Kau Tak Sendiri

Kau Tak Sendiri
Bab 26


"Mari saya antar ke ruang administrasi!", kata Ahmad setelah memeriksa biodata Aini.


"Permisi pak Bambang, pak Kholil!", pamit Aini pada dua calon rekan barunya. Kedua lelaki itu mengiyakan saja.


Aini mengekor di belakang Ahmad. Diantar ketiga petugas kamar jenazah, Ahmad lah yang belum menikah.


"Kalau kamu mulai masuk kerja besok, keberatan tidak? Disini tidak ada sistem shift. Kalau mau ijin ya boleh, hanya saja bergantian. Tidak boleh bentrok!", kata Ahmad.


"Iya pak!", jawab Aini.


"Panggil aja mas. Saya belum setua itu di panggil bapak. Kalo mas Kholil, sama pak Bambang baru boleh di panggil bapak. Karena mereka berdua memang bapak-bapak!", kata Ahmad.


Aini mengangguk cepat.


Saat akan menuju keruang admin, banyak penampakan yang menunjukkan dirinya pada Aini. Mulai dari badan yang tak utuh, pocong, Miss Kun, bahkan makhluk besar yang bertaring.


Aini berusaha mengabaikan rasa takutnya. Karena dia akan terbiasa dengan hal-hal itu, di sini! Di rumah sakit ini!


Ahmad membuka pintu ruang administrasi, dia meminta staf yang ada di sana untuk membuat surat kontrak bahwa Aini sudah menjadi bagian dari rumah sakit ini.


"Jadi, mba Aini bergabung di bagian... kepengurusan jenazah?", tanya staf admin. Aini mengangguk. Entah berapa kali dia sudah mengangguk sejak pagi.


"Iya mba, bismillah saja. Saya butuh pekerjaan!", jawab Aini.


"Huum, tapi...ngga takut mba?", tanya nya lagi.


"Pertanyaan yang sama kaya mas Ahmad dan rekannya!", jawab Aini. Staf admin itu tertawa. Dia cukup ramah menghadapi Aini.


Tok...tok...


Pintu terketuk lalu terbuka dari luar. Sosok Ikbal masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Pagi dok!", sapa Ahmad dan staf admin bernama Dewi.


"Pagi! Udah selesai ngurus adminnya Ai?", tanya Ikbal pada Aini.


Ahmad dan dewi menoleh pada Aini yang tersenyum kaku. Malu!!!


"Udah...mas!", jawab Aini. Ahmad dan Dewi melongo.


"Ya udah, habis ini jadi kan ke rumah mama ku?", tanya Ikbal tapi matanya melirik ke Ahmad. Ahmad yang dilirik seperti itu pun hanya meneguk salivanya.


Baru mau nyoba deketin, pawangnya model gini! Aku mah apa atuh??!!! Batin Ahmad yang terdengar oleh Aini tentunya. Aini semakin di buat kikuk.


Patah hati gini amat ya? Ya kali dokter Ikbal mau lirik model gue? Ternyata dia udah punya cem-ceman? Ngajak ke rumah mamanya lagi, berati kan....? Suara batin Dewi tak terdengar lagi karena tiba-tiba Ikbal menarik tangan Aini.


"Ayo, nanti keburu siang!", ajak Ikbal. Aini tersenyum kaku kepada dua rekan barunya.


"Mas Ahmad, mba Dewi saya pamit dulu. Insya Allah besok kita ketemu lagi. Mohon bimbingannya!", kata Aini.


"Iya Ai!", jawab Ahmad. Tapi sepertinya Ikbal tak terima.


"Panggil Aini, kalau perlu yang lengkap. Nur Aini!", kata Ikbal.


"Lho, kenapa memangnya mas?", tanya Aini.


"Ngga, aku aja yang panggil Ai ke kamu!", jawab Ikbal. Wajah Aini merona di buatnya.


Bisa-bisa gue diabetes nih kalo kaya begini!!! Batin Aini.


"Kami duluan!", kata Ikbal tersenyum ramah pada Dewi dan Ahmad. Keduanya pun mengiyakannya.


Sekarang, Aini dan Ikbal berjalan berdampingan melewati lorong menuju ke parkiran.


"Jam berapa kamu berangkat besok pagi?", tanya Ikbal.


"Jam tujuh sih mas. Kenapa?", tanya Aini.


"Aku jemput!", jawab Ikbal. Aini menghentikan langkahnya. Melihat Aini berhenti, Ikbal pun ikut berhenti.


"Kenapa?", tanya Ikbal.


"Jangan terlalu baik sama aku mas, nanti aku bisa salah mengartikan perhatian mas Ikbal."


Ikbal tersenyum tipis. Lalu mengacak lembut puncak kepala Aini.


"Pinter amat kasih kodenya Ai?!", kata Ikbal. Wajah Aini kembali bersemu merah. Selalu seperti itu!


Dari pada dia diabetes, lebih baik Aini berjalan mendahului Ikbal. Tapi sayangnya...bukan ke pintu keluar, langkah kaki Aini justru makin masuk ke area rumah sakit. Ikbal hanya tersenyum mengikuti Aini yang salting.


Mata batin Aini mulai peka. Sepertinya banyak yang ingin berinteraksi dengannya. Ia memegang tengkuknya yang mendadak kaku.


