
Mendengar bisikan dari Ruby, Ibas pun bangkit dari jongkok. Entah lah, dia merasa jika Ruby memang sedang mengintimidasi dirinya atau lebih tepatnya sedang mengetes nyalinya.
Nyatanya, Ibas cukup takut. Bukan karena takut di penjara, dia yakin papa nya akan bertindak dan berusaha membebaskannya.
Hanya saja, Ibas takut jika benar demikian...Ibas akan kehilangan kesempatan untuk bisa bersama Aini lagi.
"Gue cabut!", Ibas menunggangi motor gede nya tanpa menghiraukan panggilan teman-temannya di sana.
Ibas tidak pulang atau kembali ke kampusnya. Harusnya sejak tahun lalu ia lulus. Tapi sayangnya dia harus mengulangi di mata kuliah yang sama lagi dan lagi.
Motor besar itu berbelok ke arah sebuah pemakaman umum yang hanya sebagian besar di isi oleh orang yang memang berada.
Usai memarkirkan roda duanya, Ibas masuk ke area makam. Sebuah makam berumput dan bernisan batu hitam tertulis nama Ilma Fauziana, Ibas berjongkok di sana.
"Apa kabar dek!", sapa Ibas. Ilma yang tadinya bersama dengan Aini dan Ikbal pun merasa ada yang mengunjungi rumahnya memutuskan untuk pindah dimensi 😄
"Kakak kangen sama kamu??", Ibas mengusap batu nisan hitam mengkilap tersebut. Ilma yang masih mengenakan seragam SMA nya saat terbunuh pun hingga kini masih sama memakainya.
"Kamu tahu, kakak terlibat aksi kecelakaan. Kakak ngga menabrak. Tapi karena kakak mengejarnya, motornya menabrak beton."
Ilma mengamati mantan kakak tirinya dan juga kekasihnya itu.
"Dia cewek kakak! Sejak kamu pergi, dia satu-satunya yang bisa mengerti kakak. Tapi....", Ibas menunduk. Ilma masih mendengarkan pria berpenampilan urakan itu.
"Tapi kakak salah! Ucapan kakak pasti sudah menyakitinya. Dengan mengatakan aku ingin menikmati tubuhnya, aku merasa.....ahhh!",Ibas meremas rambutnya sendiri.
Dia sadar mulut nya memang tak bisa di ajak berkompromi. Siapapun yang jadi Aini pantas benci padanya.
"Dek, sebenarnya...siapa yang buat kamu ninggalin aku? Dan...kenapa tiba-tiba Aini datang ke rumah sama mas Ikbal. Dia nemuin ponsel kamu! Maksudnya apa????", tanya Ibas frustasi.
Setelahnya ia terkekeh pelan.
"Gue bego ya dek. Nanya sendiri jawab sendiri?!", monolog Ibas sambil tertawa. Ilma hanya mampu memandangi sosok yang pernah ia cintai. Tapi dia juga kecewa, Ibas masih ada perasaan dengan Aini meski sikapnya seperti itu.
"Gue ngga akan pernah lupain kenangan kita Dek! Ngga akan! Karena sampai kapan pun, Lo selalu menempati ruang dalam hati gue!", kata Ibas yang amat sangat jelas di dengar oleh Ilma.
Usia memakai kacamata hitam, Ibas mengusap batu nisan itu lagi.
"Gue balik dek. Sorry kalo gue jarang nemuin Lo! Gue harap, Lo bisa hadir di mimpi gue sekali....aja!", kata Ibas sambil tersenyum sendiri.
Setelahnya, ia pun bangkit dan meninggalkan pemakaman. Usai mendengar curhatan mantan kekasihnya, Ilma kembali bersama Aini dan Ikbal.
"Astaghfirullah", Aini terkejut karena Ilma kembali menampakkan dirinya. Wajah Ilma di tekuk, Aini yakin jika Ilma sedang marah. Tapi kenapa? Apa karena nya yang sudah mencoba dekat dengan Ikbal????
"Bukan karena Lo?!", sahut Ilma cepat bersamaan dengan Ikbal yang bertanya.
"Kalo bukan karena gue, terus Lo marah kenapa?", tanya Aini. Tapi dia lupa, bukannya di ucapkan dalam hati justru keluar begitu saja dari bibirnya.
"Siapa yang marah Ai?", tanya Ikbal. Aini yang menyadari jika dirinya mengeluarkan suara membuat Ilma cekikikan di belakang.
"Euu? Ngga kok mas! Eh, udah mau sampai mas! Ayok turun!", ajak Aini tampak buru-buru. Ikbal pun hanya mengekor di belakang Aini. Sesampainya di gerai ponsel dimana mereka memperbaiki ponselnya, Aini langsung duduk begitu saja.
Tiba-tiba mata batin nya seoleh terbuka. Ia melihat wajah tukang service tadi tampak pucat dan di belakangnya...tampak ada orang lain yang berbeda seragam.
"Ini pak dokter, sudah selesai?!", kata tukang service.
Ikbal pun menerimanya. Ponsel Ilma terbuka
menunjukkan foto dirinya dengan Ibas yang terlihat bahagia. Ibas pun masih berpakaian rapi. Tidak seperti sekarang.
Lagi-lagi Aini merasakan sesuatu yang aneh. Ia menatap tukang service hp yang sedang berbincang dengan Ikbal. Tiba-tiba saja ada bayangan hitam yang mendekati orang tersebut.
Ternyata ponselnya berdering. Ada panggilan dari orang lain. Dan ternyata, dia bangkit dan pamit pada kami akan keluar karena mengambil paket di depan.
Lima menit berlalu, pegawai yang lain sibuk melayani pelanggan. Tapi tukang servis tadi tak kunjung datang.
Hingga....
Sesuatu seperti terhantam cukup keras dengan suara kaca yang remuk mengalihkan atensi semua orang pada lokasi tersebut.
Suara histeris menggema di dalam mall tersebut. Begitu pula dengan Aini yang menyaksikan sendiri kejadian tersebut.
Tukang service yang tadi dari luar pun menoleh ke belakangnya yang ternyata kaca itu sudah hancur tak bersisa.
"Astaghfirullah!", gumam pegawai tersebut. Ia mengelus dadanya sendiri. Andai dua detik sebelumnya ia masih di dekat sana sudah pasti lelaki itu akan jadi salah satu korbannya.
"Maaf lama pak dokter?", katanya.
"Ngga apa-apa. Anda sakit mas?", tanya Ikbal.
"Iya mas, pusing!", jawabnya singkat. Setelah itu perasaan Aini kembali normal.
Sebenarnya aku kenapa sih???. Batin Aini.