashar lebih dulu.


Kali ini Aini memakai masker yang dilapis tiga. Tak lupa ia mengoleskan minyak angin di maskernya. Untuk apa????


Mungkin dengan begitu, ia bisa menekan rasa mualnya.


Ahmad dan Bambang mengambil alih masing-masing jenazah yang akan di urusinya.


Aini mengekor di belakang Bambang, ia memejamkan matanya sesaat sampai dia benar-benar berada di samping Bambang.


Hati Aini terus merapalkan ayat kursi dan alfatihah. Gadis itu meneguk salivanya dengan kasar saat melihat sosok cantik yang terluka di bagian kepalanya. Mungkin dari situ lah kenapa gadis itu di panggil yang kuasa.


"Bismillahirrahmanirrahim. Maaf ya mba, aku bantu bersihin badan Mbaknya!", kata Aini dan didengar oleh Bambang. Berhubung sudah ada Aini, lelaki beranak dua itu cukup mendampingi Aini.


Bambang mengarahkan Aini untuk begini begitu. Ternyata Aini tak merasakan apapun dalam artian yang aneh-aneh.


Dia mulai menyadari, jika hatinya sedang kosong maka dia mudah mengalami hal yang ada di luar nalarnya.


Wajah secantik apapun, jika sudah tak bernyawa dan kembali pada sang pencipta semua hanyalah tinggal cerita. Lalu, apa yang harus di sombongkan????


Azan magrib berlalu. Keempatnya sudah selesai melakukan tugas mereka. Saatnya keempat petugas kamar jenazah itu menuju ke mushola untuk berjamaah solat magrib yang bahkan menjelang isya.


"Kamu balik duluan Ai!", pinta Ahmad.


"Heum? Iya!", sahut Aini.


"Pasti lagi nunggu dokter Ikbal ya?", ledek Kholil.


"Ngga, siapa bilang. Dia lagi ada operasi. Mana ada nunggu dia mas!", sahut Aini.


"Tahu banget jadwalnya?", tanya Ahmad.


"Ya kan di kasih tahu?!", jawab Aini tak mau di pojokan.


"Udah, balik sama Ahmad aja, kalian searah. Keburu malem lho?!", bujuk Bambang.


Aini sempat menimbang sesaat hingga akhirnya ia mengangguk setuju.


"Rumah kita paling dekat sama rumah sakit ini. Jadi kalo ada tugas mendadak, kamu siap kan aku jemput?", tanya Ahmad.


"Siap!", jawab Aini. Lalu keempatnya menuju ke parkiran motor mereka untuk kembali ke rumah masing-masing.


*******


20.34


Terimakasih 🙏🙏🙏