Tiba-tiba saja sesuatu menggelinding di depan kakinya. Spontan Aini menjerit.


"Ada apa Ai?", tanya Ikbal yang merengkuh bahu Aini dari belakang. Aini perlahan membuka matanya. Tidak ada apa-apa di sana.


"Ai? Ada apa? ada yang kamu lihat?", tanya Ikbal pelan. Sepertinya Ikbal mulai peka dengan apa yang menjadi keistimewaan Aini.


Aini mengangguk lemah.


"Istighfar Ai!", Ikbal memperingati Aini.


"Iya mas!", jawab Aini. Tapi saat ia menoleh ke arah lain, justru penampakan tadi seolah sedang melambai padanya.


Sosok laki-laki berdiri di samping pintu sambil memegang kepalanya.


"Astaghfirullah... astaghfirullahaladzim!", gumam Aini.


Tolong siapapun itu, aku tidak ingin mengganggu kalian. Aku tidak mau di ganggu juga! Batin Aini.


Tapi ternyata...dia mendapatkan jawaban dari sesuatu di sana.


"Aini! Aku minta tolong, sampaikan pada kekasih ku itu! Aku mencintai nya Aini! Katakan padanya, aku sudah memberikan hadiah seperti apa yang dia inginkan. Ada di jok motor ku!", kata makhluk itu. Aini mengerjapkan matanya.


"Jangan takut Aini!", batin Aini.


Ternyata, makhluk itu korban kecelakaan dan Ahmad cs sedang mengurus nya.


Berati, kejadiannya baru saja??? Gumam Aini.


"Ada apa Ai?", tanya Ikbal. Aini menunjuk ke seorang perempuan yang di papah oleh seorang laki-laki dewasa.


Ikbal pun menoleh ke arah seorang perempuan yang sedang menangis dan di peluk oleh laki-laki dewasa, mungkin ayahnya.


"Korban kecelakaan tadi, mau bilang kalau dia cinta sama mba itu mas. Dan dia punya hadiah seperti yang mba itu inginkan, ada di jok motornya."


"Ya udah, sampaikan pesannya!", kata Ikbal. Aini menoleh.


"Apa mereka akan percaya?", tanya Aini pada Ikbal.


"Coba saja dulu!", kata Ikbal. Akhirnya Aini pun setuju lalu keduanya pun mendekati perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu itu.


"Permisi mba!", sapa Aini. Perempuan yang menangis itu mendongak sambil menghapus air matanya.


"Maaf mba kalau saya mengganggu!", kata Aini.


"Iya, tidak apa-apa. Mba siapa? Ada perlu sama saya?", tanya perempuan itu di sela Isak tangisnya.


"Eum, maaf mba. Saya memang tidak mengenal mba, ataupun almarhum kekasih mba. Tapi....!", ucapan Aini menggantung lalu menoleh pada Ikbal dan di angguki oleh Ikbal.


"Iya?", tanya perempuan itu.


"Mas nya bilang katanya dia cinta sama mba, dan katanya...dia sudah memberikan hadiah seperti yang mba inginkan dan ada di jok motor mas nya!", kata Aini.


"Heuh?", tanya perempuan itu bingung.


"Maaf , mungkin ini tidak masuk akal tapi...mas nya menyampaikan hal itu lewat saya, barusan!", kata Aini.


Perempuan itu menghapus air matanya lagi. Dia menoleh ke sana kemari.


"Apa kamu bisa melihatnya? Dimana dia? Aku mau bicara padanya? Mas Harun di mana???", tanya perempuan itu terisak dan di peluk oleh laki-laki dewasa tadi.


"Sabar nak, sabar?!", kata lelaki itu.


Lelaki yang tadi memegang kepalanya sekarang sudah terlihat lebih baik karena berbentuk utuh. Dan itu membuat Aini tak takut lagi.


"Katakan saja apa yang mau mba katakan, mas Harun mendengarnya!", kata Aini.


Perempuan itu kembali menghapus air matanya. Dia mencari keberadaan Harun tapi tentu saja ia tak melihatnya.


"Aku minta maaf mas Harun! Aku minta maaf! Harusnya aku tak memaksa mu untuk menuruti semua mauku mas! Maafkan aku???!!", perempuan itu luruh ke lantai.


Harun mengatakan pada Aini, dia memaafkan kekasihnya. Dan ia minta, kekasihnya selalu memakai hadiah terakhir darinya. Dan dia bisa melanjutkan hidupnya.


Aini pun menyampaikan apa yang Harun katakan. Perempuan itu semakin tergugu. Usai menyampaikan amanat Harun, Aini pun berpamitan.


Ikbal meraih bahu Aini, lalu berjalan beriringan menuju ke parkiran.


"Kalau kamu masih belum bisa ke rumah mama, aku antar pulang saja ke kostan ya!", kata Ikbal setelah keduanya di dalam mobil.


Tapi penampakan Ilma di jok belakang, membuat Aini iba.


"Kita kerumah mama kamu mas. Lebih cepat lebih baik, Ilma menunggu kita mas!", jawab Aini. Ikbal tersenyum dan mengangguk. Mereka pun meluncur ke rumah utama milik keluarga Ikbal.