Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 42


Aini dan Ikbal duduk di dalam mobil. Sedang Ruby dan Ahmad di bak belakang disertai dengan kendaraan roda dua milik Ahmad.


Sebagai antisipasi, Ikbal memberikan jaket tebal dan kaus kaki untuk Ahmad. Dia paham, perjalanan menuju ibukota pasti akan di rasa cukup berat malam ini bagi Ruby maupun Ahmad yang secara langsung menikmati angin malam di atas bak mobil.


Tak lupa, sebelum semua kembali ke ibu kota Ikbal menyisipkan sejumlah uang sebagai ucapan terimakasih pada si bapak misterius yang sudah menolong Aini dan Ahmad.


Tidak ada obrolan di bak belakang karena Ahmad memilih tidur karena dia merasa sangat lelah. Dan Ruby pun tak menganggapnya tidak sopan. Toh mereka memang tidak saling mengenal. Baru di pertemukan malam ini.


Berbeda dengan Aini di depan. Dia memaksa membuka matanya.


"Tidur aja Ai!", kata Ikbal mengusap kepala Aini. Aini menoleh pada sosok tampan di sampingnya.


"Kasian mas Ikbal kalo melek sendirian!", kata Aini. Ikbal tersenyum tipis.


"Ngga apa-apa. Aku sudah terbiasa kok berkendara jauh dan sendiri! Jadi ngga usah cemas!", kata Ikbal.


"Oh!", hanya itu sahutan Aini. Dia pun memilih untuk menyadarkan kepalanya belakang. Tiba-tiba sosok Ilma datang menghampirinya hingga otomatis Aini minggir ke dekat pintu.


"Ada apa Ai?", tanya Ikbal heran.


"Heuh? Ngga mas. Mau nyandarin kepala aja ke samping!", jawab Aini asal.


"Jangan dong, bahaya! Sandaran ke belakang aja!", kata Ikbal. Aini pun mengangguk pelan sambil menatap tajam pada Ilma yang datang tak tahu waktu. Kemana dia coba pas dia dan Ahmad nyasar ke dunia lain.


"Sorry!", kata Ilma. Aini hanya mendengus kesal.


"Gue juga ada urusan markonah! Mana tahu gue kalo Lo sama temen baru Lo alias calon rival kakak gue tersesat di hutan Amazon!", kata Ilma cengengesan.


Aini melotot tajam pada arwah gadis cantik itu. Lalu mengobrol dengannya dalam hatinya.


"Lo ga tahu kalo kita berdua ketakutan kaya apa?", tanya Aini.


"Tahu lah! Kan ini pengalaman pertama kalian! Wajar dong!", jawab Ilma. Aini mengernyitkan dahinya.


"Semoga pertama dan terakhir!", kata Aini.


"Ishhh...Lo berdua itu di beri kemampuan yang orang lain ngga punya!", kata Ilma.


"Maksudnya? Ahmad juga sama kaya gue?"


"Astaghfirullahaladzim Ma, kalo Lo tahu gimana rasanya tadi...ishhh...demi deh, ngga lagi-lagi gue Ma!", kata Aini.


"Heum, doa aja begitu! Betewe, Lo sama kak Ikbal gagal dong buat cari bukti soal bokap tiri gue?", tanya Ilma.


"Ya gitu lah! Lo sabar aja Ilma. Insya Allah akan tiba saatnya untuk selesai!", Aini mencoba menenangkan teman dunia lainnya yang cantik meski berwajah pucat. Apalagi dia masih memakai baju seragam SMA nya.


"Romi terlalu bersih mainin nya. Susah kan jadinya mau cari bukti akurat?!", kata Ilma kesal.


"Sabar!", kata Aini. Tapi setelah itu tiba-tiba ada sesuatu yang sepertinya jatuh di atas mobil. Hal itu pun langsung di sadari oleh Ikbal.


"Lho, kirain kamu tidur Ai?", tanya Ikbal.


"Heum, bentar lagi mas!", jawab Aini.


"Wah...ada yang numpang mau ke ibukota nih Ai heheheh!", kata Ilma.


"Hah? Siapa?", tanya Aini. Tapi detik berikutnya ia menyadari ada sesuatu berwarna putih cenderung cokelat menjulur di kaca.


Aini meneguk salivanya tapi Ilma justru cekikikan melihat wajah pucat Aini.


"Ntar gue suruh pergi. Dia ngga ikut ke ibukota kok hihihihih!", kata Ilma.


"Ilma, sori gue paling takut sama model itu Ilma! Please!! Suruh pergi, kalo ngga...gue ga mau bantu Lo?!", kata Aini.


Ikbal mendengar Aini berkata demikian. Dia menoleh cepat ke arah crush nya. Mungkin, Ikbal akan terbiasa menghadapi situasi seperti ini bersama Aini.


"Ngancem nya ngga seru Lo, Ain! Oke, gue bawa dia kabur dulu deh!", kata Ilma yang tiba-tiba hilang dari pemandangan Aini. Dan detik berikutnya, penampakan di depan kaca mobil pun menghilang.


"Alhamdulillah!", ucap Aini. Gadis itu pun menoleh pada Ikbal yang fokus dengan kemudinya. Tapi setelah itu, ia berpamitan untuk tidur pada Ikbal. Dokter muda itu pun mempersilahkan karena dia memang sudah mengatakannya sejak tadi.


***


Hatur nuhun 🙏


22.41