
"Siapa yang sudah tega membunuh kamu RIS?",tanya Aini.
"Bantu aku mencari buktinya Ai. Tapi...kamu juga harus berhati-hati. Bisa saja kamu, atau ....!", Risma menoleh pada Nita yang masih terpejam.
"Atau?", Aini membeo.
"Kamu dan juga sahabat mu."
"Kenapa?"
"Kalian masih gadis!", kata Risma. Aini mulai menerka-nerka, maksud Risma mungkin mereka masih perawan belum pernah berhubungan dengan laki-laki.
"Tapi...dia siapa? Dan kenapa dia...?"
"Mungkin sebenarnya tujuannya tidak ingin membunuhku. Tapi aku terlanjur tahu rahasianya, makanya dia membunuh ku agar aku tak mengatakan rahasianya pada siapapun!"
"Dia siapa?Dan rahasia apa?", tanya Aini lagi.
"Anak pemilik kost!"
"Astaghfirullah!", Aini menutup mulutnya.
"Dan kenapa dia harus membunuh kamu Ris? Rahasia apa yang kamu tahu?"
Risma menoleh ke arah Nita yany sedang mengucek matanya. Aini pun menoleh ke arah Nita.
"Ngomong sama siapa sih Lo, Ai??", tanya Nita antara sadar dan tidak sadar. Aini memilih tak menjawabnya. Anggap saja jika Nita sedang mengigau. Karena tak ada jawaban dari Aini, Nita pun kembali tidur.
"Beberapa waktu lalu, saat aku pulang dari kampus siang hari. Tak sengaja aku melihat...anak pemilik kost sedang... berhubungan badan dengan...Bu Mul!"
Mata Aini melebar.
"Bu Mul? Bu Mul kan istri pemilik kost itu artinya....?"
"Iya, mereka ada main di belakang Pak Mul. Dan aku tak sengaja melihatnya karena mereka melakukannya di ruang tamu rumah pak Mul, kebetulan aku akan melunasi pembayaran sewa kost ku!"
"Tapi kenapa harus membunuh kamu?"
"Dia takut aku mengatakan hubungan antara keduanya pada orang lain!", jawab Risma.
"Tapi tidak harus dengan membunuh dong!", Aini meremas rambutnya frustasi.
Entah kenapa ada orang yang berpikir seperti itu, mengakhiri hidup orang lain karena masalah yang seharusnya bisa di bicarakan baik-baik?!?!?
"Aku menolak berhubungan in*** dengannya!"
Mulut Aini menganga begitu lebar.
"Aku merusak kesenangannya, makanya aku di paksa melayani nafsu bejatnya."
"Tapi...dia membuat alibi seolah aku bunuh diri!", lanjut Risma.
"Lalu, kapan kamu...di bunuh? Benar kemarin?", tanya Aini. Risma menggeleng.
"Sehari sebelum aku di temukan gantung diri."
"Itu artinya...oh iya kemarin aku sempat mendengar sesuatu, apa itu kamu?", tanya Aini. Risma mengangguk.
"Aku ingin memberi barang bukti pada mu Ai!"
"Barang bukti?", tanya Aini.
"Iya, barang itu ada di bawah kasur ku. Aku menulis sesuatu di sana. Karena feeling ku mengatakan akan terjadi sesuatu padaku!"
"Ya Allah, Ris!", Aini menatap Risma dengan wajah sendu.
"Ada barang bukti lain, jam tangan lelaki itu ada di bawah kasur juga karena aku sempat menyembunyikannya."
"Tapi, bagaimana bisa?"
"Dia membuat ku pingsan sambil menyiapkan alat seolah aku bunuh diri. Dan aku menyadari hal itu, hanya jam tangan nya yang bisa ku jangkau sampai ku simpan di bawah kasur."
"Lalu?"
"Dia memukul kepala ku sampai aku kembali pingsan! Dan setelah itu....!"
"Stop Ris, aku tak tahan untuk mendengarkannya. Tapi apa polisi akan percaya dengan ucapan ku?"
Risma tak menjawab apapun dan setelah itu azan subuh terdengar. Perlahan Risma meninggalkan kamar Aini. Padahal Aini masih ingin bertanya tapi Risma keburu pergi bersama dengan Nita yang bangun.
"Lo bangun sejak kapan Ain?", tanya Nita dengan suara serak.
"Dari tadi. Solat yuk!", ajak Aini.
"Duluan aja Lo!", kata Nita masih lemas. Aini pun sekalian mandi.
"Lho, Lo udah mandi aja?", tanya Aini membereskan tempat tidur.
"Iya, nanti Lo berangkat gue juga mau keluar sekalian. Gue mau ngelamar kerja!"
"Hey? Emang Lo udah sehat hah? Lo baru sadar koma seminggu yang lalu. Lo bukan cuma batuk pilek Aini!!!!"
"Ya kan baru melamar Nit, belom tentu di terima dan langsung kerja hari ini juga! Gue butuh kerjaan Nita!"
"Iya, tapi nanti nunggu Lo sehat dulu Ain?!"
"Gue tahu Lo perhatian sama gue, tapi please...gue ga mau nganggur terus!", paksa Aini. Dia tahu Nita pasti akan terus memaksanya agar di rumah saja. Lagi pula, dia butuh ke kantor polisi untuk memberi tahu tentang kematian Risma. Tapi dia butuh orang lain, Aini berharap orang yang bisa ia percaya untuk mendampinginya adalah....Ikbal.